Pasar kripto mengalami kenaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah negara-negara Teluk mulai mendekati keterlibatan langsung dalam konflik Iran.
Bitcoin sempat pulih ke atas US$70.000 setelah sempat turun di bawah US$68.000 pada akhir pekan. Meski begitu, secara mingguan aset kripto utama masih mencatat penurunan yang cukup tajam. Kenaikan ini juga diikuti oleh Ethereum, Solana, Dogecoin, dan XRP yang menguat sekitar 2 persen hingga 4 persen.
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal pada Selasa (24/3/2026), Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mulai membuka akses bagi militer Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan mereka dalam menghadapi Iran. Jika langkah ini terealisasi, konflik berpotensi berkembang dari operasi terbatas menjadi koalisi regional yang lebih luas.
Baca juga: Konflik AS-Iran Memanas, Begini Dampaknya ke Harga Bitcoin
Ketegangan Geopolitik Dorong Pergerakan Pasar
Keterlibatan negara-negara Teluk akan mengubah dinamika konflik secara signifikan. Dari yang sebelumnya hanya melibatkan AS dan Israel, kini berpotensi menjadi perang regional dengan dampak yang jauh lebih besar, terutama terhadap jalur energi global seperti Selat Hormuz yang saat ini masih sangat terbatas aktivitasnya.
Di sisi lain, Iran menegaskan tidak ada negosiasi yang berlangsung dengan AS, memperkuat ketidakpastian pasar di tengah eskalasi yang terus berkembang.
Baca juga: Iran Ancam Infrastruktur Google hingga Nvidia, Ini Dampaknya ke Pasar Kripto
Pasar Tradisional Melemah, Bitcoin Justru Stabil
Pasar keuangan global merespons negatif situasi ini. Kontrak berjangka S&P 500 turun sekitar 0,5 persen, sementara saham Eropa diperkirakan melemah hingga 0,8 persen. Harga minyak Brent melonjak 4 persen ke kisaran US$104 per barel, sementara dolar AS menguat.
Namun yang paling mencolok adalah pergerakan emas. Sebagai aset safe haven, emas justru turun 1,5 persen dan melanjutkan tren penurunan terpanjang dalam sejarahnya. Kondisi ini dinilai tidak lazim, mengingat emas biasanya menguat saat terjadi konflik besar.
Salah satu penjelasan yang muncul adalah tekanan likuiditas dari investor besar yang menghadapi margin call, sehingga terpaksa menjual emas sebagai aset paling likuid.
Baca juga: Bitcoin Bisa Diuntungkan Jika Konflik AS–Iran Berlanjut, Ini Penjelasannya
Bitcoin Tunjukkan Ketahanan di Tengah Ketidakpastian
Di tengah tekanan pasar global, Bitcoin justru menunjukkan stabilitas relatif. Aset yang dikenal volatil ini mampu bertahan di kisaran US$70.000, sementara aset tradisional seperti emas mengalami penurunan tajam.
Situasi ini memunculkan pertanyaan baru, apakah Bitcoin mulai berperan sebagai alternatif safe haven, atau hanya menunggu katalis berikutnya untuk bergerak?
Dengan eskalasi konflik yang terus berkembang dan risiko terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik global.
Baca juga: Biaya Mining Bitcoin di Iran Hanya Rp22 Juta, Ini Penyebabnya
