Harvard University melalui pengelola dana abadinya, Harvard Management Company (HMC), melakukan penyesuaian portofolio aset kripto pada kuartal terakhir 2025. Universitas dengan dana abadi senilai US$56,9 miliar atau sekitar Rp959 triliun tersebut untuk pertama kalinya membuka posisi di Ethereum, sekaligus memangkas eksposurnya terhadap Bitcoin sekitar 20 persen.
Berdasarkan dokumen pengajuan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), HMC membeli hampir 3,9 juta saham iShares Ethereum Trust (ETHA) milik BlackRock dengan nilai sekitar US$86,8 juta atau setara Rp1,46 triliun. Langkah ini menandai pertama kalinya Harvard memiliki eksposur langsung terhadap Ethereum melalui instrumen exchange-traded fund (ETF).
Di saat yang sama, Harvard mengurangi kepemilikan pada iShares Bitcoin Trust (IBIT) sebesar 21 persen dengan melepas sekitar 1,5 juta saham. Meski demikian, ETF Bitcoin tersebut masih menjadi kepemilikan publik terbesar Harvard di sektor aset kripto dengan nilai sekitar US$265,8 juta atau setara Rp4,48 triliun.
Penyesuaian ini terjadi setelah harga Bitcoin terkoreksi dari rekor tertinggi sekitar US$125.000 atau sekitar Rp2,11 miliar pada Oktober, lalu menutup kuartal di bawah US$90.000 atau sekitar Rp1,52 miliar. Pergerakan harga ini menjadi salah satu latar belakang penting dalam strategi rebalancing portofolio institusi besar.
Baca juga: Harvard University Dongkrak Investasi di ETF Bitcoin BlackRock
Strategi Arbitrase mNAV
Mengutip CoinDesk, Andy Constan, Chief Investment Officer Damped Spring Advisors, mengatakan pengurangan posisi IBIT kemungkinan mencerminkan pelepasan strategi perdagangan yang sebelumnya memanfaatkan premi saham perusahaan treasury Bitcoin terhadap nilai aset bersihnya, atau dikenal sebagai multiple net asset value (mNAV).
Konsep mNAV membandingkan nilai perusahaan dengan nilai Bitcoin yang dimilikinya. Saat harga Bitcoin melonjak tajam, sejumlah perusahaan yang menyimpan Bitcoin sebagai aset kas, seperti Strategy (MSTR), sempat diperdagangkan dengan premi tinggi. Pada puncaknya, saham MSTR pernah diperdagangkan di kisaran 2,9 mNAV, yang berarti investor membayar sekitar US$2,9 untuk setiap US$1 nilai Bitcoin yang dimiliki perusahaan tersebut.
Premi tersebut mencerminkan bukan hanya nilai Bitcoin yang dipegang, tetapi juga ekspektasi pasar terhadap kemampuan perusahaan untuk terus mengakumulasi Bitcoin di masa depan. Namun, sebagian pelaku pasar berspekulasi bahwa selisih mNAV tersebut akan menyempit. Strategi yang digunakan adalah memiliki eksposur Bitcoin secara tidak langsung melalui IBIT, sambil mengambil posisi jual pada saham perusahaan cadangan aset kripto.
Ketika harga Bitcoin terkoreksi, saham perusahaan cadangan kripto ikut mengalami tekanan. Strategy kini diperdagangkan di kisaran 1,2 mNAV, jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Dalam kondisi ini, sejumlah pelaku pasar diduga menutup strategi tersebut dan melakukan penyesuaian portofolio.
Data pengajuan 13F ke SEC yang dihimpun oleh 13.info menunjukkan bahwa kepemilikan institusi atas saham IBIT turun dari 417 juta lembar pada kuartal ketiga menjadi 230 juta lembar pada kuartal keempat. Penurunan ini mengindikasikan adanya rotasi dan rebalancing di kalangan investor institusional.
Selain perubahan di sektor aset kripto, Harvard juga meningkatkan investasinya di sejumlah perusahaan teknologi dan infrastruktur, termasuk Broadcom, TSMC, Alphabet sebagai induk Google, serta operator kereta Union Pacific. Di sisi lain, eksposur terhadap Amazon, Microsoft, dan Nvidia dilaporkan mengalami penurunan.
Baca juga: Sejauh Mana Bitcoin Bisa Turun? Analis Sebut Bottom Berada di US$55.000
