Standard Chartered memperkirakan harga Bitcoin berpotensi terkoreksi lebih dalam ke level US$50.000 sebelum memasuki fase pemulihan, sementara Ethereum dinilai dapat melemah hingga US$1.400 dalam beberapa bulan mendatang. Proyeksi tersebut muncul setelah bank asal Inggris itu merevisi turun target harga jangka pendek dan akhir tahun 2026 untuk sejumlah aset kripto utama.
Mengutip laporan CoinDesk, Head of Digital Assets Research Standard Chartered Geoffrey Kendrick menyampaikan bahwa risiko penurunan masih terbuka lebar. Menurutnya, Bitcoin dapat menguji area US$50.000 sebagai titik potensi dasar harga, sedangkan Ethereum berpeluang turun ke kisaran US$1.400 sebelum menemukan stabilitas. Saat laporan diterbitkan, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$67.900 dan Ethereum di kisaran US$1.980.
Standard Chartered menilai tekanan terhadap pasar aset kripto belum mereda. Arus keluar dana dari produk exchange-traded fund (ETF) serta kondisi makroekonomi global yang belum kondusif menjadi faktor utama yang membebani harga. Kombinasi keduanya dinilai dapat mendorong fase kapitulasi lanjutan dalam jangka pendek.
Baca juga: Sejauh Mana Bitcoin Bisa Turun? Analis Sebut Bottom Berada di US$55.000
Revisi Target Harga Hingga Akhir Tahun
Selain proyeksi jangka pendek, Standard Chartered juga memangkas target harga akhir 2026. Target Bitcoin diturunkan menjadi US$100.000 dari sebelumnya US$150.000. Sementara itu, Ethereum direvisi menjadi US$4.000 dari proyeksi awal US$7.500. Beberapa aset kripto lain turut mengalami penyesuaian, seperti Solana menjadi US$135, BNB menjadi US$1.050, dan Avalanche menjadi US$18.
Kendati melakukan revisi, bank tersebut tetap mempertahankan pandangan positif untuk jangka panjang. Target harga akhir 2030 tidak berubah, dengan proyeksi Bitcoin mencapai US$500.000 dan Ethereum US$40.000. Standard Chartered menilai faktor struktural seperti peningkatan adopsi serta penguatan infrastruktur industri masih menjadi fondasi pertumbuhan dalam jangka panjang.
Kendrick menjelaskan bahwa pelemahan harga dalam beberapa pekan terakhir berpotensi berlanjut karena investor ETF cenderung mengurangi eksposur saat mengalami kerugian, alih-alih menambah posisi di harga rendah. Data menunjukkan kepemilikan ETF Bitcoin telah menyusut hampir 100.000 BTC sejak puncaknya pada Oktober 2025. Dengan rata-rata harga beli sekitar US$90.000, banyak investor ETF saat ini menanggung kerugian belum terealisasi sekitar 25 persen.
Sejak awal 2026, pasar aset kripto memang berada dalam tekanan. Bitcoin tercatat turun hampir 23 persen sejak awal tahun dan sempat terkoreksi sekitar 50 persen dari rekor tertingginya pada Oktober 2025. Penurunan ini diiringi peningkatan volatilitas, likuidasi besar pada posisi leverage, serta menguatnya sentimen risk-off yang membuat pergerakan kripto semakin berkorelasi dengan pelemahan pasar saham global.
Dari sisi makroekonomi, kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan global dan prospek suku bunga yang masih tinggi turut membebani sentimen. Meski sejumlah data ekonomi Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda pelemahan, pasar belum memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga sebelum pertengahan Juni. Kondisi ini membuat dukungan terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto, dinilai masih terbatas dalam waktu dekat.
Meski risiko kapitulasi dinilai masih ada, Kendrick menilai kondisi pasar saat ini tidak sedalam siklus penurunan sebelumnya. Sekitar setengah dari total pasokan Bitcoin masih berada dalam posisi untung, berbeda dengan fase bearish terdahulu yang menunjukkan tekanan lebih ekstrem.
Selain itu, siklus kali ini tidak disertai keruntuhan platform kripto besar seperti yang terjadi pada 2022 dalam kasus Terra/Luna dan FTX. Hal tersebut dipandang sebagai indikasi bahwa industri aset kripto kini lebih matang dan memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap guncangan pasar.
Baca juga: Perusahaan Jepang Rugi Rp10,5 Triliun Akibat Jatuhnya Nilai Bitcoin
