strategy bitcoin

Strategy Borong Bitcoin Rp2,8 Triliun, Total Kepemilikan Tembus 717.131 BTC

Strategy, perusahaan investasi Bitcoin yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, kembali menambah simpanan Bitcoin di neracanya. Perusahaan tersebut membeli 2.486 BTC senilai sekitar US$168,4 juta atau setara Rp2,84 triliun dalam periode 9–16 Februari 2026. Harga rata-rata pembeliannya berada di level US$67.710 per Bitcoin.

Berdasarkan pengajuan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), total kepemilikan Bitcoin Strategy kini mencapai 717.131 BTC. Dengan harga pasar saat ini, nilai seluruh kepemilikan tersebut diperkirakan mencapai US$48,8 miliar atau sekitar Rp823 triliun.

Secara keseluruhan, Strategy membeli Bitcoin di harga rata-rata US$76.027 per BTC atau sekitar Rp1,28 miliar. Total dana yang sudah dikeluarkan perusahaan untuk mengakumulasi Bitcoin mencapai sekitar US$54,5 miliar atau Rp919,36 triliun, termasuk biaya tambahan lainnya.

Menariknya, jumlah Bitcoin yang dimiliki Strategy kini setara lebih dari 3,4% dari total suplai maksimal Bitcoin yang dibatasi 21 juta koin. Namun karena harga pasar saat ini lebih rendah dari rata-rata harga beli mereka, secara akuntansi perusahaan mencatat potensi kerugian belum terealisasi sekitar US$5,7 miliar atau Rp96,15 triliun. Kerugian ini disebut sebagai mark-to-market loss, yaitu selisih nilai jika dihitung berdasarkan harga pasar saat ini.

Sebelum pembelian diumumkan, Michael Saylor sempat memberi petunjuk melalui unggahan di platform X dengan menulis “99>98”. Banyak pihak menafsirkan kalimat tersebut sebagai sinyal bahwa pembelian ke-99 akan lebih besar dibanding pembelian sebelumnya.

Sebagai perbandingan, pekan sebelumnya Strategy juga membeli 1.142 BTC senilai sekitar US$90 juta atau Rp1,52 triliun dengan harga rata-rata US$78.815 per BTC. Dengan tambahan terbaru ini, total kepemilikan mereka resmi menembus 717.131 BTC.

Baca juga: Michael Saylor Tegaskan Strategy Akan Terus Beli Bitcoin Selamanya

Pendanaan Lewat Penerbitan Saham

Untuk membeli Bitcoin dalam jumlah besar, Strategy tidak menggunakan kas biasa saja. Perusahaan menghimpun dana dengan menjual sahamnya ke pasar.

Dalam periode tersebut, Strategy menjual 660.000 saham biasa Kelas A (kode: MSTR) dan memperoleh dana sekitar US$90,5 juta atau Rp1,53 triliun. Hingga 16 Februari 2026, masih tersedia sekitar US$7,88 miliar atau Rp132,95 triliun dalam program penjualan saham tersebut.

Selain saham biasa, Strategy juga menjual saham preferen seperti STRC sebanyak 785.354 lembar dan memperoleh sekitar US$78,4 juta atau Rp1,32 triliun. Program ini masih memiliki sisa kapasitas sekitar US$3,54 miliar atau Rp59,73 triliun.

Perusahaan juga memiliki beberapa program penerbitan saham preferen lainnya, seperti STRK, STRF, dan STRD. Seluruh skema ini menjadi bagian dari rencana jangka panjang yang disebut “42/42”, di mana Strategy menargetkan penggalangan dana hingga US$84 miliar atau sekitar Rp1.417 triliun hingga 2027 untuk terus menambah kepemilikan Bitcoin.

Sebagian instrumen tersebut menawarkan dividen tetap, sebagian bisa dikonversi menjadi saham biasa, dan sebagian memiliki tingkat bunga variabel. Skema ini dirancang agar perusahaan tetap memiliki fleksibilitas pendanaan tanpa harus langsung melunasi utang dalam waktu dekat.

Manajemen Strategy juga menyatakan bahwa perusahaan masih mampu bertahan bahkan jika harga Bitcoin turun hingga US$8.000. Artinya, aset yang dimiliki dinilai masih cukup untuk menutup seluruh kewajiban utang yang ada.

Michael Saylor menambahkan bahwa perusahaan berencana secara bertahap mengubah utang konversi menjadi saham dalam tiga hingga enam tahun ke depan. Sejumlah analis menilai bahwa meskipun Strategy menggunakan leverage untuk membeli Bitcoin, struktur utangnya relatif panjang dan tidak memiliki jatuh tempo besar hingga 2028, sehingga tekanan jangka pendek dinilai lebih terkendali.

Baca juga: Strategy Catat Kepemilikan 709.715 Bitcoin