bitcoin

Strategy Kini Pegang 717.722 Bitcoin, Kuasai Tiga Persen Pasokan BTC

Strategy, perusahaan cadangan Bitcoin yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, kembali menambah kepemilikan aset kriptonya dengan mengakuisisi 592 BTC senilai sekitar US$39,8 juta atau setara kurang lebih Rp670 miliar pada periode 17–22 Februari 2026.

Berdasarkan pengajuan ke Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) pada Senin (23/2/2026), pembelian tersebut dilakukan pada harga rata-rata US$67.286 per Bitcoin.

Dengan tambahan ini, total kepemilikan Bitcoin Strategy kini mencapai 717.722 BTC. Jika mengacu pada harga pasar saat ini, nilai kepemilikan tersebut setara sekitar US$47,5 miliar atau kurang lebih Rp799,9 triliun. Namun, total biaya akumulasi perusahaan tercatat sekitar US$54,6 miliar atau sekitar Rp919,4 triliun, dengan harga rata-rata pembelian US$76.020 per Bitcoin.

Dengan harga Bitcoin yang saat ini berada di kisaran US$64.100, Strategy masih menanggung kerugian belum terealisasi sekitar US$7,1 miliar atau setara Rp120 triliun.

Data dari BitcoinTreasuries menunjukkan bahwa saat ini terdapat 193 perusahaan publik yang mengadopsi strategi kepemilikan Bitcoin dalam neraca mereka. Selain Strategy, sejumlah perusahaan seperti MARA, Metaplanet, Riot Platforms, Coinbase, dan Hut 8 juga masuk dalam daftar pemegang Bitcoin terbesar di kalangan korporasi.

Baca juga: Michael Saylor Beri Sinyal Strategy Siap Beli Bitcoin ke-100

Kuasai Lebih dari Tiga Persen Total Pasokan Bitcoin

Jika dibandingkan dengan total suplai maksimum Bitcoin yang dibatasi 21 juta koin, kepemilikan Strategy kini setara lebih dari 3,4 persen dari seluruh pasokan yang akan pernah ada. Angka ini menegaskan posisi perusahaan sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia.

Pembelian terbaru tersebut didanai melalui program penjualan saham biasa Kelas A perusahaan dengan kode MSTR. Pekan lalu, Strategy menjual 297.940 saham MSTR dan memperoleh dana sekitar US$39,7 juta atau setara Rp668,5 miliar. Perusahaan juga menyatakan masih memiliki sekitar US$7,8 miliar saham yang dapat diterbitkan dan dijual dalam program tersebut, atau setara kurang lebih Rp131,3 triliun.

Langkah ini kembali memperlihatkan strategi agresif Strategy dalam memanfaatkan pasar modal untuk menambah eksposur terhadap Bitcoin.

Optimisme di Tengah Tekanan Pasar

Seperti pola sebelumnya, Michael Saylor memberi isyarat sebelum pembelian dilakukan. Ia mengunggah pembaruan pelacak akumulasi Bitcoin perusahaan dengan frasa khasnya, “The Orange Century.”

Dalam wawancara dengan Fox Business, Saylor mengakui bahwa pasar aset kripto saat ini berada dalam fase yang sering disebut sebagai crypto winter. Namun, menurutnya kondisi kali ini lebih ringan dibandingkan siklus sebelumnya dan berpotensi berlangsung lebih singkat.

“Kita memang sedang berada di musim dingin kripto, tetapi ini musim dingin yang jauh lebih ringan,” ujarnya.

Ia menilai dukungan institusi keuangan, keterlibatan sektor perbankan, serta arus modal yang terus masuk menjadi faktor pembeda dibandingkan empat tahun lalu.

Dalam unggahan di platform X, Saylor menambahkan, “Kita mungkin berada di tengah musim dingin kripto, tetapi musim semi akan datang dan Bitcoin akan menang.”

Ia juga kembali menegaskan pandangannya terhadap prospek jangka panjang Bitcoin dengan pernyataan, “Jika tidak menuju nol, maka akan menuju satu juta.”

Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan konsisten Saylor bahwa volatilitas jangka pendek tidak mengubah pandangannya terhadap potensi Bitcoin dalam jangka panjang.

Baca juga: Strategy Borong Bitcoin Rp2,8 Triliun, Total Kepemilikan Tembus 717.131 BTC