Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah harga aset kripto terbesar di dunia tersebut turun ke kisaran US$75.000. Level ini menjadi yang terendah sejak sebelum kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat November 2024, sekaligus menghapus seluruh kenaikan harga yang terjadi pasca peristiwa tersebut.
Menurut data CoinGecko pada Rabu (4/2/2026), harga Bitcoin terus merosot dari level US$78.000 hingga menyentuh titik terendah harian di sekitar US$75.000. Level ini terakhir kali terlihat pada awal November 2024, menjelang reli harga yang didorong oleh sentimen positif seputar pelantikan Presiden AS Donald Trump.

Kemenangan Trump sebelumnya dipandang sebagai katalis positif bagi pasar aset kripto, seiring sikapnya yang relatif lebih terbuka terhadap industri kripto selama masa kampanye. Bitcoin sempat bergerak mendatar di kisaran US$85.000 sepanjang Februari hingga Maret 2025, sebelum mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$126.080 atau sekitar Rp2,02 miliar pada 6 Oktober 2025.
Namun sejak saat itu, tekanan jual kembali mendominasi pasar dan diikuti oleh pelemahan mayoritas aset kripto lainnya.
Baca juga: Analis Sebut Bitcoin Berisiko Uji Level US$56.000 di Tengah Lemahnya Sentimen
Hampir Separuh Pasokan Bitcoin Kini Dalam Kondisi Rugi
Tekanan harga ini berdampak signifikan terhadap struktur kepemilikan Bitcoin. Mengutip laporan The Block, Account Manager Glassnode Sean Rose mencatat bahwa sekitar 44 persen dari total pasokan Bitcoin saat ini berada dalam kondisi “underwater”, atau diperdagangkan di bawah harga beli, setelah harga Bitcoin turun sekitar 30 persen dalam satu bulan terakhir dari level US$108.000.
Kondisi tersebut menyebabkan persentase pasokan Bitcoin yang masih berada dalam posisi untung turun menjadi 56 persen, dari sebelumnya 78 persen. Penurunan ini mengindikasikan meningkatnya potensi tekanan jual, terutama dari investor dengan profil kepemilikan jangka pendek.
Rose menilai bahwa investor yang membeli Bitcoin di dekat puncak harga kini mulai menanggung kerugian. Pasokan Bitcoin dengan basis biaya di sekitar level tertinggi terbaru sedang diuji, dan tingkat keyakinan serta kesabaran investor tersebut diperkirakan akan menjadi faktor penentu arah pergerakan pasar dalam beberapa pekan hingga bulan ke depan.
Penurunan harga Bitcoin terjadi di tengah kombinasi faktor makroekonomi, termasuk meningkatnya ketidakpastian terkait potensi penutupan pemerintahan Amerika Serikat. Pasar saham global turut tertekan, dengan indeks Nasdaq Composite tercatat turun sekitar 2,2 persen.
Selain Bitcoin, tekanan juga melanda aset kripto utama lainnya. Ether tercatat turun lebih dari 9 persen ke bawah US$2.200, sementara Solana melemah lebih dari 7 persen. XRP, yang populer di kalangan investor ritel, tercatat turun sekitar 6,6 persen. Hingga artikel ini ditulis, total kapitalisasi pasar kripto global turun hampir 2 persen ke kisaran US$2,6 triliun.
Menariknya, tekanan pasar ini terjadi meskipun pasar ETF kripto sempat menunjukkan perbaikan. ETF Bitcoin spot tercatat membukukan arus masuk bersih sebesar US$561,9 juta atau sekitar Rp9 triliun, membalikkan tren arus keluar yang terjadi dalam dua pekan sebelumnya.
Namun, analis Bitfinex mencatat bahwa sepanjang periode 26–30 Januari, ETF Bitcoin dan Ether masih mengalami arus keluar signifikan, masing-masing sekitar US$1,5 miliar dan US$327 juta. Di sisi lain, produk ETP yang berfokus pada altcoin justru mencatatkan arus masuk, khususnya yang terkait dengan Solana dan XRP. Hal ini mengindikasikan terjadinya rotasi taktis investor dari aset kripto berkapitalisasi besar ke eksposur yang lebih selektif.
Baca juga: Trader Ethereum Rugi Rp3,7 Triliun Pasca Likuidasi Kripto Besar-besaran
