bitcoin

Harga Bitcoin Jatuh ke US$81.000, Ada Apa?

Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, mengalami tekanan tajam dan sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir di kisaran US$81.000. Penurunan ini terjadi di tengah aksi jual serentak yang melanda pasar aset berisiko, mulai dari aset kripto, saham teknologi, hingga logam mulia.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Jumat (30/1/2026) pagi, harga Bitcoin tercatat turun hingga 7 persen dalam satu hari, dari level US$88.000 ke titik terendah harian US$81.000. Level tersebut menjadi yang terendah sejak April 2025, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor ke sejumlah negara.

Grafik harga BTC/USD. Sumber: CoinMarketCap

Tekanan pada Bitcoin turut menyeret pasar aset kripto secara luas. Ethereum (ETH) merosot hingga 9 persen ke level US$2.700, sementara BNB, XRP, dan Solana (SOL) masing-masing terkoreksi sekitar 6–9 persen.

Hingga artikel ini ditulis, kapitalisasi pasar kripto global tercatat turun sekitar 6 persen ke kisaran US$2,8 triliun.

Baca juga: Emas dan Perak Pesta Rekor, Bagaimana Nasib Bitcoin?

Likuidasi Besar-besaran

Aksi jual yang agresif ini memicu lonjakan likuidasi di pasar derivatif kripto, mencerminkan meningkatnya kepanikan investor dalam waktu singkat. Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi kripto mencapai US$1,77 miliar dengan sekitar 279 ribu trader terdampak.

Total likuidasi kripto harian. Sumber: Coinglass

Mayoritas likuidasi berasal dari posisi long yang bertaruh pada kenaikan harga, dengan nilai mencapai US$1,66 miliar. Bitcoin dan Ethereum mencatat likuidasi long terbesar, masing-masing sebesar US$806 juta dan US$405 juta.

Indeks Fear and Greed kripto, yang mengukur sentimen pasar, terus anjlok ke skor 16 dari 100, menunjukkan ketakutan ekstrem yang membuat investor enggan untuk masuk ke aset berisiko.

Indeks Fear and Greed kripto. Sumber: Alternative.me

Baca juga: ETF Bitcoin Spot AS Alami Outflow Rp22 Triliun, Terburuk sejak Februari 2025

Gejolak Aset Global Tekan Pasar Kripto

Pelemahan Bitcoin tidak terjadi secara terpisah. Pasar global dikejutkan oleh pembalikan tajam pada logam mulia setelah emas dan perak sebelumnya mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa. Harga emas, yang sempat menembus US$5.600 per ons, anjlok sekitar US$400 hanya dalam waktu 30 menit. Penurunan tersebut menghapus nilai pasar emas dalam jumlah yang bahkan melampaui kapitalisasi pasar Bitcoin secara keseluruhan.

Situasi ini mencerminkan meningkatnya ketegangan di pasar keuangan global, seiring investor merespons ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran terhadap stabilitas sistem keuangan. Aksi jual cepat pada aset lindung nilai tradisional turut menyeret Bitcoin dan aset kripto lainnya, yang masih diperlakukan sebagai bagian dari kelas aset berisiko.

Tekanan di pasar kripto juga sejalan dengan pelemahan tajam saham teknologi Amerika Serikat. Saham Microsoft tercatat anjlok lebih dari 12 persen, menjadi penurunan harian terburuk sejak Maret 2020, setelah perusahaan melaporkan kinerja keuangan yang di bawah ekspektasi. Pelemahan ini menular ke sektor teknologi secara luas dan semakin membebani sentimen risiko global.

Faktor politik turut memperbesar ketidakpastian pasar. Gagalnya parlemen Amerika Serikat meloloskan prosedur awal pendanaan pemerintah meningkatkan kekhawatiran akan potensi penutupan pemerintahan dalam waktu dekat. Penutupan pemerintah sebelumnya pada Oktober lalu bertepatan dengan penurunan harga Bitcoin sekitar 15 persen, yang kini kembali menjadi referensi risiko bagi pelaku pasar.

Sejumlah analis menyoroti pentingnya pergerakan harga Bitcoin menjelang penutupan candle bulanan. Area pembukaan harga tahunan di kisaran US$87.500 dinilai sebagai level krusial penentu arah tren berikutnya. Penutupan bulanan di atas level tersebut berpotensi memulihkan kepercayaan pasar, sementara penutupan di bawahnya dapat membuka risiko penurunan lanjutan menuju fase pasar bearish yang lebih dalam.

Dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global, stabilitas harga logam mulia, serta perkembangan risiko ekonomi dan politik di Amerika Serikat.

Baca juga: Bitcoin Turun ke US$86.000, Investor Pilih Wait and See Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed