Platform investasi digital Nanovest mencatat lonjakan volume perdagangan sebesar 70 persen secara tahunan (YoY) sepanjang 2025. Pertumbuhan tersebut turut diiringi peningkatan jumlah pengguna terverifikasi (KYC) yang telah melampaui 1,1 juta akun. Capaian ini mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap instrumen investasi digital di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.
CMO Nanovest, Jovita Widjaja, menyampaikan bahwa pertumbuhan tersebut didorong oleh peluncuran sejumlah produk berbasis Web3, seperti IDDB, crypto staking, gadai digital, dan Web3 trading. Inovasi ini dinilai memperluas akses investor terhadap beragam pilihan aset dalam satu ekosistem terintegrasi.
Namun, di balik peningkatan transaksi tersebut, Nanovest juga melihat perubahan signifikan pada perilaku investor, terutama dari kalangan generasi muda.Di sisi lain, peningkatan transaksi juga dibarengi perubahan perilaku investor, khususnya dari kalangan generasi muda.
“Kami melihat adanya pergeseran pola pikir, terutama di kalangan investor muda. Fokusnya bukan lagi pada aset yang berpotensi naik dalam waktu singkat, melainkan bagaimana membangun portofolio yang mampu bertahan dan tumbuh di berbagai kondisi pasar,” ujar Jovita dalam acara Golden Hours di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, kondisi ini menandakan pasar mulai memasuki fase yang lebih matang. Investor tidak lagi semata mengejar momentum jangka pendek, tetapi mulai mempertimbangkan strategi jangka panjang yang lebih disiplin dan terukur.
Baca juga: Nanovest Catat Lonjakan Transaksi Pengguna 95% Sepanjang 2025, Didorong Faktor Ini!
Strategi Investasi di 2026
Dalam diskusi Golden Hours, para pembicara menilai 2026 berpotensi menjadi periode kedewasaan pasar. Investor didorong untuk lebih selektif serta memahami fundamental aset, bukan sekadar mengikuti tren.

CMO Jarvis Asset Management, Tjoe Ay, menekankan pentingnya mencermati arus dana institusi di pasar saham Indonesia. Ia menilai pergerakan IHSG pada 2026 akan sangat dipengaruhi oleh aliran dana di pasar, khususnya dari institusi seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, dan BPJS yang diperkirakan meningkat.
Jika arus dana institusi tersebut menguat, saham-saham dengan fundamental kuat berpotensi menjadi tujuan utama investasi. Karena itu, menurutnya, emiten dengan fundamental solid layak mendapat perhatian lebih pada 2026.
Selain pasar domestik, saham Amerika Serikat juga dinilai tetap menarik, terutama sektor finansial seperti JPMorgan, Visa, dan Mastercard, serta sektor teknologi seperti NVIDIA dan Microsoft yang dinilai mampu memonetisasi perkembangan kecerdasan buatan dan normalisasi aktivitas ekonomi global.
“Ke depan, sektor mineral tetap prospektif, terutama logam seperti emas, perak, hingga nikel. Aset berbasis komoditas ini layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi investasi setahun mendatang,” jelas Tjoe Ay.
Sementara itu, Investment Expert Jason Nathanael menekankan pentingnya membangun portofolio yang seimbang melalui diversifikasi lintas aset. Ia menyebut pendekatan investasi modern tidak lagi berfokus pada satu aset unggulan, melainkan kombinasi instrumen dengan fungsi berbeda.
“Portofolio ideal ke depan bukan lagi soal memilih satu aset terbaik, melainkan mengkombinasikan beberapa peran aset. Aset pertumbuhan menangkap peluang ekonomi baru, sementara aset defensif menjaga daya beli. Investor muda justru punya keunggulan waktu, sehingga strategi seimbang sejak awal akan jauh lebih berdampak dalam jangka panjang,” kata Jason.
Beberapa sektor global yang dinilai potensial antara lain saham teknologi dan finansial Amerika Serikat, serta emas sebagai instrumen lindung nilai. Diversifikasi lintas negara dan lintas kelas aset dinilai semakin relevan seiring meningkatnya minat investor Indonesia terhadap pasar global.
Baca juga: Nanovest Luncurkan Gadai Digital, Pinjaman Rupiah Berbasis Kripto Pertama di Indonesia
Ramadan sebagai Momentum Refleksi Finansial
Memasuki bulan Ramadan, Nanovest juga mengajak masyarakat menjadikan momen ini sebagai waktu refleksi finansial. Selain meningkatkan kualitas spiritual, Ramadan dinilai sebagai periode yang tepat untuk menata kembali strategi keuangan dan menyusun portofolio investasi yang lebih sehat.
Momentum ini diharapkan mendorong investor mengevaluasi tujuan finansial jangka panjang, mengelola risiko secara bijak, serta memperkuat disiplin dalam berinvestasi.
Melalui inisiatif seperti Golden Hours, Nanovest menegaskan posisinya bukan hanya sebagai platform transaksi, tetapi juga sebagai mitra edukasi finansial lintas generasi. Perusahaan menargetkan penguatan literasi keuangan sebagai fondasi agar masyarakat dapat berinvestasi secara lebih bijak, terukur, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.
Baca juga: 5 Aplikasi Trading Kripto Terbaik di 2025
