hyperliquid

Trader Kripto Ramai Bertaruh Harga Minyak di Hyperliquid di Tengah Konflik AS-Iran

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran kembali memicu volatilitas di pasar komoditas global. Situasi ini bahkan mulai memengaruhi aktivitas di pasar kripto. Menariknya, sebagian trader kripto kini memanfaatkan platform derivatif berbasis DeFi, Hyperliquid, untuk berspekulasi terhadap pergerakan harga minyak.

Data terbaru menunjukkan kontrak perpetual futures berbasis minyak di Hyperliquid mencatat volume perdagangan sekitar US$991 juta atau sekitar Rp15,6 triliun dalam 24 jam terakhir pada Rabu (11/3/2026). Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan kontrak serupa di Coinbase yang hanya mencatat volume sekitar US$75.000 dalam periode yang sama.

Perbedaan yang sangat besar ini menunjukkan bahwa likuiditas untuk eksposur komoditas sintetis kini semakin terkonsentrasi pada platform derivatif kripto yang bersifat crypto-native, bukan pada exchange tradisional atau platform kripto yang berbasis di Amerika Serikat.

Dengan model ini, trader dapat berspekulasi terhadap berbagai aset, termasuk komoditas seperti minyak, tanpa perlu membuka akun broker atau mengakses pasar komoditas tradisional seperti CME Group.

Menurut data yang dibagikan oleh James Wang, Director of Product Marketing di Cerebras Systems, aktivitas perdagangan minyak sintetis di Hyperliquid meningkat tajam seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap konflik Iran yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana pasar kripto yang beroperasi selama 24 jam mulai menjadi tempat bagi trader untuk merespons peristiwa makro global secara lebih cepat.

Hyperliquid sendiri merupakan platform derivatif terdesentralisasi yang memungkinkan trader membuka posisi leverage melalui kontrak perpetual futures dengan jaminan stablecoin, terutama USDC.

Berbeda dengan pasar tradisional yang memiliki jam perdagangan terbatas, platform seperti Hyperliquid memungkinkan trader membuka posisi kapan saja. Hal ini menjadi penting ketika terjadi peristiwa geopolitik besar yang muncul di luar jam perdagangan pasar konvensional.

Baca juga: Hyperliquid Strategies Bidik Cadangan HYPE Bernilai Rp16 Triliun

Lonjakan Harga Minyak Picu Aktivitas Trading

Awal pekan ini, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga sekitar US$119,50 per barel di tengah kekhawatiran bahwa konflik yang melibatkan Iran dapat mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.

Namun harga kemudian turun kembali ke kisaran US$91 hingga US$100 setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa konflik tersebut berpotensi mereda dalam waktu dekat.

Pada Rabu malam waktu New York, harga minyak Brent tercatat bergerak di kisaran US$90 hingga US$92 per barel. Pasar masih terus mencermati perkembangan geopolitik serta kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat oleh pemerintah.

Selain itu, data order book di Hyperliquid menunjukkan adanya order besar dengan selisih harga (spread) yang relatif sempit. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas perdagangan tidak hanya datang dari trader ritel, tetapi juga melibatkan penyedia likuiditas profesional

Baca juga: Hyperliquid Siap Pangkas Biaya Hingga 90% Lewat HIP 3 Growth Mode

Aktivitas Trading Bisa Dorong Permintaan Token HYPE

Menariknya, meningkatnya aktivitas perdagangan di platform ini juga dapat berdampak langsung terhadap permintaan token HYPE.

Protokol Hyperliquid mengalokasikan sebagian biaya perdagangan untuk melakukan buyback token HYPE. Dengan mekanisme ini, lonjakan volume perdagangan derivatif berpotensi meningkatkan permintaan terhadap token tersebut.

Pada awal Maret lalu, lonjakan aktivitas perdagangan akibat ketegangan Iran bahkan sempat mendorong harga token HYPE naik di atas US$32 atau sekitar Rp503.000. Berdasarkan data CoinMarketCap, token tersebut kembali menguat sekitar 6 persen dalam sehari dan diperdagangkan di kisaran US$36.

Grafik harga HYPE/USD dalam sepekan terakhir. Sumber: CoinMarketCap

Analis menilai bahwa peristiwa geopolitik seperti konflik di Timur Tengah kemungkinan akan terus memicu lonjakan aktivitas perdagangan secara berkala di platform kripto yang beroperasi 24 jam.

Baca juga: Volume DEX Tembus Rekor Baru 2025, Didominasi Trading Memecoin