Bitcoin kembali menghadapi tekanan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, sejumlah analis menilai fase terburuk dari penurunan harga Bitcoin kemungkinan sudah terlewati. Beberapa indikator teknikal bahkan menunjukkan pola yang mirip dengan kondisi pasar saat runtuhnya exchange kripto FTX pada 2022.
Laporan terbaru dari K33 menyebutkan bahwa sejumlah indikator penting kini berada di level yang terakhir terlihat ketika pasar kripto mengalami gejolak besar pada 2022. Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa Bitcoin mungkin sedang memasuki fase pembentukan titik terendah harga atau market bottom setelah penurunan panjang dalam beberapa bulan terakhir.
Para analis K33 juga menyoroti bahwa di tengah ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah, Bitcoin justru menunjukkan stabilitas relatif dibandingkan beberapa waktu sebelumnya. Hal ini menjadi sinyal bahwa tekanan jual terbesar kemungkinan sudah terjadi.
“Fase terburuk kemungkinan sudah berlalu; sekarang pasar hanya perlu menunggu,” tulis analis K33 dalam laporan mereka, dikutip dari Decrypt.
Meski begitu, mereka mengingatkan bahwa proses pembentukan titik terendah harga Bitcoin biasanya tidak terjadi secara instan. Dalam banyak siklus sebelumnya, fase ini sering berlangsung perlahan dan membutuhkan kesabaran dari pelaku pasar.
Baca juga: Studi Ungkap Pilihan Uang Favorit AI, Bitcoin Unggul dari Mata Uang Fiat
Harga Bitcoin Mulai Pulih, Namun Masih Jauh dari Rekor Tertinggi
Menurut data CoinGecko pada Kamis (5/3/2026) pagi, Bitcoin mencatat pemulihan signifikan ke level US$74.000 setelah sebelumnya mengalami penurunan hingga ke level US$62.000. Meski mengalami sedikit koreksi, aset kripto terbesar di dunia tersebut masih mampu bertahan di atas US$72.600.
Adapun, harga saat ini masih terlampau 42 persen dibandingkan rekor tertinggi Bitcoin di US$126.000 yang tercapai pada Oktober lalu.

Head of Research K33, Vetle Lunde, menyoroti beberapa indikator teknikal penting yang mendukung kemungkinan terbentuknya titik terendah pasar. Salah satunya adalah indikator Relative Strength Index (RSI) mingguan Bitcoin yang pekan lalu turun hingga 26,84, level terendah sejak Juli 2022.
RSI merupakan indikator momentum yang mengukur kecepatan serta besarnya perubahan harga. Ketika indikator ini berada di bawah angka 30, pasar biasanya dianggap berada dalam kondisi oversold, yaitu tekanan jual yang sangat kuat.
Kondisi serupa sebelumnya terjadi pada 2022 ketika sektor pinjaman kripto mengalami krisis besar. Peristiwa tersebut kemudian memicu runtuhnya exchange kripto FTX, yang pada akhirnya menjadi titik terendah harga Bitcoin pada siklus pasar saat itu.
Baca juga: Bitcoin Kembali Sentuh US$74.000, Ini Pendorongnya
Volume Perdagangan Tinggi Ingatkan Pada Krisis 2022
Selain indikator RSI, Lunde juga menyoroti lonjakan aktivitas perdagangan Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir. Ia mencatat bahwa Bitcoin mencatat dua hari berturut-turut dengan volume perdagangan yang mencapai lebih dari 95 persen dari rekor historisnya.
Fenomena seperti ini sangat jarang terjadi selama periode bearish market. Dalam sejarah pasar kripto, kondisi tersebut sebelumnya hanya pernah terjadi satu kali, yaitu ketika FTX mengajukan kebangkrutan pada akhir 2022.
Indikasi lain datang dari pasar derivatif kripto. Lunde menjelaskan bahwa banyak pelaku pasar saat ini bersedia membayar premi yang cukup tinggi untuk mengambil posisi bearish, terutama pada kontrak futures perpetual.
Kontrak ini merupakan instrumen derivatif yang dirancang untuk menjaga harga tetap mendekati harga spot Bitcoin melalui mekanisme pembayaran periodik antara trader.
Di pasar opsi, indikator yang dikenal sebagai skew, yang membandingkan biaya opsi jual (put) dengan opsi beli (call), juga melonjak tajam. Level tersebut sebelumnya hanya terlihat saat terjadi kejatuhan pasar besar pada 2022, termasuk runtuhnya ekosistem Terra dan kebangkrutan FTX.
Menurut Lunde, lonjakan ekstrem dalam indikator stres pasar seperti ini sering kali justru muncul menjelang terbentuknya titik dasar harga.
Baca juga: Miner Bitcoin Terbesar Pertimbangkan Jual Cadangan Bitcoin
Sinyal Bottom Mulai Terlihat, Namun Risiko Tetap Ada
Meski berbagai indikator menunjukkan sinyal yang cukup positif, laporan K33 menegaskan bahwa tidak ada indikator yang sepenuhnya akurat dalam memprediksi arah pasar.
Namun secara historis, ketika mayoritas pelaku pasar bertaruh pada satu arah yang sama, misalnya memperkirakan harga akan terus turun, Bitcoin justru sering bergerak ke arah yang berlawanan.
Lunde juga menyebut bahwa gelombang penurunan harga Bitcoin kali ini relatif lebih tertata dibandingkan kekacauan pasar pada 2022. Meski begitu, ia menilai sikap defensif pelaku pasar saat ini tergolong tidak biasa.
Menurutnya, kondisi seperti ini dalam sejarah sering kali bertepatan dengan terbentuknya titik terendah global di pasar kripto.
“Bitcoin memiliki kecenderungan untuk bergerak di luar ekspektasi banyak orang,” ujar Lunde.
Dengan berbagai indikator yang menunjukkan tekanan jual ekstrem serta sikap defensif yang kuat di pasar derivatif, sejumlah analis kini melihat kemungkinan bahwa fase koreksi terbesar Bitcoin sudah mendekati akhir. Namun seperti siklus sebelumnya, proses pemulihan pasar kemungkinan tetap berlangsung secara bertahap.
Baca juga: AS Pindahkan Bitcoin Senilai Rp389 Juta dari Wallet Sitaan
