miner bitcoin

Modal Rp1 Juta, Solo Miner Bitcoin Ini Raih Imbalan Blok Rp3 Miliar

Seorang miner Bitcoin berhasil meraih imbalan blok bernilai lebih dari US$200.000 atau sekitar Rp3,3 miliar hanya dengan menyewa daya komputasi senilai US$75 atau sekitar Rp1,3 juta. Kejadian langka ini terjadi pada Selasa (24/2/2026) dan langsung menyita perhatian komunitas kripto karena peluangnya yang sangat kecil.

Miner tersebut diketahui menyewa kapasitas minimum sebesar 1 Petahash per detik (PH/s) melalui marketplace milik Braiins. Platform ini memungkinkan pengguna menyewa kekuatan komputasi untuk menambang Bitcoin tanpa harus membeli atau mengoperasikan mesin mining sendiri.

Secara sederhana, semakin besar daya komputasi yang digunakan, semakin besar pula peluang untuk menemukan satu blok Bitcoin dan mendapatkan imbalannya. Namun, dengan kapasitas 1 PH/s, peluangnya tetap sangat tipis.

Baca juga: Miner Bitcoin Ini Pindahkan 1.318 BTC Bernilai Rp1,5 Triliun di Tengah Tekanan Harga

Keuntungan di Tengah Minimnya Peluang

Berdasarkan estimasi SoloChance.com, dengan tingkat hash rate jaringan saat ini, peluang menemukan satu blok dengan kapasitas tersebut hanya sekitar satu banding 1,1 juta. Jika dihitung secara statistik, keberhasilan seperti ini rata-rata baru terjadi sekali dalam sekitar 21 tahun penambangan.

Peluang keberhasilan menambang satu blok Bitcoin dengan tingkat hash rate 1 PH/dtk. Sumber: SoloChance.com

Dalam praktiknya, sebagian besar blok Bitcoin ditemukan oleh mining pool besar. Mining pool adalah kelompok penambang yang menggabungkan daya komputasi dalam jumlah sangat besar untuk meningkatkan peluang memecahkan teka-teki kriptografi yang menjadi dasar sistem Bitcoin. Karena itu, aktivitas solo mining atau menambang sendirian kerap disamakan dengan “bermain lotre”.

Meski jarang, kemenangan solo mining tetap terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Pada Januari 2026, dua penambang individu masing-masing memperoleh imbalan lebih dari 3,1 BTC yang saat itu bernilai sekitar US$300.000 atau sekitar Rp5,05 miliar.

Pada Desember 2025, penambang lain juga berhasil mengamankan hadiah lebih dari US$282.000 atau sekitar Rp4,75 miliar berdasarkan harga Bitcoin saat itu.

Keberhasilan seperti ini semakin sulit dicapai karena hash rate jaringan Bitcoin terus meningkat. Hash rate adalah total kekuatan komputasi yang digunakan seluruh jaringan untuk memproses dan mengamankan transaksi.

Data Bitinfo menunjukkan bahwa rata-rata hash rate harian kini telah melampaui 1,1 Zettahash per detik (ZH/s). Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, total daya komputasi jaringan berada di kisaran 730 Exahash per detik (EH/s), atau sekitar 61 persen dari kapasitas saat ini.

Kenaikan hash rate ini menandakan persaingan di industri penambangan semakin ketat. Di sisi lain, lanskap bisnis penambangan juga mulai berubah. Sejumlah perusahaan penambangan publik di Amerika Utara mengalami penurunan pangsa komputasi pada 2025.

Sebagian penurunan tersebut dikaitkan dengan pergeseran fokus ke kebutuhan komputasi untuk akal imitasi (AI), yang permintaannya meningkat pesat.

Beberapa perusahaan bahkan mulai meninjau ulang strategi bisnisnya. Bitfarms dilaporkan menghentikan operasi penambangan Bitcoin secara bertahap. Sementara itu, Riot Platforms didorong investor untuk memaksimalkan peluang di sektor pusat data AI dan komputasi berkinerja tinggi.

Baca juga: 15 Situs Mining Crypto Gratis