CEO Tether, Paolo Ardoino, mengumumkan bahwa perusahaan kembali menambah kepemilikan Bitcoin menjelang penutupan tahun 2025. Pada malam Tahun Baru, penerbit stablecoin USDT tersebut membeli 8.888 Bitcoin, sehingga total kepemilikan Bitcoin yang diungkapkan ke publik melampaui 96.000 BTC.
Pembelian terbaru tersebut diperkirakan bernilai sekitar US$780 juta atau setara kurang lebih Rp13 triliun pada saat transaksi dilakukan. Dengan akumulasi tersebut, Tether kini tercatat sebagai salah satu pemegang Bitcoin aktif terbesar di dunia. Alamat Bitcoin milik perusahaan menempati peringkat kelima terbesar secara global, berada di bawah Binance, Robinhood, dan Bitfinex. Di antara perusahaan swasta, Tether menempati posisi kedua sebagai pemilik cadangan Bitcoin terbesar.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi akumulasi Bitcoin yang dijalankan Tether secara konsisten setiap kuartal. Perusahaan mengalokasikan hingga 15 persen dari laba bersih kuartalan untuk membeli Bitcoin.
Baca juga: Juventus Tolak Tawaran Akuisisi Rp18 Triliun dari Tether
Strategi Akumulasi Bitcoin Jangka Panjang
Tether mulai membeli Bitcoin sejak September 2022. Pada Mei 2023, perusahaan secara resmi mengumumkan kebijakan untuk mengalokasikan 15 persen dari laba bersih kuartalannya ke Bitcoin. Sejak pengumuman tersebut, Tether secara konsisten menambah kepemilikan Bitcoin setiap kuartal sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mendiversifikasi cadangan dan memperkuat posisi keuangan perusahaan.
Diversifikasi cadangan Tether tidak hanya terbatas pada Bitcoin. Pada kuartal ketiga 2025, perusahaan juga membeli 26 ton emas. Jumlah ini lebih besar dibandingkan akumulasi kuartalan yang dilaporkan oleh bank sentral mana pun pada periode yang sama. Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan emas Tether mencapai 116 ton dan menempatkannya di jajaran 30 pemegang emas terbesar di dunia.
Namun, kombinasi cadangan yang terdiri dari obligasi pemerintah AS, Bitcoin, dan emas turut menjadi sorotan lembaga pemeringkat dan analis. Standard & Poor’s baru-baru ini menurunkan peringkat USDT dari “constrained” menjadi “weak”, dengan alasan keterbatasan transparansi serta risiko konsentrasi aset.
Sepanjang 2025, kepemilikan Bitcoin Tether sempat mengalami fluktuasi. Setelah pembelian pada kuartal pertama, total Bitcoin perusahaan sempat melampaui 100.000 BTC. Penurunan saldo di beberapa periode memicu spekulasi bahwa Tether melakukan penjualan Bitcoin. Ardoino membantah klaim tersebut dan menjelaskan bahwa sebagian Bitcoin dialokasikan ke Twenty One Capital, perusahaan yang didukung oleh Tether.
Per 1 Januari 2026, Twenty One Capital tercatat memegang 43.514 BTC. Jumlah ini menjadikannya pemilik Bitcoin terbesar ketiga di antara perusahaan publik, di bawah Mara Holdings dan Strategy.
Akumulasi Bitcoin oleh Tether terjadi di tengah tren adopsi Bitcoin yang lebih luas di kalangan korporasi global. Pada awal 2025, banyak perusahaan mulai menambahkan Bitcoin ke dalam neraca keuangan mereka, mengikuti model yang dipopulerkan oleh Strategy. Kenaikan harga di awal tahun membuat strategi ini terlihat menarik, meskipun koreksi pasar pada Oktober sempat menekan kepercayaan dan berdampak pada kinerja saham beberapa perusahaan besar.
Baca juga: Tether Jadi Pemegang Emas Terbesar di Luar Bank Sentral, Segini Jumlahnya
