Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kembali meningkat. Mengutip laporan Al Jazeera pada Rabu (11/3/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam akan menyerang infrastruktur sejumlah perusahaan teknologi besar AS serta pusat ekonomi dan bank yang terkait dengan AS dan Israel, termasuk Google, Microsoft, Nvidia, Oracle, Palantir, hingga IBM.
Kantor maupun infrastruktur perusahaan-perusahaan tersebut yang berlokasi di Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain disebutkan dapat menjadi sasaran. Iran menilai teknologi yang disediakan perusahaan-perusahaan tersebut, seperti layanan cloud dan AI berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung operasi militer Israel.
Eskalasi ini terjadi menyusul serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel terhadap fasilitas militer serta nuklir Iran pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, Iran dilaporkan telah membalas dengan serangkaian serangan rudal dan drone yang menyasar berbagai infrastruktur ekonomi dan teknologi di kawasan.
Baca juga: Strategis Bloomberg Prediksi Bitcoin Bisa Jatuh ke US$10.000
Serangan Dilaporkan Menyasar Bank Sipil di Teheran
Ketegangan semakin meningkat setelah muncul laporan bahwa AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sebuah bank sipil di Teheran. Serangan tersebut dilaporkan mengenai Bank Sepah yang berlokasi di Haghani Highway, dengan sejumlah pegawai bank disebut menjadi korban jiwa saat tengah bekerja lembur untuk menyiapkan pembayaran gaji.
Menanggapi situasi tersebut, juru bicara Khatam ol Anbia, Ebrahim Zolfaqari, mengimbau warga sipil untuk menjauhi area di sekitar bank atau kantor keuangan yang terafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel. Pejabat Iran turut memperingatkan masyarakat agar tidak berada dalam radius satu kilometer dari fasilitas finansial yang memiliki keterkaitan dengan kedua negara tersebut.
Baca juga: Trader Kripto Ramai Bertaruh Harga Minyak di Hyperliquid di Tengah Konflik AS-Iran
Potensi Dampak ke Pasar Kripto
Ketegangan geopolitik ini turut memicu kekhawatiran di pasar keuangan global. Pasar saham AS dilaporkan mengalami penurunan tipis menyusul perkembangan terbaru konflik tersebut, sementara saham sejumlah perusahaan teknologi seperti Microsoft, Google, dan Nvidia menunjukkan volatilitas.
Pasar kripto pun kerap bereaksi terhadap situasi geopolitik yang tidak menentu. Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, sebagian investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko, yang berpotensi memicu volatilitas harga Bitcoin dalam waktu singkat.
Fenomena serupa pernah terjadi pada saat konflik Rusia–Ukraina, ketika pasar kripto mengalami volatilitas tinggi di tengah ketidakpastian global. Saat ini, harga Bitcoin masih berada sekitar 45% di bawah rekor tertingginya. Apabila ketegangan geopolitik terus meningkat, tekanan terhadap pasar kripto berpotensi kembali muncul dalam waktu dekat.
Baca juga: Iran Catat Outflow Kripto 700 Persen Imbas Serangan AS
