bitcoin

Bitcoin Ungguli Emas dan Minyak di Tengah Perang AS–Iran

Harga Bitcoin menunjukkan kinerja lebih kuat dibanding sejumlah aset tradisional di tengah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Dalam beberapa hari sejak konflik dimulai, Bitcoin bahkan berhasil mengungguli emas dan minyak.

Serangan udara pertama dalam operasi militer yang disebut Operation Epic Fury dimulai pada 28 Februari 2026 pukul 13.15 WIB setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui operasi tersebut. Pasar sempat bereaksi negatif di awal, dengan harga Bitcoin turun dari sekitar US$65.000 ke kisaran US$63.000.

Namun tekanan tersebut hanya berlangsung singkat. Dalam beberapa hari berikutnya, Bitcoin justru berbalik menguat dan naik hingga kisaran US$74.000, atau sekitar 13% lebih tinggi dari level sebelum serangan.

Kenaikan tersebut membuat Bitcoin mencatat performa lebih baik dibanding beberapa aset yang biasanya diuntungkan saat konflik geopolitik meningkat.

Baca juga: Bitcoin Kembali Sentuh US$74.000, Ini Pendorongnya

Harga Minyak Ikut Naik

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Sejak dimulainya serangan udara tersebut, harga minyak naik sekitar 10,4% dari US$67,29 menjadi sekitar US$74,31 per barel.

Lonjakan harga minyak terjadi karena meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global. Iran sebelumnya mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya.

Sejak konflik memanas, lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut dilaporkan turun hingga sekitar 81%. Sejumlah perusahaan pelayaran mulai menghindari jalur tersebut karena meningkatnya risiko keamanan.

Baca juga: Bitcoin Tunjukkan Sinyal Bottom, Analis Bandingkan dengan Krisis FTX

Emas Justru Melemah

Berbeda dengan ekspektasi pasar, emas yang biasanya menjadi aset lindung nilai saat krisis justru mengalami penurunan setelah lonjakan awal.

Sejak perang AS–Iran dimulai, harga emas tercatat turun sekitar 3%. Sementara itu, perak mengalami penurunan yang lebih tajam setelah sempat melonjak karena kekhawatiran pasar terhadap konflik.

Perbedaan performa antara Bitcoin dan emas sejak konflik dimulai juga terlihat dalam grafik berikut.

Perbandingan pergerakan harga Bitcoin (oranye) dan emas (biru) sejak dimulainya konflik AS–Iran pada 28 Februari 2026. Sumber: Protos

Indeks saham S&P 500 juga relatif stagnan dan hanya turun sekitar 0,1% dalam periode yang sama.

Baca juga: Studi Ungkap Pilihan Uang Favorit AI, Bitcoin Unggul dari Mata Uang Fiat

Performa Bitcoin Sepanjang Tahun Masih Tertinggal

Meski mencatat kinerja kuat selama konflik terbaru, performa Bitcoin sepanjang 2026 masih tertinggal dibanding emas.

Sejak awal tahun, harga Bitcoin tercatat turun sekitar 16%. Sebaliknya, harga emas justru naik sekitar 18% dalam periode yang sama.

Data ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek Bitcoin mampu pulih lebih cepat saat terjadi gejolak pasar, tetapi dalam periode lebih panjang logam mulia masih menunjukkan kinerja yang lebih stabil sebagai aset lindung nilai.

Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan memicu ketidakpastian ekonomi global, pergerakan aset seperti Bitcoin, emas, dan minyak diperkirakan akan semakin dipengaruhi oleh sentimen geopolitik serta perubahan kondisi makroekonomi dunia.

Baca juga: Konflik AS-Iran Memanas, Begini Dampaknya ke Harga Bitcoin