bitcoin

Strategy Tambah 3.000 Bitcoin Bernilai Rp3,3 Triliun

Strategy, perusahaan yang dikenal sebagai salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia dan sebelumnya bernama MicroStrategy, kembali menambah cadangan Bitcoin dalam jumlah signifikan. Pada Senin (2/3/2026), perusahaan yang didirikan Michael Saylor tersebut mengumumkan pembelian Bitcoin senilai US$200 juta atau sekitar Rp3,3 triliun. Ini menjadi pembelian terbesar ketiga Strategy sepanjang 2026.

Dalam keterangan resminya, Strategy membeli sekitar 3.000 Bitcoin dengan harga rata-rata US$67.700 per koin. Ini menjadi pembelian terbesar ketiga Strategy sepanjang 2026.

Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan Strategy kini mencapai sekitar 720.750 Bitcoin. Jika mengacu pada harga pasar sekitar US$68.500 per Bitcoin, nilai keseluruhan cadangan Bitcoin perusahaan diperkirakan mencapai US$49,5 miliar atau sekitar Rp792 triliun. Angka ini menjadikan Strategy sebagai salah satu perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia.

Meski begitu, harga beli rata-rata Strategy masih berada di atas harga pasar saat ini. Sejak Bitcoin turun di bawah level US$76.000 bulan lalu, perusahaan tercatat mengalami kerugian belum terealisasi sekitar US$5,3 miliar atau sekitar Rp84,8 triliun. Kerugian ini disebut belum terealisasi karena Bitcoin tersebut belum dijual, sehingga nilainya masih bisa berubah mengikuti pergerakan harga pasar.

Di sisi lain, saham Strategy sempat naik hampir 6 persen ke level US$137 pada perdagangan Senin. Namun, jika dilihat dalam enam bulan terakhir, harga saham perusahaan masih turun hampir 60 persen, seiring volatilitas harga Bitcoin.

Baca juga: Strategy Kini Pegang 717.722 Bitcoin, Kuasai Tiga Persen Pasokan BTC

Strategi Pendanaan Lewat STRC dan Saham Biasa

Untuk terus membeli Bitcoin secara konsisten, Strategy menggunakan dua sumber pendanaan utama, yaitu penerbitan saham biasa dan saham preferen variabel bernama STRC.

Dalam sepekan terakhir, perusahaan berhasil menghimpun sekitar US$33 juta dari penerbitan STRC. Sementara itu, dari penerbitan saham biasa, Strategy memperoleh dana yang jauh lebih besar, yakni sekitar US$230 juta.

STRC sendiri diluncurkan pada Juli tahun lalu sebagai instrumen investasi dengan volatilitas relatif rendah dan imbal hasil tinggi. Michael Saylor menyebut pendekatan ini sebagai “digital credit”, yaitu strategi pembiayaan berbasis aset digital untuk mendukung kepemilikan Bitcoin dalam jangka panjang.

Sejauh ini, total dana yang berhasil dihimpun melalui STRC telah mencapai sekitar US$3,4 miliar atau sekitar Rp54,4 triliun. Angka tersebut termasuk penawaran umum perdana senilai US$2,5 miliar yang mengalami peningkatan permintaan dari investor.

Untuk membuat STRC semakin menarik, Strategy kembali menaikkan dividen bulanan menjadi 11,5 persen. Ini merupakan kenaikan ketujuh sejak produk tersebut diperkenalkan. Kenaikan dividen ini bertujuan menjaga minat investor, terutama di tengah tekanan harga saham dan fluktuasi harga Bitcoin.

Pada Februari lalu, Strategy menghimpun sekitar US$85,5 juta dari STRC, sementara penerbitan saham biasa menghasilkan sekitar US$450 juta. Dengan menerbitkan saham preferen seperti STRC, perusahaan berusaha mengurangi risiko pengenceran kepemilikan bagi pemegang saham biasa, sekaligus memastikan dana tetap tersedia untuk membeli Bitcoin.

Meski Strategy telah mengumpulkan miliaran dolar untuk membayar dividen lebih awal, sejumlah pengamat mempertanyakan keberlanjutan strategi ini dalam jangka panjang, terutama jika harga Bitcoin terus mengalami tekanan.

Pada kuartal keempat tahun lalu, Strategy melaporkan kerugian sebesar US$12,4 miliar akibat fluktuasi tajam nilai kepemilikan Bitcoin. Namun, Saylor menegaskan bahwa pergeseran ke model “digital credit” justru memperkuat fondasi perusahaan dan sejalan dengan visi kepemilikan Bitcoin tanpa batas waktu.

Baca juga: Michael Saylor Beri Sinyal Strategy Siap Beli Bitcoin ke-100