Tokocrypto

Tokocrypto Bukukan Nilai Transaksi Kripto Hingga Rp160 Triliun Sepanjang 2025

Tokocrypto, exchange kripto Indonesia yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mencatatkan kinerja bisnis yang solid dan berkelanjutan sepanjang 2025. Pertumbuhan tersebut tercermin dari peningkatan jumlah pengguna, ekspansi produk, serta kontribusi aktif perusahaan dalam memperkuat ekosistem industri kripto nasional.

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Coinvestasi, hingga akhir 2025 Tokocrypto telah melayani lebih dari 4,8 juta pengguna, dengan pertumbuhan pengguna aktif tahunan mencapai 75 persen secara year-on-year (YoY). Sepanjang periode yang sama, total nilai transaksi Tokocrypto tercatat melampaui Rp160 triliun dengan pangsa pasar di atas 40 persen.

Capaian tersebut mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan pengguna serta aktivitas perdagangan yang tetap kuat di tengah dinamika pasar. Dari sisi produk, Tokocrypto kini menyediakan lebih dari 480 pasangan perdagangan berbasis rupiah (IDR pair), menjadikannya salah satu exchange kripto di Indonesia dengan pilihan pasangan IDR terbanyak.

Baca juga: Tokocrypto Terbitkan Proof of Reserves, Aset Pengguna Sentuh Rp5,81 Triliun

Pertumbuhan Bisnis Didorong Inovasi dan Edukasi

Dalam acara Indonesia Crypto Outlook (ICO) 2026 yang digelar Kamis (29/1/2026), CEO Tokocrypto Calvin Kizana menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari konsistensi strategi perusahaan yang berfokus pada pembangunan kepercayaan, inovasi produk, serta penerapan tata kelola yang kuat. Pendekatan tersebut sejalan dengan visi jangka panjang Tokocrypto untuk mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar.

“Pertumbuhan perusahaan tidak hanya berfokus pada akuisisi pengguna, tetapi juga pada keberlanjutan bisnis. Kami terus membangun perusahaan yang sehat secara finansial, inovatif dalam pengembangan produk, serta patuh terhadap regulasi. Saat ini, Tokocrypto menjadi salah satu dari sedikit startup dan exchange kripto resmi di Indonesia yang memiliki fondasi keuangan yang solid dan berkelanjutan,” ujar Calvin.

Dari sisi inovasi, Tokocrypto terus menghadirkan berbagai pengembangan untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Layanan staking kini mencakup lebih dari 80 aset kripto, dilengkapi dengan fitur AI Analysis untuk membantu analisis sentimen pasar, Rewards Hub, serta pengembangan fitur lanjutan seperti QRIS Deposit dan layanan Futures atau Derivatif yang direncanakan meluncur dalam waktu dekat. Seluruh pengembangan tersebut dibangun dengan mengedepankan standar keamanan dan kepatuhan regulasi guna melindungi pengguna.

Selain pengembangan layanan perdagangan, Tokocrypto juga aktif memperluas kolaborasi ekosistem. Hingga saat ini, perusahaan telah menjalin lebih dari 100 kemitraan strategis dengan berbagai brand. Di sisi edukasi, Tokocrypto mendorong peningkatan literasi kripto nasional melalui lebih dari 168 inisiatif edukasi yang menjangkau lebih dari 125 ribu peserta di lebih dari 50 kota.

Salah satu tonggak penting adalah pelaksanaan kegiatan literasi kripto secara luring di Papua, yang menjadikan Tokocrypto sebagai exchange pertama yang menginisiasi program edukasi kripto secara langsung di wilayah tersebut.

ICO 2026 yang digelar Tokocrypto dan didukung oleh Xendit merupakan forum tahunan yang mempertemukan pelaku industri, regulator, investor, serta komunitas kripto. Forum ini membahas perkembangan industri aset kripto nasional, dinamika regulasi, serta arah pertumbuhan ekosistem kripto dan Web3 di Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Indonesia Crypto Network (ICN) bersama Coinvestasi mempresentasikan laporan “2025 Indonesia Crypto & Web3 Industry Report”. Laporan tersebut mengungkap sejumlah temuan penting terkait profil investor kripto nasional, salah satunya dominasi Generasi Z sebagai tulang punggung adopsi kripto di Indonesia, khususnya pada rentang usia 18–34 tahun. Bagi kelompok usia ini, kripto telah menjadi bagian dari percakapan finansial sehari-hari melalui konten digital, komunitas, dan jejaring sosial.

ICO 2026 turut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, antara lain Dr. Arief Wibisono, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal; Subani, Direktur Utama Bursa CFX; Robby, Ketua Umum Asosiasi Blockchain Indonesia; Sandiaga Uno, Co-Founder Saratoga sekaligus Indonesia Strategic Investor; Rifai Taberi, Direktur Government Relations Xendit; Prasetyo Katon, Head of Insights Dataxet Sonar; serta Niki Sekar Dewayani, Head of Community Coinvestasi.

Baca juga: CEO Tokocrypto: Bitcoin Layak Jadi Cadangan Negara untuk Diversifikasi Aset