bitcoin

Konflik AS-Iran Memanas, Begini Dampaknya ke Harga Bitcoin

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian pasar global. Investor kini menilai apakah konflik ini akan tetap terbatas atau justru meluas dan berdampak pada ekonomi dunia.

Di tengah situasi tersebut, pergerakan harga Bitcoin ikut menjadi sorotan. Lonjakan harga minyak dan emas memicu sentimen risk-off, yaitu kondisi ketika investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman.

Bitcoin sejauh ini masih mampu menyerap dampak eskalasi konflik Timur Tengah. Meski sempat terjadi lonjakan volatilitas pada kontrak berjangka Amerika Serikat, pasar kripto tidak mengalami tekanan sebesar pasar saham.

Baca juga: Bitcoin Bergerak Naik Usai Kabar Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran

Eskalasi Konflik dan Dampaknya ke Pasar Global

Serangan yang dipimpin AS terhadap target di Iran memicu aksi balasan berupa serangan rudal dan drone. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas, terutama setelah muncul laporan bahwa kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran selama 36 tahun telah berakhir.

Iran juga memperingatkan adanya potensi respons lanjutan. Gangguan jalur pelayaran dan penerbangan di kawasan Teluk memperbesar kekhawatiran pasar bahwa konflik dapat meluas.

Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global. Jika terjadi gangguan signifikan, harga energi dunia bisa terdorong naik dan berpotensi memicu inflasi global.

Baca juga: Indeks Kripto Kembali Anjlok, Bitcoin Terseret ke US$64.000 di Tengah Tekanan Global

Bagaimana Pergerakan Harga Bitcoin?

Bitcoin sempat turun hingga US$63.000 atau sekitar saat tekanan awal muncul. Namun, aset kripto terbesar ini kemudian pulih dan diperdagangkan di titik terninggi harian di US$68.000.

Adapun dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin terus menunjukkan volatilitas, dengan harga yang terkoreksi sekitar 2 persen ke kisaran harga US$65.700, menurut data CoinGecko.

Grafik BTC/USD harian. Sumber: CoinGecko

Mengutip laporan Decrypt, Ryan McMillin, Chief Investment Officer Merkle Tree Capital, menyebut reaksi awal Bitcoin terbilang wajar.

“Pasar membenci ketidakpastian lebih dari berita buruk itu sendiri. Begitu konflik terlihat masih terkendali, minat beli kembali muncul dengan cepat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti funding rate pada futures Bitcoin yang turun tajam ke wilayah negatif, yang menunjukkan banyak pelaku pasar membuka posisi short. Dalam kondisi seperti ini, pasar secara teknis memberikan insentif bagi investor yang mengambil posisi beli.

Senada dengan itu, Pratik Kala, Head of Research Apollo Crypto, menilai sebagian besar dampak awal konflik sudah tercermin dalam harga.

“Jika Bitcoin memang harus turun lebih dalam, itu seharusnya sudah terjadi. Pergerakan harga selama akhir pekan justru menunjukkan respons yang cukup kuat,” jelasnya, seperti dikutip dari Decrypt.

Kala juga menambahkan bahwa pembukaan CME futures tidak memicu tekanan jual tambahan yang signifikan.

Baca juga: Pasar Kripto Rebound, Bitcoin Kembali Tembus US$69.000

Lonjakan Harga Minyak dan Emas Bisa Picu Inflasi?

Konflik Iran mendorong kenaikan harga minyak mentah. Brent crude naik sekitar 8 hingga 10 persen mendekati US$80 per barel. Sementara itu, WTI menguat sekitar 7 hingga 8 persen.

Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi. Jika inflasi meningkat, aset berisiko seperti Bitcoin bisa menghadapi tekanan tambahan.

“Jika harga minyak bertahan tinggi, risiko inflasi yang lebih tinggi akan meningkat, dan itu negatif bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Namun, saya tidak melihat itu sebagai skenario utama,” ujar Kala.

Ia menilai negara-negara OPEC memiliki kapasitas suplai yang cukup untuk menutup potensi gangguan. Selain itu, pemerintah AS dinilai memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas harga energi.

Di sisi lain, emas sebagai aset lindung nilai melonjak lebih dari 2 persen hingga mencapai US$5.388 per ons.

Menurut Han Tan, Chief Market Analyst Bybit Learn, konflik Timur Tengah berpotensi mendorong permintaan emas dalam jangka pendek.

“Namun, sejarah menunjukkan bahwa premi risiko geopolitik sering kali mereda dengan cepat begitu pasar menilai risiko tersebut dapat dikendalikan,” ujarnya.

Baca juga: Data Ungkap Investor Lepas 25.000 BTC Lewat ETF Bitcoin

Apakah Bitcoin Akan Tertekan Lebih Dalam?

Sejauh ini, Bitcoin menunjukkan ketahanan relatif dibandingkan pasar saham. Meski volatilitas meningkat, tekanan jual mulai mereda.

Pergerakan Bitcoin ke depan kemungkinan besar akan dipengaruhi dua faktor utama, ini termasuk apakah konflik tetap terbatas atau meluas, hingga lonjakan harga minyak benar-benar memicu inflasi yang lebih tinggi.

Jika ketegangan mereda dan pasar energi stabil, Bitcoin berpotensi kembali mengikuti sentimen makro dan arus modal institusional. Namun, jika konflik membesar dan inflasi melonjak, tekanan terhadap aset berisiko dapat kembali meningkat.

Untuk saat ini, pasar masih berada dalam fase menimbang risiko. Bitcoin belum menunjukkan tanda kepanikan besar, tetapi arah selanjutnya sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan dinamika inflasi global.

Baca juga: Sejauh Mana Bitcoin Bisa Turun? Analis Sebut Bottom Berada di US$55.000