tether

Tether Hadirkan Scudo, Unit Pecahan ala Satoshi Bitcoin untuk Token Emas XAUT

Tether, penerbit stablecoin USDT, memperkenalkan unit akun baru yang terhubung dengan token emas digital miliknya, XAUT. Inisiatif ini ditujukan untuk menurunkan hambatan kepemilikan emas secara fraksional, di tengah meningkatnya akumulasi emas oleh investor institusional dan bank sentral global.

Dalam pengumumannya pada Selasa (6/1/2026), Tether meluncurkan Scudo, unit akun yang merepresentasikan satu per seribu troy ons emas. Setiap satu Scudo setara dengan 1/1.000 token XAUT, aset kripto yang didukung emas fisik.

Tether menyebut XAUT saat ini ditopang oleh lebih dari 1.300 batang emas yang disimpan dalam kustodi. Total kapitalisasi pasar XAUT berada di kisaran US$2,3 miliar atau sekitar Rp38,5 triliun.

Menurut Tether, Scudo dirancang untuk memperluas akses kepemilikan emas. Selama ini, emas dikenal sebagai penyimpan nilai yang stabil, tetapi kepemilikan langsung sering terkendala persoalan penyimpanan, kustodi, serta keterbatasan pembagian unit.

Meski XAUT telah lebih dulu mengatasi sebagian kendala tersebut melalui tokenisasi emas fisik, Scudo difokuskan untuk mempermudah transaksi bernilai kecil secara on-chain yang tetap didukung aset emas. Tether menilai langkah ini sebagai bagian dari upaya menjadikan emas lebih mudah diperdagangkan di infrastruktur digital modern, bukan sekadar instrumen lindung nilai jangka panjang.

Baca juga: Dana Kripto Global Catat Total Inflow Rp790 Triliun Sepanjang 2025

Pemanfaatan Emas di Infrastruktur Digital

CEO Tether Paolo Ardoino menyebut emas sebagai “penyimpan nilai terbaik, berdampingan dengan Bitcoin”. Pernyataan ini disampaikan setelah harga emas mencetak rekor baru, menembus US$4.550 per troy ons atau sekitar Rp76,2 juta sepanjang 2025.

Melalui unggahan di media sosial, Ardoino membandingkan Scudo dengan satoshi, unit terkecil dalam jaringan Bitcoin. Perbandingan tersebut menegaskan posisi Scudo sebagai pecahan mikro dari aset dasar, dalam hal ini emas yang telah ditokenisasi.

Lonjakan minat terhadap emas menjadi bagian dari tren yang lebih luas di pasar logam mulia. Sepanjang 2025, harga emas melonjak sekitar 65 persen, didorong oleh upaya de-dolarisasi global, pembelian agresif bank sentral, serta kekhawatiran inflasi yang belum sepenuhnya mereda.

Reli tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak melonjak lebih dari 140 persen hingga mencapai sekitar US$80 per troy ounce atau setara Rp1,34 juta, mencerminkan momentum kuat di seluruh sektor logam mulia.

Kenaikan harga emas juga menyoroti perbedaan kinerja dengan Bitcoin. Sepanjang 2025, Bitcoin menutup tahun dengan pelemahan dan belum menunjukkan karakter sebagai aset safe haven. Kontras ini semakin terlihat pada kuartal keempat, setelah peristiwa deleveraging besar-besaran yang dipicu oleh kejatuhan pasar pada 10 Oktober.

Baca juga: Likuidasi Kripto Terbesar Sepanjang Sejarah, Rp320 Triliun Lenyap dalam Sehari