Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, kembali mengalami kenaikan harga signifikan mencapai level US$74.000 setelah sempat bergerak stagnan selama beberapa minggu terakhir.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Kamis (5/3/2026) pagi, harga Bitcoin tercatat naik sekitar 6 persen dalam 24 jam terakhir. BTC bergerak dari level sekitar US$68.000 hingga sempat menyentuh titik tertinggi harian di US$74.000, sebelum terkoreksi ke kisaran US$72.900 saat artikel ini ditulis.

Kenaikan ini terjadi setelah harga Bitcoin selama beberapa minggu berada di bawah level psikologis US$70.000. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto mulai kembali meningkat di tengah kondisi pasar global yang masih diliputi ketidakpastian.
Tidak hanya Bitcoin, sejumlah aset kripto besar lainnya juga ikut mengalami penguatan. Ethereum (ETH) tercatat naik lebih dari 8 persen dan sempat menyentuh level di atas US$2.200, yang menjadi harga tertinggi dalam satu bulan terakhir sebelum mengalami sedikit koreksi.
Sementara itu, beberapa altcoin juga menunjukkan performa yang cukup kuat. BNB (BNB) dan XRP (XRP) mencatat kenaikan masing-masing 3 persen hingga 4 persen, sementara Dogecoin (DOGE) melonjak lebih dari 9 persen dan Zcash (ZEC) naik sekitar 13 persen.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto terpantau naik hingga 6 persen di kisaran US$2,46 triliun.
Sentimen pasar kripto juga mulai menunjukkan pemulihan. Hal ini terlihat dari indeks Fear and Greed yang digunakan untuk mengukur psikologi pasar. Indeks tersebut naik ke skor 22 dari sebelumnya di level 10. Meski demikian, angka ini masih mencerminkan kondisi “ketakutan ekstrem” di kalangan pelaku pasar.

Baca juga: Miner Bitcoin Terbesar Pertimbangkan Jual Cadangan Bitcoin
Faktor Geopolitik dan Ekonomi Global
Meski sentimen pasar kripto mulai membaik, kondisi ekonomi global masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk potensi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz, turut meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global. Gangguan pada pasokan energi dapat memengaruhi inflasi, kepercayaan industri, hingga selera risiko investor.
Namun demikian, sejumlah analis menilai ketahanan harga Bitcoin di tengah situasi tersebut sebagai sinyal bahwa minat terhadap aset berisiko mulai kembali muncul, atau yang sering disebut sebagai risk-on sentiment.
Jika tren positif ini terus berlanjut, Bitcoin berpotensi kembali menguji level harga yang lebih tinggi dalam beberapa minggu ke depan.
Baca juga: Beralih ke AI, Miner Bitcoin AS Siap Jual Hampir Seluruh BTC Miliknya
Aliran Dana ETF Bitcoin Picu Optimisme Pasar
Salah satu faktor utama lainnya yang mendorong kenaikan harga Bitcoin adalah meningkatnya aliran dana ke produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot.
Dalam pekan ini saja, tercatat lebih dari US$680 juta dana baru masuk ke ETF Bitcoin yang diperdagangkan di Amerika Serikat, menurut data SoSoValue. Arus dana tersebut menunjukkan bahwa investor institusional mulai kembali masuk ke pasar kripto.

Mengutip The Block, Nic Puckrin, Co-Founder Coin Bureau menyebut Bitcoin bahkan menunjukkan kinerja yang lebih kuat dibanding beberapa aset tradisional.
“Bitcoin mampu bertahan lebih baik dibandingkan Nasdaq, S&P 500, bahkan emas selama krisis pasar terakhir. Perbedaan kinerja ini merupakan sinyal positif bagi pasar kripto,” ujarnya.
Karena itu, sebagian investor mulai melihat Bitcoin sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global, termasuk ketegangan geopolitik dan fluktuasi ekonomi dunia.
Baca juga: Iran Catat Outflow Kripto 700 Persen Imbas Serangan AS
Breakout Teknikal Dorong Harga BTC
Dari sisi teknikal, Bitcoin juga berhasil menembus beberapa level penting yang menjadi perhatian para trader. Dilansir dari Cointelegraph, dalam sesi perdagangan Asia, harga BTC berhasil melampaui garis tren utama serta indikator 200-week exponential moving average (EMA), yang sering digunakan untuk melihat tren jangka panjang.

Selain itu, Bitcoin juga kembali bergerak di atas level US$69.000, yang sebelumnya merupakan rekor harga tertinggi pada siklus pasar tahun 2021.
Sejumlah analis menilai pergerakan ini dapat menjadi sinyal berakhirnya fase akumulasi panjang yang terjadi selama beberapa bulan terakhir.
Jika momentum ini terus berlanjut, beberapa trader bahkan memprediksi Bitcoin berpotensi menuju rekor harga tertinggi baru dalam siklus pasar berikutnya, dengan kemungkinan altcoin mengalami kenaikan yang lebih besar.
Baca juga: 7 Prediksi Harga Bitcoin di 2026
