ethereum

CryptoQuant prediksi Ethereum Bisa Turun ke US$1.500

CryptoQuant memperkirakan Ethereum (ETH) masih berpotensi mengalami penurunan harga meskipun aktivitas di jaringannya terus meningkat. Fenomena ini disebut sebagai “adoption paradox”, yaitu kondisi ketika penggunaan jaringan meningkat tetapi tidak diikuti dengan kenaikan harga asetnya.

Mengutip The Block pada Kamis (12/3/2026), Head of Research CryptoQuant, Julio Moreno, menyatakan bahwa harga ETH berpotensi turun hingga sekitar US$1.500 atau sekitar Rp25,37 juta jika tren pasar bearish saat ini berlanjut.

Menurut Moreno, skenario tersebut bisa terjadi pada akhir kuartal ketiga atau awal kuartal keempat tahun ini apabila kondisi pasar tidak menunjukkan perbaikan signifikan.

Baca juga: Analis Sebut Ethereum Terancam Turun ke US$1.500, Karena Faktor Ini!

Paradoks Adopsi di Jaringan Ethereum

CryptoQuant mencatat bahwa jumlah alamat aktif harian di jaringan Ethereum baru saja mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Angka ini bahkan melampaui aktivitas yang terjadi pada masa bull market kripto tahun 2021.

Namun di sisi lain, harga ETH justru mengalami penurunan lebih dari 50 persen dari puncak harga pada siklus pasar terbaru. Kondisi ini berbeda dengan siklus sebelumnya, di mana peningkatan aktivitas jaringan biasanya berjalan seiring dengan kenaikan harga ETH.

Tidak hanya jumlah pengguna yang meningkat, aktivitas yang dihasilkan oleh smart contract dan berbagai protokol otomatis juga mengalami lonjakan. CryptoQuant mencatat bahwa jumlah internal contract calls, yakni eksekusi transaksi otomatis di dalam aplikasi terdesentralisasi, mencapai level tertinggi bulan lalu.

Peningkatan aktivitas ini sebagian besar didorong oleh pertumbuhan sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi), penggunaan stablecoin, serta ekspansi jaringan Layer 2 yang dibangun di atas Ethereum.

Meski demikian, hubungan historis antara aktivitas smart contract dan pergerakan harga ETH kini dinilai semakin melemah.

CryptoQuant menjelaskan bahwa pada siklus pasar sebelumnya, aktivitas transaksi berbasis kontrak biasanya memiliki korelasi positif yang jelas dengan harga ETH. Ketika aktivitas meningkat, harga cenderung ikut naik. Namun pola tersebut kini tidak lagi terlihat sekuat sebelumnya.

Baca juga: 38 Persen Altcoin Dekati Harga Terendah, Lebih Parah dari Crash FTX

Tekanan Jual ETH Masih Tinggi

CryptoQuant menilai bahwa aliran dana menuju bursa kripto saat ini menjadi indikator yang lebih relevan untuk membaca arah harga ETH dibandingkan metrik aktivitas jaringan.

Hal ini karena aliran masuk aset ke bursa sering kali mencerminkan potensi tekanan jual yang akan terjadi di pasar.

Data CryptoQuant menunjukkan bahwa rasio aliran masuk ETH ke bursa relatif lebih tinggi dibandingkan Bitcoin. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan jual terhadap ETH saat ini lebih kuat dibandingkan BTC.

Selain itu, CryptoQuant juga menyoroti melemahnya permintaan investasi terhadap Ethereum. Hal ini terlihat dari perubahan tahunan pada metrik realized capitalization Ethereum yang baru-baru ini berubah menjadi negatif.

Metrik tersebut mengukur jumlah modal bersih yang masuk atau keluar dari suatu aset kripto. Ketika nilainya negatif, hal itu menandakan bahwa lebih banyak modal yang keluar dari pasar dibandingkan yang masuk.

Dengan kata lain, meskipun aktivitas penggunaan jaringan Ethereum terus meningkat, arus modal justru menunjukkan kecenderungan keluar dari ekosistem tersebut.

Moreno menegaskan bahwa Ethereum membutuhkan masuknya kembali arus modal baru serta penurunan aliran dana ke bursa agar dapat keluar dari fase bearish saat ini.

Pada saat laporan ini ditulis, harga ETH diperdagangkan di kisaran US$2.122, naik sekitar 3 persen dalam 24 jam terakhir.

Baca juga: Trader Ethereum Rugi Rp3,7 Triliun Pasca Likuidasi Kripto Besar-besaran