Intercontinental Exchange (ICE), perusahaan induk dari New York Stock Exchange (NYSE), mengumumkan investasi strategis di OKX, salah satu exchange kripto terbesar di dunia dengan lebih dari 120 juta pengguna. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara infrastruktur keuangan tradisional dan ekosistem aset digital.
Berdasarkan keterangan resmi, investasi tersebut menilai OKX dengan valuasi sekitar US$25 miliar atau setara Rp423 triliun. Dalam kesepakatan ini, ICE juga akan menempati kursi di Dewan Direksi OKX.
Kolaborasi ini mencerminkan meningkatnya minat institusi keuangan global terhadap industri aset kripto. Di sisi lain, kemitraan tersebut juga membuka peluang integrasi yang lebih luas antara pasar keuangan tradisional dan teknologi blockchain.
Ketua dan CEO Intercontinental Exchange, Jeffrey C. Sprecher, mengatakan bahwa kerja sama ini akan memperluas akses investor global ke pasar teregulasi milik ICE.
“Hubungan strategis kami dengan OKX akan memperluas akses ritel global ke pasar teregulasi ICE dan mempercepat pengembangan infrastruktur keuangan berbasis blockchain serta aset yang ditokenisasi,” ujar Sprecher.
Baca juga: OKX Rilis Proof of Reserves, Total Cadangan Tembus Rp513 Triliun
Kemitraan Berlandaskan Empat Pilar
Kerja sama antara OKX dan ICE merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk menggabungkan infrastruktur pasar modal tradisional dengan kecepatan serta efisiensi teknologi blockchain. Kolaborasi ini dibangun di atas empat pilar utama.
- Saham AS bertokenisasi di platform OKX: OKX berencana menghadirkan akses ke saham Amerika Serikat yang ditokenisasi, termasuk produk derivatif yang tercatat di NYSE. Produk ini ditargetkan mulai tersedia pada semester kedua 2026 sehingga pengguna dapat memperdagangkan representasi digital saham secara lebih fleksibel.
- Data harga kripto OKX untuk produk futures ICE: ICE akan melisensikan data harga spot kripto dari OKX untuk mendukung pengembangan produk futures kripto baru di platform ICE.
- Pengembangan sistem kliring dan manajemen risiko: Kedua perusahaan akan bekerja sama membangun solusi kliring serta manajemen risiko berstandar institusional guna meningkatkan keamanan dan efisiensi perdagangan aset digital.
- Infrastruktur custody multi-chain dan wallet digital: Kolaborasi ini juga mencakup pengembangan infrastruktur penyimpanan aset digital berbasis multi-chain serta sistem wallet digital generasi berikutnya untuk mendukung kebutuhan investor global.
Baca juga: OKX Hadirkan Equity Perpetuals, Fitur Trading Saham Global 24 Jam
NYSE Siapkan Platform Sekuritas Bertokenisasi
Sejalan dengan investasi tersebut, NYSE juga mengumumkan pengembangan Platform Sekuritas Bertokenisasi. Inisiatif ini bertujuan membawa saham dan ETF yang terdaftar di exchange ke dalam jaringan blockchain.
Platform ini dirancang untuk menghadirkan sejumlah inovasi dalam perdagangan saham, di antaranya:
- Perdagangan 24/7: Investor dapat memperdagangkan saham AS kapan saja tanpa terikat jam perdagangan tradisional, yang menjadi keuntungan bagi investor di kawasan Asia-Pasifik.
- Perdagangan saham fraksional: Investor dapat membeli sebagian kecil saham perusahaan besar dengan nominal investasi yang lebih fleksibel.
- Penyelesaian transaksi instan: Teknologi blockchain memungkinkan penyelesaian transaksi secara real-time, menggantikan sistem tradisional T+2.
- Pendanaan menggunakan stablecoin: Pengguna dapat menggunakan stablecoin untuk mendanai posisi perdagangan sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada sistem perbankan konvensional.
Platform ini akan menggabungkan mesin pencocokan perdagangan Pillar milik NYSE dengan sistem pasca-perdagangan berbasis blockchain. Pendekatan ini diharapkan tetap menjaga keandalan infrastruktur bursa tradisional sekaligus memanfaatkan efisiensi teknologi blockchain.
Sejumlah institusi keuangan besar seperti BNY Mellon dan Citi juga telah bergabung untuk mendukung sistem deposito bertokenisasi melalui lembaga kliring ICE.
Baca juga: OKX Rilis Proof of Reserves Desember 2025, Pertahankan Rasio Cadangan di Atas 100 Persen
Pengguna OKX Berpotensi Akses Saham AS
Melalui kolaborasi ini, pengguna OKX di masa depan berpotensi memperoleh akses yang lebih luas ke pasar saham Amerika Serikat.
Beberapa manfaat yang ditawarkan antara lain akses langsung ke saham perusahaan AS yang terdaftar di NYSE melalui platform OKX, investasi saham secara fraksional dengan nominal lebih fleksibel, perdagangan saham selama 24 jam sehari, serta penyelesaian transaksi instan melalui teknologi blockchain.
Selain itu, pengguna juga dapat memanfaatkan stablecoin untuk mendanai posisi perdagangan, sehingga mempermudah akses tanpa harus bergantung pada sistem perbankan tradisional.
Inovasi ini dinilai dapat membuka peluang baru bagi investor ritel global yang sebelumnya memiliki keterbatasan dalam mengakses pasar ekuitas AS.
Baca juga: OKX Umumkan Upgrade Tokenomics OKB, Harga Meroket 160%
Langkah Strategis ICE di Industri Blockchain
Investasi ICE di OKX juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mengembangkan infrastruktur keuangan berbasis blockchain.
Pada Januari 2026, ICE mengumumkan rencana pengembangan sistem perdagangan sekuritas bertokenisasi berbasis blockchain. Sebelumnya, pada November 2025, ICE juga menginvestasikan US$2 miliar atau sekitar Rp33,8 triliun ke platform pasar prediksi Polymarket, yang saat itu memiliki valuasi sekitar US$9 miliar atau Rp152 triliun.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan komitmen ICE untuk memperluas perannya sebagai operator utama dalam ekosistem pasar keuangan berbasis on-chain.
Pendiri dan CEO OKX, Star Xu, menilai kolaborasi ini dapat memperkuat struktur pasar keuangan global.
“Kemitraan ini mempertemukan dua operator mesin pencocokan berkinerja tinggi dan buku order yang transparan. Hal ini membantu membangun struktur pasar yang lebih andal serta menjembatani perdagangan aset digital dan ekuitas,” kata Star Xu.
Baca juga: 7 CEX Kripto Terbesar di Dunia
