ethereum

Analis Sebut Ethereum Terancam Turun ke US$1.500, Karena Faktor Ini!

Ethereum terancam melanjutkan tren penurunan terburuk dalam sejarahnya. Setelah melemah selama enam bulan berturut-turut dan anjlok hampir 40 persen dalam sebulan terakhir, analis Bitwise memperingatkan harga ETH berpotensi turun hingga US$1.500.

Mengutip laporan DL News, Max Shannon, Senior Research Associate di Bitwise, menilai harga Ethereum berisiko turun sekitar 22 persen hingga menyentuh level US$1.500. Jika tekanan berlanjut hingga Maret, ETH berpotensi mencatatkan tujuh bulan penurunan berturut-turut, mendekati rekor terburuk yang pernah terjadi pada periode Mei hingga November 2018.

Baca juga: Sentimen Kripto Masuk Fase Ketakutan Ekstrem di Tengah Koreksi Bitcoin 46% dari Rekor

Tekanan dari Bitcoin Perbesar Risiko Penurunan

Shannon menjelaskan, selama belum ada katalis makro maupun faktor spesifik yang mampu memulihkan sentimen pasar, risiko penurunan masih terbuka. Menurutnya, Ethereum saat ini bergerak sangat bergantung pada arah Bitcoin. Ketika Bitcoin terkoreksi 10 persen, Ethereum cenderung mengalami penurunan yang lebih dalam karena karakteristiknya sebagai aset dengan volatilitas lebih tinggi.

Ia menyebut ETH diperdagangkan sebagai aset dengan korelasi kuat dan beta tinggi terhadap Bitcoin. Artinya, setiap pergerakan BTC cenderung diperbesar oleh Ethereum, baik saat naik maupun turun. Dalam kondisi pasar yang masih didominasi tekanan jual, situasi tersebut membuat ETH lebih rentan terhadap koreksi lanjutan.

Padahal secara fundamental, Ethereum berada dalam posisi yang relatif solid. Industri aset kripto tengah memasuki fase kejelasan regulasi di berbagai negara. Sejumlah manajer investasi juga telah meluncurkan ETF spot Ethereum di Amerika Serikat. Selain itu, sektor stablecoin dengan valuasi lebih dari US$300 miliar masih sangat bergantung pada jaringan Ethereum sebagai infrastruktur utama.

Meski demikian, sentimen positif tersebut belum mampu diterjemahkan menjadi kinerja harga yang kuat. Investor dinilai lebih fokus pada pergerakan teknikal dan tren jangka pendek dibandingkan perkembangan fundamental yang ada.

Di sisi lain, terdapat sedikit sinyal harapan dari pasar derivatif. Shannon mencatat bahwa posisi opsi dengan taruhan bearish ekstrem mulai mereda. Saat ini terdapat konsentrasi kontrak opsi di kisaran US$2.100 hingga US$2.400.

Jika Ethereum mampu kembali ke rentang tersebut, yang berarti reli sekitar 10 persen hingga 20 persen, para dealer opsi berpotensi terdorong untuk membeli ETH sebagai bagian dari strategi lindung nilai mereka.

Namun demikian, untuk membalikkan tren penurunan secara konsisten, pasar tetap membutuhkan katalis yang jelas. Shannon menilai pengesahan Clarity Act, kebangkitan kembali strategi cadangan aset digital, serta pembelian ETF yang menyerap lebih dari 100% suplai ETH baru dapat menjadi faktor pendorong yang signifikan bagi pemulihan harga Ethereum.

Baca juga: Trader Ethereum Rugi Rp3,7 Triliun Pasca Likuidasi Kripto Besar-besaran