phk

Mantan Bos Twitter Jack Dorsey PHK 4.000 Karyawan Block karena AI

Perusahaan teknologi finansial Block, induk dari Square, Cash App, dan Afterpay, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 40 persen atau hingga 4.000 karyawannya. Keputusan besar ini disebut sebagai bagian dari restrukturisasi yang dipicu oleh percepatan adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dalam perusahaan.

Pendiri sekaligus CEO Block, Jack Dorsey, menegaskan bahwa langkah tersebut bukan disebabkan oleh melemahnya bisnis, melainkan perubahan fundamental dalam cara perusahaan beroperasi berkat teknologi AI.

Baca juga: Pengembang Agen AI OpenClaw yang Viral Larang Diskusi Bitcoin dan Kripto

Lebih dari 4.000 Karyawan Terdampak

Dalam surat kepada pemegang saham yang juga dibagikan melalui platform X, Dorsey menyebutkan bahwa lebih dari 4.000 karyawan akan terdampak. Dari sebelumnya lebih dari 10.000 karyawan, jumlah tenaga kerja Block akan dipangkas menjadi kurang dari 6.000 orang.

Menurut Dorsey, penggunaan intelligence tools atau alat berbasis AI yang dikembangkan perusahaan memungkinkan tim yang lebih kecil bekerja lebih efektif dan produktif.

“Tim yang jauh lebih kecil, dengan memanfaatkan alat yang kami bangun, dapat melakukan lebih banyak pekerjaan dengan hasil yang lebih baik. Kemampuan tools berbasis kecerdasan ini berkembang secara eksponensial setiap minggunya,” tulis Dorsey.

Chief Financial Officer Block, Amrita Ahuja, menambahkan bahwa perusahaan melihat peluang untuk bergerak lebih cepat dengan tim yang lebih ramping dan talenta berkualitas tinggi, sembari mengotomatisasi lebih banyak pekerjaan melalui AI.

Lonjakan jumlah karyawan Block dalam beberapa tahun terakhir terjadi saat pandemi, ketika permintaan layanan digital meningkat drastis.

Data menunjukkan bahwa pada akhir 2019, Block memiliki sekitar 3.835 karyawan. Jumlah tersebut melonjak hingga hampir 13.000 orang pada 2023 atau meningkat sekitar 237 persen dalam empat tahun.

Kini, seiring perubahan lanskap industri teknologi dan optimalisasi berbasis AI, perusahaan kembali memangkas struktur organisasi untuk menjadi lebih ramping dan efisien, mendekati skala sebelum pandemi.

Baca juga: AI Agent Buatan Developer OpenAI Tak Sengaja Transfer Memecoin Senilai Rp4 M ke Pengguna X

Janjikan Kompensasi bagi Karyawan Terdampak

Sebagai bentuk kompensasi, karyawan terdampak akan menerima gaji selama 20 minggu atau lebih tergantung masa kerja, tambahan satu minggu gaji untuk setiap tahun masa kerja, serta perlindungan asuransi kesehatan selama enam bulan.

Selain itu, karyawan juga diperbolehkan mempertahankan perangkat kerja perusahaan dan menerima tambahan dana sebesar US$5.000 atau sekitar Rp77,5 juta untuk kebutuhan pribadi.

Karyawan akan menerima pemberitahuan resmi terkait status mereka dalam waktu dekat.

Baca juga: OpenAI dan Paradigm Uji Keamanan Smart Contract Ethereum Lewat EVMbench

Bukan Karena Bisnis Melemah

Dorsey menegaskan bahwa keputusan PHK ini tidak didorong oleh tekanan finansial. Ia menyatakan kondisi bisnis Block tetap solid dengan laba kotor yang terus meningkat.

Pada laporan keuangan kuartal IV 2025, Block membukukan laba kotor sebesar US$2,87 miliar atau sekitar Rp44,5 triliun, naik 24 persen secara tahunan. Sementara itu, Cash App mencatat pertumbuhan pendapatan 33 persen secara tahunan menjadi US$1,83 miliar atau sekitar Rp28,4 triliun.

Respons pasar pun terbilang positif. Menurut data Google Finance, saham Block (XYZ) melonjak lebih dari 31 persen setelah pengumuman tersebut, mencerminkan optimisme investor terhadap efisiensi dan strategi jangka panjang perusahaan.

Baca juga: OpenAI dan Paradigm Uji Keamanan Smart Contract Ethereum Lewat EVMbench

AI Mengubah Struktur Perusahaan Global

Dorsey meyakini bahwa langkah yang diambil Block bukanlah sesuatu yang prematur.

“Saya tidak berpikir kami terlalu cepat. Saya rasa sebagian besar perusahaan justru terlambat menyadari perubahan ini. Dalam satu tahun ke depan, mayoritas perusahaan akan sampai pada kesimpulan yang sama dan melakukan perubahan struktural serupa,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dirinya memilih bertindak secara transparan dan cepat dibandingkan melakukan PHK bertahap dalam jangka panjang yang berpotensi merusak moral karyawan serta kepercayaan pemegang saham.

Keputusan Block mencerminkan tren yang semakin kuat di kalangan pemimpin industri teknologi. Perusahaan besar seperti Amazon, Meta, Microsoft, hingga Verizon juga telah melakukan gelombang PHK dalam setahun terakhir, yang sebagian dikaitkan dengan optimalisasi berbasis AI.

Amazon bahkan menyebut AI sebagai teknologi paling transformatif sejak internet dan menegaskan perlunya struktur organisasi yang lebih ramping agar dapat bergerak lebih cepat.

Baca juga: Revisi UU P2SK Ancam Exchange Kripto Lokal, Risiko PHK Mengintai