jepang

Perusahaan Jepang Rugi Rp10,5 Triliun Akibat Jatuhnya Nilai Bitcoin

Metaplanet, perusahaan asal Jepang yang berfokus pada investasi Bitcoin, melaporkan rugi bersih sebesar 95 miliar yen atau setara sekitar Rp10,5 triliun untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Kinerja ini berbalik dari tahun sebelumnya, ketika perusahaan masih mencatat laba bersih 4,44 miliar yen atau sekitar Rp489 miliar.

Dalam laporan keuangan yang dirilis Senin (16/2/2026), Metaplanet menjelaskan bahwa rugi bersih tersebut terutama disebabkan oleh kerugian valuasi sebesar 102,2 miliar yen atau sekitar Rp11,25 triliun atas kepemilikan Bitcoin mereka. Kerugian ini dikategorikan sebagai beban non-operasional sehingga tidak berdampak langsung pada arus kas maupun aktivitas operasional perusahaan.

Sepanjang 2025, Metaplanet terus memperbesar akumulasi Bitcoin dalam neracanya. Perusahaan menutup tahun dengan total kepemilikan 35.102 BTC, meningkat 1.892 persen dibandingkan akhir 2024 yang hanya 1.762 BTC.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 0,16 persen dari total suplai Bitcoin global dan menjadikan Metaplanet sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar keempat di dunia.

Baca juga: Metaplanet Catat Rekor Pembelian 5.419 Bitcoin Bernilai Rp10,5 T

Struktur Keuangan Disebut Tetap Kuat

Meski mencatat rugi secara akuntansi, Metaplanet menegaskan bahwa struktur permodalannya tetap solid. Perusahaan menyebut neracanya masih kuat, bahkan dalam skenario penurunan harga Bitcoin hingga 86 persen. Hal ini didukung oleh rasio ekuitas sebesar 90,7 persen, yang menunjukkan sebagian besar aset perusahaan dibiayai oleh modal sendiri, bukan utang.

Per 31 Desember 2025, Metaplanet memiliki total liabilitas sebesar 46,7 miliar yen atau sekitar Rp5,14 triliun dan total aset bersih sebesar 458,5 miliar yen atau sekitar Rp50,47 triliun. Sementara itu, nilai kepemilikan Bitcoin mereka tercatat sebesar 481,5 miliar yen atau sekitar Rp53,03 triliun.

Di tengah volatilitas harga Bitcoin, kinerja operasional Metaplanet justru menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pendapatan perusahaan pada tahun buku 2025 mencapai 8,91 miliar yen atau sekitar Rp981 miliar, meningkat 738 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1,06 miliar yen atau sekitar Rp116,7 miliar.

Laba operasional juga melonjak menjadi 6,29 miliar yen atau sekitar Rp692 miliar, naik 1.695 persen dari tahun sebelumnya.

Sebagian besar pendapatan tersebut berasal dari aktivitas terkait Bitcoin, yang menyumbang 8,47 miliar yen atau sekitar Rp933 miliar. Laba operasional dari segmen ini mencapai 7,19 miliar yen atau sekitar Rp791 miliar, didorong terutama oleh pendapatan premi dari transaksi opsi Bitcoin.

Untuk tahun buku 2026, Metaplanet memproyeksikan pendapatan sebesar 16 miliar yen atau sekitar Rp1,76 triliun, dengan laba operasional diperkirakan mencapai 11,4 miliar yen atau sekitar Rp1,25 triliun. Proyeksi ini mencerminkan pertumbuhan masing-masing 79,7 persen dan 81,3 persen secara tahunan.

Dalam jangka panjang juga, Metaplanet menargetkan kepemilikan hingga 210.000 BTC atau sekitar 1 persen dari total suplai Bitcoin. Untuk mendukung ekspansi tersebut, perusahaan telah menghimpun dana sebesar 517,2 miliar yen atau sekitar Rp56,96 triliun hingga akhir 2025. Salah satunya berasal dari penerbitan saham preferen perpetual Kelas B pada Desember senilai 21,25 miliar yen atau sekitar Rp2,34 triliun.

Baca juga: Metaplanet Himpun Dana Rp2,3 Triliun untuk Tambah Cadangan Bitcoin