harga bitcoin anjlok karena konflik timur tengah

Bitcoin Bergerak Naik Usai Kabar Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran

Harga Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, mengalami kenaikan signifikan setelah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada 1 Maret 2026.

Kabar geopolitik tersebut langsung memicu reaksi cepat di pasar kripto global. Berdasarkan data CoinMarketCap, harga Bitcoin melonjak sekitar 2 persen dalam 24 jam, dari level US$65.000 hingga sempat menyentuh titik tertinggi harian di US$68.000.

Meski demikian, volatilitas kembali terjadi tidak lama setelah lonjakan tersebut. Pada saat artikel ini ditulis, harga Bitcoin terkoreksi dan berada di kisaran US$66.831.

Grafik BTC/USD harian. Sumber: CoinMarketCap

Tidak hanya Bitcoin, Ethereum (ETH) sebagai aset kripto terbesar kedua juga menunjukkan pemulihan harga. ETH kembali ke level US$2.000 setelah sebelumnya sempat diperdagangkan di bawah US$1.900.

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto dilaporkan pulih sekitar US$32 miliar pada pagi 1 Maret, setelah sehari sebelumnya sempat mengalami penyusutan nilai hingga US$128 miliar akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Indeks Fear and Greed kripto yang mengukur sentimen pasar terpantau masih berada di skor 10 dari 100, menunjukkan ketakutan ekstrem di antara para trader yang terus menjual kepemilikkan aset kripto mereka.

Indeks Fear and Greed kripto. Sumber: Alternative.me

Baca juga: Pasar Kripto Rebound, Bitcoin Kembali Tembus US$69.000

Ketegangan Geopolitik Picu Volatilitas Pasar Kripto

Situasi memanas setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Iran juga mengancam akan memperluas serangan ke pangkalan militer yang berafiliasi dengan Amerika Serikat di Irak.

Di tengah eskalasi tersebut, pasar kripto yang beroperasi 24 jam sehari tanpa henti menjadi salah satu aset pertama yang merespons dinamika global. Pada jam-jam awal setelah pengeboman dimulai, pasar kripto sempat terguncang hebat.

Namun, seiring berjalannya waktu, aset digital mulai menunjukkan pemulihan. Bitcoin bergerak naik tajam setelah laporan awal mengenai tewasnya Ayatollah Ali Khamenei beredar luas.

Markus Thielen, Head of Research di 10x Research, menyebut bahwa pelaku pasar tidak memperkirakan konflik Iran akan berdampak besar terhadap ekonomi global secara jangka panjang.

“Permintaan terhadap opsi beli (upside call) Bitcoin meningkat dalam beberapa hari terakhir. Trader juga sedang memposisikan diri menjelang pertemuan Federal Reserve Amerika Serikat,” jelasnya.

Sementara itu, Hayden Hughes, Managing Partner di Tokenize Capital, menilai Bitcoin berperan sebagai “katup tekanan” (pressure valve) dalam kondisi pasar ekstrem.

“Bitcoin adalah satu-satunya aset likuid berskala besar yang diperdagangkan 24/7. Akibatnya, seluruh tekanan jual yang biasanya tersebar ke saham, obligasi, dan komoditas terserap terlebih dahulu di pasar kripto,” ujarnya.

Menurut Hughes, proses penemuan harga (price discovery) yang lebih akurat kemungkinan baru akan terlihat pada hari Senin sa

“Dengan rudal menghantam Dubai, pembalasan Iran di kawasan Teluk, serta risiko penutupan Selat Hormuz, ini bukan peristiwa kecil. Dampaknya masih bisa berkembang,” tambahnya.

Baca juga: Indeks Kripto Kembali Anjlok, Bitcoin Terseret ke US$64.000 di Tengah Tekanan Global

Bitcoin Masih Dalam Tren Koreksi Jangka Menengah

endati terjadi lonjakan harga, pergerakan akhir pekan ini memperpanjang tren penurunan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir di pasar kripto.

Tekanan jual sebelumnya dipicu oleh likuidasi sekitar US$19 miliar posisi leverage pada Oktober lalu. Sejak saat itu, Bitcoin telah turun sekitar 50 persen dari rekor tertingginya di atas US$126.000.

Berbeda dengan emas dan aset safe haven lainnya yang sempat menguat, Bitcoin belum mampu mempertahankan momentum reli jangka panjang.

Justin d’Anethan, Head of Research di Arctic Digital, mengatakan bahwa fenomena ini bukan hal baru.

“Setiap kali peristiwa kritis terjadi pada akhir pekan, Bitcoin cenderung menjadi katup tekanan pasar global. Namun kali ini, dampak awalnya tidak sedrastis yang diperkirakan sebagian pelaku pasar,” jelasnya.

Baca juga: Data Ungkap Investor Lepas 25.000 BTC Lewat ETF Bitcoin