Bitcoin berpotensi menjadi salah satu aset yang diuntungkan apabila konflik antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung dalam jangka waktu panjang. Kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya belanja pemerintah untuk kebutuhan perang, kenaikan utang negara, serta kemungkinan penurunan suku bunga. Faktor-faktor tersebut secara historis sering menciptakan lingkungan yang mendukung kenaikan harga Bitcoin.
Mengutip laporan CoinDesk pada Senin (9/3/2026), makrostrategis Mark Connors menilai konflik yang berkepanjangan dapat menciptakan kondisi ekonomi global yang mendorong investor beralih ke aset alternatif seperti Bitcoin.
Baca juga: Strategy Borong Bitcoin Hingga Rp21 T, Cadangan Tembus 738.731 BTC
Perang dan Peningkatan Likuiditas Global
Connors menjelaskan bahwa perang membutuhkan biaya yang sangat besar. Untuk membiayai operasi militer, pemerintah biasanya menerbitkan lebih banyak utang.
Ia mengatakan bahwa penerbitan utang dalam jumlah besar akan meningkatkan jumlah dolar yang beredar di sistem keuangan. Ketika jumlah uang yang beredar meningkat, nilai mata uang tersebut bisa melemah. Kondisi ini sering disebut sebagai currency debasement.
Ketika nilai mata uang fiat melemah, aset yang tidak bergantung pada dolar, seperti Bitcoin, sering kali menjadi lebih menarik bagi investor.
“Likuiditas adalah penggerak utama Bitcoin,” ujar Connors.
Ia menambahkan bahwa jika konflik AS–Iran berlangsung selama beberapa bulan ke depan, pengeluaran pemerintah AS untuk membiayai operasi militer kemungkinan akan meningkat.
“Jika perang berlangsung lebih lama, itu berarti lebih banyak pengeluaran dan defisit anggaran yang semakin besar. Kondisi ini justru konstruktif bagi Bitcoin,” jelasnya.
Baca juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Lagi Saat Harga BTC di US$66.000
Utang Amerika Serikat Terus Meningkat
Connors juga menyoroti bahwa beban utang pemerintah Amerika Serikat saat ini meningkat dengan sangat cepat. Ia memperkirakan utang federal telah tumbuh sekitar 14 persen secara tahunan sejak pertengahan 2025.
Jika tren ini terus berlanjut, total utang pemerintah AS berpotensi meningkat sekitar 15 persen secara tahunan.
Menurut Connors, pertumbuhan utang yang cepat tersebut pada dasarnya mencerminkan pelemahan nilai mata uang.
“Itu adalah bentuk debasement,” katanya.
Baca juga: Bitcoin Kembali Sentuh US$74.000, Ini Pendorongnya
Bitcoin Mulai Menunjukkan Reaksi Pasar
Pergerakan harga Bitcoin tampaknya sudah mulai mencerminkan dinamika tersebut. Pada awal pekan, Bitcoin mengalami kenaikan setelah sebagian investor mulai memindahkan dana dari pasar saham dan menyesuaikan portofolio mereka menghadapi kemungkinan konflik yang lebih panjang.
Sejak serangan pertama Amerika Serikat terhadap Iran, harga Bitcoin tercatat naik sekitar 3,6 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sebagian investor mulai melihat Bitcoin sebagai salah satu aset yang dapat digunakan untuk melindungi nilai di tengah ketidakpastian geopolitik.
Connors juga mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat mendorong kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan inflasi global.
Namun, ia menilai bahkan kondisi stagflasi, yaitu situasi ketika pertumbuhan ekonomi melambat tetapi inflasi tetap tinggi, masih bisa menjadi lingkungan yang mendukung bagi Bitcoin.
Dalam kondisi tersebut, pembuat kebijakan biasanya akan lebih memprioritaskan stabilitas pasar keuangan serta kemampuan pemerintah untuk membiayai pengeluaran, dibandingkan hanya fokus menekan inflasi.
Baca juga: Bitcoin Tunjukkan Sinyal Bottom, Analis Bandingkan dengan Krisis FTX
Peran The Fed dan Potensi Penurunan Suku Bunga
Menurut Connors, Federal Reserve pada praktiknya memiliki peran tambahan selain menjaga stabilitas harga dan tingkat pengangguran. Bank sentral AS juga harus memastikan pasar keuangan, terutama pasar obligasi pemerintah AS, tetap berjalan dengan baik.
Ia menilai otoritas moneter tidak dapat membiarkan gangguan seperti krisis pasar repo pada 2019 atau kegagalan bank regional yang terjadi pada 2023 setelah kenaikan suku bunga yang agresif.
“The Fed harus memastikan pasar Treasury tetap berjalan dengan baik,” ujar Connors.
Tekanan untuk menjaga stabilitas pasar ini dapat mendorong kebijakan suku bunga yang lebih rendah di masa depan, terutama jika pemerintah mulai menerbitkan lebih banyak obligasi jangka pendek dibandingkan obligasi jangka panjang.
Penurunan suku bunga juga berpotensi terjadi apabila Kevin Walsh, yang dikenal memiliki pandangan kebijakan moneter lebih longgar dan dipilih Presiden Donald Trump, resmi menjabat sebagai Ketua Federal Reserve pada Mei mendatang setelah mendapat persetujuan Senat.
Kondisi Ideal bagi Bitcoin
Dengan semakin besarnya utang yang harus diperbarui dalam jangka pendek, menurunkan suku bunga dapat membantu pemerintah mengurangi beban pembayaran bunga.
Jika suku bunga turun sementara defisit anggaran terus meningkat, kondisi likuiditas global berpotensi menjadi lebih longgar.
Connors menilai kombinasi ini secara historis sering menjadi latar belakang yang mendukung kenaikan harga Bitcoin.
“Ketika suku bunga turun sementara utang terus meningkat, itulah latar belakang di mana Bitcoin biasanya berkinerja baik,” pungkasnya.
Baca juga: Biaya Mining Bitcoin di Iran Hanya Rp22 Juta, Ini Penyebabnya
