Perusahaan milik Michael Saylor, Strategy, mengumumkan rencana penggalangan dana hingga US$44,1 miliar atau sekitar Rp747 triliun guna membeli lebih banyak Bitcoin di tengah kondisi pasar yang masih melemah, berdasarkan laporan resmi yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) pada Senin (23/3/2026).
Pendanaan ini akan berasal dari beberapa skema, termasuk penjualan saham biasa (MSTR) hingga US$21 miliar atau sekitar Rp355,7 triliun, serta US$21 miliar dari saham preferen berimbal hasil tinggi bertipe perpetual bernama Stretch (STRC), melalui program penjualan bertahap di pasar (at-the-market/ATM). Selain itu, Strategy juga berencana melepas saham preferen lainnya, Strike (STRK), senilai hingga US$2,1 miliar atau sekitar Rp35,6 triliun.
Perusahaan tidak menetapkan jadwal pasti untuk aksi korporasi ini, dan menyebut bahwa saham akan dilepas secara bertahap mengikuti kondisi pasar dan permintaan investor.
Baca juga: Rutin Borong, Strategy Kini Punya 761.068 Bitcoin
Strategy Andalkan Skema Saham untuk Tambah Eksposur Bitcoin
Strategy memasarkan berbagai instrumen ini sebagai cara bagi investor untuk mendapatkan eksposur ke Bitcoin tanpa harus membeli aset kripto tersebut secara langsung. Saat ini, harga Bitcoin sendiri masih turun hampir 70 persen dari titik tertingginya.
Di tengah kondisi tersebut, Strategy tercatat mengalami kerugian belum terealisasi sekitar 6,3 persen dari total kepemilikan Bitcoin mereka. Meski begitu, perusahaan tetap agresif menambah posisi, mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap potensi Bitcoin sebagai aset lindung nilai.
Program ATM terbaru memungkinkan Strategy menjual saham secara bertahap di pasar terbuka, berbeda dengan strategi sebelumnya yang lebih mengandalkan pendanaan besar melalui utang konversi. Pendekatan ini dinilai memberi fleksibilitas lebih tinggi dalam mengatur timing dan harga penjualan saham.
Sementara itu, saham preferen seperti STRC dan STRK menawarkan dividen bulanan bagi investor, sehingga menarik bagi mereka yang mencari imbal hasil tetap, sambil tetap memiliki eksposur tidak langsung ke Bitcoin.
Baca juga: Strategy Borong Bitcoin Hingga Rp21 T, Cadangan Tembus 738.731 BTC
Tambah 90.000 BTC dalam Tiga Bulan
Dalam tiga bulan pertama 2026, Strategy telah menambah hampir 90.000 BTC ke dalam kasnya. Pembelian terbaru mencapai 1.031 BTC senilai US$76,6 juta atau sekitar Rp1,3 triliun. Sebelumnya, perusahaan juga membeli 17.994 BTC pada 9 Maret dan 22.337 BTC pada 16 Maret dengan total nilai sekitar US$2,9 miliar atau sekitar Rp49 triliun.
Kini, total kepemilikan Bitcoin Strategy mencapai 762.099 BTC atau setara sekitar US$54 miliar atau sekitar Rp914,5 triliun, menjadikannya salah satu entitas publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia.
Langkah agresif ini kembali menegaskan strategi utama perusahaan: memanfaatkan momentum pasar untuk terus mengakumulasi Bitcoin dalam jangka panjang.
Baca juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Lagi Saat Harga BTC di US$66.000
