Stanley Druckenmiller, miliarder yang pernah mengelola Quantum Fund milik George Soros, meyakini stablecoin bisa menjadi pemain kunci dalam sistem pembayaran dunia dalam 10 hingga 15 tahun ke depan.
Druckenmiller bukan nama sembarangan di dunia keuangan global. Ia menjabat sebagai manajer portofolio utama Quantum Fund selama lebih dari satu dekade, dari 1988 hingga 2000. Namanya menjadi legenda setelah terlibat dalam krisis “Black Wednesday” 1992, ketika ia dan George Soros berhasil meraup lebih dari US$1 miliar dari posisi short terhadap pound sterling Inggris, salah satu transaksi paling ikonik dalam sejarah pasar keuangan. Setelah berpisah dengan Soros, ia mendirikan Duquesne Capital dan mengelolanya selama puluhan tahun sebelum akhirnya menutup hedge fund tersebut pada 2010.
Baca juga: Minat Stablecoin Meningkat, BNB Chain Pimpin Pertumbuhan Hingga 133 Persen
Dolar AS Masih yang Terbaik di Antara yang Buruk
Dalam wawancara bersama Morgan Stanley, Druckenmiller menggambarkan dolar AS sebagai mata uang yang paling bisa diandalkan meski jauh dari sempurna. Dolar unggul bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena belum ada alternatif yang benar-benar lebih baik. Meski memiliki berbagai kelemahan termasuk risiko penurunan nilai jangka panjang, dolar tetap menjadi pilihan utama dalam sistem keuangan global.
Ia memperkirakan dolar masih akan mempertahankan statusnya sebagai mata uang cadangan utama dunia untuk saat ini. Namun ia mengaku tidak yakin posisi tersebut bisa bertahan hingga 50 tahun ke depan, dan bahkan membuka kemungkinan bahwa penggantinya kelak bisa datang dari dunia kripto.
Baca juga: Binance Kuasai 65 Persen Cadangan Stablecoin Global
Kripto Masih Diragukan
Terhadap aset kripto secara umum, sikap Druckenmiller tetap skeptis. Ia menilai kripto lebih banyak menawarkan solusi tanpa masalah yang jelas. Meski begitu, ia mengakui bahwa kripto telah membangun merek yang kuat dan basis investor yang besar, dua faktor yang bisa membantu aset ini bertahan sebagai instrumen penyimpan nilai dalam jangka panjang.
Baca juga: Malaysia Uji Coba Stablecoin Ringgit dan Tokenisasi Aset, Pertimbangkan Prinsip Syariah
Stablecoin Lain Cerita
Meski skeptis terhadap kripto secara umum, Druckenmiller justru melihat potensi besar pada stablecoin. Berbeda dengan aset kripto pada umumnya, stablecoin memiliki nilai yang dipatok terhadap mata uang tertentu, umumnya dolar AS dengan rasio 1:1, sehingga sering disebut sebagai dolar digital. Menurutnya, teknologi berbasis blockchain yang mendasari stablecoin berpotensi merevolusi infrastruktur pembayaran global dalam 10 hingga 15 tahun ke depan.
Pandangan ini sejalan dengan arah regulasi di Amerika Serikat, di mana pemerintah mulai memperkuat kerangka hukum untuk stablecoin melalui Undang-Undang GENIUS Act. Langkah tersebut dinilai tidak hanya memberikan kepastian hukum, tetapi juga bertujuan memperkuat posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan di panggung keuangan dunia.
Baca juga: Stablecoin Berpotensi Sedot Rp8.366 Triliun Dana Simpanan Bank AS pada 2028
