Blockchain Ethereum dan Solana menutup 2025 dengan pertumbuhan signifikan di sisi pendapatan, aset, dan aktivitas perdagangan. Dua jaringan dengan tingkat penggunaan tertinggi ini sama-sama merilis laporan tahunan yang menegaskan bahwa 2025 menjadi fase krusial dalam strategi jangka panjang mereka untuk menjangkau pengguna ritel maupun institusi.
Ethereum Foundation dalam laporan yang dirilis Selasa (6/1/2026) menyebut 2025 sebagai periode konsolidasi peran Ethereum sebagai fondasi utama infrastruktur digital global. Melalui pernyataan resminya di platform X, Ethereum Foundation merangkum 12 tema utama yang membentuk arah pengembangan jaringan sepanjang tahun lalu, mencakup peningkatan adopsi institusional, interoperabilitas antarjaringan, hingga optimalisasi pengalaman pengguna.
Sementara itu, Solana melaporkan pencapaian rekor baru di berbagai metrik utama. Sepanjang 2025, jaringan ini mencatat rekor tertinggi untuk pendapatan aplikasi, jumlah wallet aktif unik, serta volume perdagangan di exchange terdesentralisasi (DEX). Penurunan volume memecoin sekitar 10% tidak menghambat pertumbuhan secara keseluruhan, karena lonjakan aktivitas di sektor lain dinilai mampu mengimbangi pelemahan tersebut.
Baca juga: 7 Peristiwa Penting Kripto Sepanjang 2025
Pertumbuhan Stablecoin dan Aktivitas Jaringan
Solana mencatat pertumbuhan kuat di sektor stablecoin. Total suplai stablecoin yang diterbitkan di jaringan ini meningkat dua kali lipat secara tahunan menjadi US$14,8 miliar atau sekitar Rp247,9 triliun. Aktivitas transfer stablecoin juga melonjak, dengan total nilai transaksi mencapai US$11,7 triliun atau sekitar Rp195.975 triliun sepanjang 2025. Angka ini mendekati total penyelesaian transaksi stablecoin di ekosistem Ethereum yang dilaporkan mencapai US$18,8 triliun atau sekitar Rp314.900 triliun.
Dari sisi aktivitas pengguna, Solana mengklaim jumlah wallet aktif unik harian rata-rata naik 50% menjadi 3,2 juta. Sepanjang 2025, tercatat sekitar 725 juta wallet baru yang setidaknya melakukan satu transaksi di jaringan tersebut. Sebagai perbandingan, aplikasi di jaringan utama Ethereum mencatat lebih dari 244 juta wallet aktif unik selama periode yang sama.
Baca juga: Dana Kripto Global Catat Inflow Positif Rp14 Triliun dalam Sepekan
Kapasitas dan Pengembangan Infrastruktur
Perbandingan kapasitas transaksi kedua jaringan tidak sepenuhnya sepadan karena perbedaan arsitektur. Ethereum mengadopsi pendekatan rollup-centric, dengan Ethereum Foundation mencatat rata-rata gabungan sekitar 5.600 transaksi per detik (TPS) di seluruh jaringan rollup. Di sisi lain, Solana mencatat rata-rata sekitar 1.054 TPS non-vote di jaringan utamanya.
Sepanjang 2025, Ethereum juga merilis dua peningkatan besar, Pectra dan Fusaka. Pembaruan ini meningkatkan kapasitas jaringan dan ketersediaan data, sekaligus menjadi fondasi bagi perbaikan pengalaman pengguna. Ethereum Foundation menilai peningkatan tersebut membuat wallet lebih cerdas dan mudah diakses, serta memungkinkan aplikasi berbasis seluler berjalan lebih sederhana tanpa lapisan middleware yang kompleks. Memasuki 2026, Ethereum menargetkan ekosistem aplikasi yang semakin ramah konsumen dan siap mendorong adopsi massal.
Baca juga: Upgrade Fusaka Resmi Meluncur di Mainnet Ethereum
Pendapatan Aplikasi dan Ekosistem DeFi
Dari sisi pendapatan, Solana mencatat kinerja yang menonjol. Menurut Solana Foundation, total pendapatan aplikasi di jaringan ini sepanjang 2025 mencapai US$2,39 miliar atau sekitar Rp40 triliun, tumbuh 46% secara tahunan dan menjadi rekor tertinggi baru. Tujuh aplikasi mencatat pendapatan di atas US$100 juta, termasuk Axiom, BullX, Jupiter, Meteora, Photon, Raydium, serta platform peluncuran memecoin Pump.fun.
Agregator DEX seperti Jupiter, Dflow, Titan, dan OKX membukukan volume gabungan sebesar US$922 miliar atau sekitar Rp15.433 triliun. Sementara itu, seluruh launchpad berbasis Solana mencatat pendapatan US$762 juta atau sekitar Rp12,75 triliun, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, sekitar 11,6 juta token diluncurkan di jaringan Solana, dengan sekitar 105.000 token berhasil melewati fase bonding curve di launchpad.
Solana Foundation juga menyoroti kontribusi aplikasi berskala menengah. Aplikasi dengan pendapatan di bawah US$100 juta secara kolektif menghasilkan lebih dari US$500 juta sepanjang 2025. Platform perdagangan profesional mencatat pendapatan US$940 juta, tumbuh 44% secara tahunan dan kembali mencetak rekor tertinggi.
Meski demikian, Ethereum masih mempertahankan dominasi di sektor DeFi. Total Value Locked (TVL) Ethereum pada akhir 2025 mencapai lebih dari US$99 miliar atau sekitar Rp1.656 triliun, lebih dari sembilan kali lipat dibanding ekosistem layer-1 terbesar berikutnya. Ethereum juga memimpin pasar prediction market, dengan volume taruhan mencapai sekitar US$20 miliar atau setara Rp335 triliun di jaringan utama dan layer-2.
Baik Ethereum maupun Solana sama-sama menekankan fokus pada efisiensi biaya transaksi. Sepanjang 2025, rata-rata biaya transaksi Solana turun menjadi US$0,017 atau sekitar Rp285, dibandingkan US$0,025 pada tahun sebelumnya. Ethereum mencatat biaya transaksi terendah dalam lima tahun terakhir di jaringan utama, sementara biaya di jaringan layer-2 berada di bawah US$0,1.
Baca juga: 5 Tren Kripto Terpopuler di 2025
