Michael Saylor

Michael Saylor Tegaskan Strategy Akan Terus Beli Bitcoin Selamanya

Chairman Strategy Michael Saylor kembali menegaskan komitmennya terhadap Bitcoin. Meski perusahaan yang ia pimpin, Strategy, kini mencatat kerugian belum terealisasi lebih dari US$5 miliar atau sekitar Rp84 triliun, Saylor memastikan akumulasi Bitcoin akan terus berlanjut tanpa batas waktu.

Dalam wawancara bersama CNBC pada Selasa (10/2/2026), Saylor menyatakan bahwa perusahaannya tidak memiliki rencana untuk menjual kepemilikan Bitcoin.

“Kami tidak akan menjual. Kami akan terus membeli Bitcoin. Saya memperkirakan kami akan membeli Bitcoin setiap kuartal, selamanya,” ujar Saylor.

Baca juga: Strategy Catat Kepemilikan 709.715 Bitcoin

Kerugian Kertas Membengkak di Tengah Koreksi Harga

Strategy, yang dikenal sebagai perusahaan dengan cadangan Bitcoin terbesar di dunia, kembali membeli Bitcoin senilai US$90 juta atau sekitar Rp1,4 triliun pekan lalu. Pembelian ini dilakukan saat harga Bitcoin mengalami koreksi sekitar 8 persen.

Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan Strategy kini mencapai 714.644 BTC, senilai kurang lebih US$49 miliar atau sekitar Rp822 triliun pada harga saat ini. Namun, dengan Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$68.800, nilai tersebut sekitar US$5,1 miliar lebih rendah dibandingkan total harga beli perusahaan.

Sebagai catatan, harga Bitcoin telah turun sekitar 45 persen dari rekor tertinggi US$126.080 yang tercapai pada Oktober 2025. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa Strategy, yang menguasai sekitar 3,4 persen dari total suplai Bitcoin, berpotensi tertekan untuk menjual sebagian asetnya guna memenuhi kewajiban utang atau pembayaran dividen.

Namun, Saylor menepis kekhawatiran tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.

Baca juga: 3 Alasan Bitcoin Berpotensi Cetak Rekor Harga Baru pada 2026

Strategi Hadapi Risiko

Menurut Saylor, Strategy memiliki cadangan kas yang cukup untuk menutup kewajiban utang dan pembayaran dividen hingga 2,5 tahun ke depan. Pada Desember 2025, perusahaan juga meluncurkan cadangan baru senilai US$1,44 miliar atau sekitar Rp23 triliun untuk memastikan pembayaran dividen dapat dilakukan tanpa menyentuh kepemilikan Bitcoin.

Cadangan tersebut bahkan diperkuat melalui penerbitan saham baru, sehingga memperpanjang bantalan likuiditas perusahaan.

Saylor juga menjelaskan bahwa skenario terburuk telah diperhitungkan.

“Jika Bitcoin turun 90 persen selama empat tahun ke depan, kami akan melakukan refinancing utang. Kami akan menggulirkannya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa agar skenario tersebut terjadi, harga Bitcoin harus turun dari sekitar US$68.000 ke US$8.000.

“Jika Anda berpikir Bitcoin akan menjadi nol, maka kami akan menghadapinya saat itu. Tapi saya tidak percaya itu akan terjadi. Dan saya juga tidak melihat Bitcoin turun ke US$8.000,” kata Saylor.

Di sisi lain, saham Strategy (MSTR) yang kerap disebut Saylor sebagai “Bitcoin dengan leverage” atau versi penguat pergerakan Bitcoin, masih berada di bawah tekanan. Saham tersebut turun sekitar 2,7 persen pada perdagangan Selasa dan telah merosot hampir 66 persen dalam enam bulan terakhir, diperdagangkan di kisaran US$134,58 per saham.

Baca juga: Penerbit USDT Tether Borong 8.888 Bitcoin di Awal 2026