Bitcoin bergerak di sekitar level US$71.000 pada perdagangan Jumat (14/3/2026), seiring pasar merespons data ekonomi Amerika Serikat yang relatif stabil. Meski sejumlah indikator makro terbaru dirilis, pergerakan harga Bitcoin masih terlihat ragu-ragu dan cenderung bergerak dalam rentang sempit.
Data CoinMarketCap menunjukkan harga Bitcoin sempat naik dari sekitar US$69.000 ke level tertinggi harian di US$71.995. Kenaikan ini mencerminkan penguatan sekitar 2 persen dalam 24 jam terakhir. Pemulihan tersebut turut mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin meningkat hingga mencapai sekitar US$1,42 triliun.

Kenaikan Bitcoin juga ikut memicu penguatan pasar aset kripto secara lebih luas. Ethereum kembali naik ke kisaran US$2.100 dengan kenaikan lebih dari 3 persen. BNB (BNB) dan XRP (XRP) masing-masing naik sekitar 2 persen, sementara Solana (SOL) mencatat kenaikan lebih tinggi sekitar 5 persen.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar aset kripto global meningkat hampir 3 persen menjadi sekitar US$2,44 triliun.
Baca juga: Strategis Bloomberg Prediksi Bitcoin Bisa Jatuh ke US$10.000
Data Ekonomi AS Redakan Kekhawatiran Pasar
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim pengangguran awal mencapai 213.000 untuk pekan yang berakhir pada 7 Maret. Angka tersebut hanya turun sekitar 1.000 dari minggu sebelumnya dan sekitar 2.000 lebih rendah dari perkiraan pasar.
Data ini memperkuat pandangan bahwa kondisi ekonomi Amerika Serikat masih relatif stabil.
Sebelumnya, laporan Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) yang dirilis pada Rabu (11/3/2026) juga menunjukkan hasil yang hampir sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga tidak memicu perubahan besar pada sentimen investor.
Di sisi lain, volatilitas masih terjadi di pasar energi global. Harga minyak melonjak lebih dari 5 persen dan sempat menembus US$95 per barel, dipicu ketidakpastian terkait konflik geopolitik di Timur Tengah.
Upaya pelepasan cadangan minyak strategis sebanyak 400 juta barel untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz sejauh ini belum mampu menahan kenaikan harga minyak.
Analis dari The Kobeissi Letter menilai lonjakan harga minyak sebagian besar dipicu oleh ketidakjelasan mengenai durasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut mereka, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang tidak memberikan kepastian mengenai lamanya konflik membuat pasar memperkirakan ketegangan geopolitik masih dapat berlangsung setidaknya hingga akhir Maret.
Di sisi lain, data inflasi terbaru tidak banyak mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.
Berdasarkan data dari CME Group FedWatch Tool, peluang bank sentral AS untuk memangkas suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 18 Maret kini turun menjadi kurang dari 1 persen.
Padahal, pemangkasan suku bunga biasanya dipandang sebagai sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk aset kripto seperti Bitcoin.
Baca juga: Strategy Borong Bitcoin Hingga Rp21 T, Cadangan Tembus 738.731 BTC
Trader Tunggu Arah Pergerakan Bitcoin
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah analis menilai pergerakan harga Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi sambil menunggu katalis baru dari pasar.
Trader kripto Daan Crypto Trades menyebut level US$72.000 sebagai area resistance utama dan US$62.000 sebagai area dukungan penting dalam jangka pendek. Sementara itu, titik keseimbangan volume perdagangan atau Point of Control (PoC) berada di sekitar US$68.000.
Menurutnya, selama harga Bitcoin masih bergerak di antara dua level tersebut, pasar berpotensi mengalami pergerakan yang tidak menentu.
“Pergerakan di dalam rentang seperti ini sering kali membuat pasar terlihat ‘choppy’ dan dapat berlangsung selama beberapa minggu sebelum akhirnya menentukan arah yang jelas,” ujarnya melalui unggahan di platform X.
Secara jangka menengah, sejumlah analis masih mempertahankan pandangan yang lebih berhati-hati terhadap pergerakan Bitcoin.
Analis kripto Rekt Capital menilai bahwa berdasarkan pola historis, siklus pasar bearish Bitcoin kemungkinan masih akan berlanjut untuk sementara waktu.
Ia menyebut bahwa dari sisi waktu, Bitcoin kini mendekati setengah perjalanan dalam fase pasar bearish. Namun dari sisi kedalaman koreksi, sekitar 75 persen dari penurunan harga dalam siklus tersebut dinilai sudah terjadi.
Baca juga: Bitcoin Kembali Sentuh US$74.000, Ini Pendorongnya
