Harga Bitcoin kembali menguat tajam dan sempat menembus level US$69.900 pada Kamis (26/2/2026), naik lebih dari 8 persen setelah sebelumnya sempat turun signifikan ke bawah US$62.000. Kenaikan ini menjadi salah satu pemulihan harian terkuat dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin bergerak naik dari kisaran US$64.200 hingga menyentuh level tertinggi harian di US$69.953 sebelum terkoreksi tipis ke area US$68.400 saat artikel ini ditulis. Lonjakan tersebut turut mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin kembali ke sekitar US$1,4 triliun, dengan volume perdagangan harian melonjak 26 persen.

Tidak hanya Bitcoin, mayoritas altcoin juga ikut menguat. Ethereum (ETH) kembali ke level US$2.000 dengan kenaikan 7 persen. XRP (XRP) dan BNB (BNB) naik moderat di kisaran 3 persen hingga 5 persen, sementara Solana (SOL) menguat sekitar 7 persen. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto melonjak sekitar 8 persen dan kembali mendekati US$2,5 triliun.
Baca juga: Modal Rp1 Juta, Solo Miner Bitcoin Ini Raih Imbalan Blok Rp3 Miliar
Sentimen Ekonomi AS Membaik, Pasar Kripto Ikut Terdorong
Dari sisi makroekonomi, pasar merespons positif pidato kenegaraan Presiden AS Donald Trump yang menyebut 12 bulan pertama kepemimpinannya sebagai “pemulihan ekonomi terbesar sepanjang sejarah.” Ia menyoroti penurunan suku bunga kredit perumahan serta inflasi inti yang turun 1,7 persen dalam tiga bulan terakhir 2025.
Pelaku pasar menilai pernyataan tersebut sebagai sinyal berkurangnya ketidakpastian kebijakan dalam jangka pendek. Sebelumnya, volatilitas terkait tarif perdagangan dan dinamika Mahkamah Agung sempat memicu kekhawatiran di pasar keuangan.
Ketika ketidakpastian mereda, investor cenderung kembali masuk ke aset berisiko seperti saham dan aset kripto. Inilah yang turut mendorong kenaikan harga Bitcoin dan altcoin dalam beberapa hari terakhir.
Baca juga: Indeks Kripto Kembali Anjlok, Bitcoin Terseret ke US$64.000 di Tengah Tekanan Global
Arus Dana ETF Kembali Positif
Faktor lain yang memperkuat reli adalah kembalinya arus dana ke produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat.
Data menunjukkan ETF Bitcoin mencatat arus masuk bersih sebesar US$257,7 juta atau sekitar Rp4,1 triliun pada Selasa (24/2/2026). Angka ini mengakhiri tren lima pekan berturut-turut arus keluar dana yang sebelumnya mencapai total US$3,8 miliar atau sekitar Rp60,8 triliun.

Fidelity menjadi penyumbang terbesar dengan aliran dana sekitar US$83 juta atau Rp1,3 triliun. Sementara itu, BlackRock melalui produk iShares Bitcoin Trust mencatat tambahan hampir US$79 juta atau sekitar Rp1,26 triliun.
Masuknya kembali dana institusional ini memberi sinyal bahwa investor besar mulai kembali membangun posisi setelah periode tekanan harga sebelumnya.
Baca juga: Data Ungkap Investor Lepas 25.000 BTC Lewat ETF Bitcoin
Gugatan Jane Street dan Spekulasi Tekanan Jual Rutin
Kenaikan harga juga bertepatan dengan munculnya spekulasi di media sosial kripto terkait gugatan terhadap perusahaan trading global Jane Street.
Perusahaan tersebut digugat oleh administrator likuidasi Terraform Labs atas dugaan penggunaan informasi non-publik dalam perdagangan yang berkaitan dengan runtuhnya ekosistem Terra-Luna pada 2022.
Sejumlah analis berspekulasi bahwa sebelumnya terdapat pola tekanan jual rutin sekitar pukul 10 pagi waktu AS yang diduga berasal dari aktivitas algoritmik. Setelah kabar gugatan muncul, sebagian pelaku pasar mengklaim pola tekanan jual tersebut tidak lagi terlihat.
Meski belum ada bukti publik yang menunjukkan Jane Street secara sistematis menjual Bitcoin pada waktu tertentu setiap hari, narasi ini cepat menyebar dan ikut memperkuat sentimen positif di kalangan investor ritel.
Analis ETF Bloomberg, Eric Balchunas, menyebut sentimen pasar saat ini terasa seperti “ancaman yang hilang.”
Namun ia juga mengingatkan bahwa pertanyaan pentingnya adalah apakah hilangnya tekanan jual tersebut cukup kuat untuk menopang reli dalam jangka panjang.
Baca juga: Raksasa Wall Street AS Dituding Lakukan Insider Trading Jelang Kolapsnya Ekosistem Terra
