Bhutan kembali tercatat melakukan penjualan Bitcoin (BTC) secara bertahap di tengah tekanan pasar yang kian dalam. Data terbaru menunjukkan negara tersebut telah melepas Bitcoin senilai sekitar US$22,4 juta atau setara Rp37 miliar dalam sepekan terakhir, melanjutkan pola penjualan strategis yang telah berlangsung konsisten selama beberapa tahun.
Menurut data Arkham Intelligence pada Kamis (6/2/2026), salah satu transaksi yang terjadi sekitar lima hari lalu dikirim langsung ke alamat yang diberi label sebagai milik market maker QCP Capital.
Pola ini mengindikasikan bahwa penjualan Bitcoin Bhutan dilakukan melalui jalur institusional, bukan sekadar perpindahan internal antar wallet.
Baca juga: Bitcoin Jatuh ke US$75.000, Hapus Total Kenaikan Pasca Kemenangan Trump
Pola Penjualan Bitcoin Bhutan yang Konsisten
Arkham mencatat bahwa Bhutan cenderung melepas Bitcoin dalam beberapa tahap dengan nilai mendekati US$50 juta per periode. Aktivitas jual paling signifikan tercatat pada pertengahan hingga akhir September 2025, bertepatan dengan meningkatnya tekanan di pasar aset kripto global.
Sejak mulai menambang Bitcoin pada 2019, Bhutan diperkirakan telah membukukan keuntungan lebih dari US$765 juta atau sekitar Rp12,87 triliun, dengan estimasi biaya energi mencapai US$120 juta atau sekitar Rp2,02 triliun. Aktivitas penambangan ini memanfaatkan kelebihan pasokan energi hidroelektrik nasional, sehingga biaya produksi relatif lebih efisien dibandingkan banyak negara lain.
Sebagian besar Bitcoin Bhutan ditambang sebelum peristiwa halving 2024. Setelah halving, laju produksi mulai melambat seiring lonjakan biaya penambangan yang diperkirakan meningkat hampir dua kali lipat. Tahun puncak produksi terjadi pada 2023, ketika Bhutan berhasil menambang sekitar 8.200 BTC, dengan total kepemilikan saat itu melampaui 13.000 BTC.
Secara rinci, estimasi produksi tahunan Bhutan mencakup sekitar 2.500 BTC pada 2021, 1.800 BTC pada 2022, 8.200 BTC pada 2023, serta sekitar 3.000 BTC sepanjang 2024.
Baca juga: Bitcoin Jebol ke US$71.000, Tekanan Global Seret Pasar Kripto
Bitcoin Terus Alami Tekanan
Di sisi lain, tekanan pasar kian terasa seiring harga Bitcoin anjlok mendekati level terendah dalam satu tahun terakhir. Dari puncaknya pada Oktober lalu, harga Bitcoin tercatat telah turun sekitar 40 persen, memicu kembali kekhawatiran pasar akan pengulangan siklus penurunan empat tahunan seperti yang terjadi pada 2018 dan 2022.
Head of Research K33 Research, Vetle Lunde, dalam catatan terbarunya menilai terdapat kemiripan pola dengan fase penurunan tajam di masa lalu. Meski demikian, ia menegaskan bahwa struktur pasar saat ini berbeda secara fundamental dibandingkan siklus sebelumnya.
Menurut Lunde, meningkatnya adopsi institusional, arus dana ke produk kripto teregulasi, serta lingkungan suku bunga global yang mulai melonggar memberikan penopang struktural yang sebelumnya tidak tersedia. Selain itu, pasar saat ini belum mengalami peristiwa forced deleveraging berskala besar seperti yang memperparah krisis kredit kripto pada 2022.
Meski demikian, Lunde mengingatkan bahwa psikologi siklus pasar bersifat self-fulfilling. Aksi pengurangan posisi oleh pemegang jangka panjang, dikombinasikan dengan sikap wait and see dari modal baru, berpotensi memperkuat tekanan jual dan membentuk pola yang menyerupai fase penurunan historis.
Di sisi lain, sejumlah indikator teknikal mulai mengisyaratkan potensi pembentukan dasar harga. Pada 2 Februari, volume perdagangan spot Bitcoin tercatat menembus US$8 miliar atau sekitar Rp134,6 triliun. Sementara itu, pasar derivatif menunjukkan kondisi ekstrem berupa penurunan tajam open interest dan funding rate negatif, yang secara historis kerap mendahului pembalikan arah harga.
Kendati demikian, Lunde menilai sinyal tersebut masih belum konklusif, mengingat kondisi ekstrem serupa juga pernah muncul dalam fase pemulihan palsu. Saat ini, area US$74.000 dipandang sebagai level support krusial. Jika level tersebut ditembus, Bitcoin berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area US$69.000 bahkan mendekati rata-rata pergerakan 200 minggu di kisaran US$58.000.
Baca juga: Analis Sebut Bitcoin Berisiko Uji Level US$56.000 di Tengah Lemahnya Sentimen
