Ekstradisi Do Kwon

Raksasa Wall Street AS Dituding Lakukan Insider Trading Jelang Kolapsnya Ekosistem Terra

Jane Street, salah satu perusahaan quantitative trading terbesar di dunia, digugat atas dugaan praktik perdagangan orang dalam yang disebut-sebut ikut mempercepat runtuhnya ekosistem Terra pada 2022.

Gugatan ini diajukan oleh Todd Snyder, administrator likuidasi Terraform Labs, perusahaan yang didirikan Do Kwon dan berada di balik blockchain Terra, token Luna, serta stablecoin algoritmis TerraUSD (UST). Mengutip laporan Wall Street Journal, Snyder menuduh Jane Street memanfaatkan informasi penting yang belum dipublikasikan untuk melakukan front-running sebelum Terra-Luna kolaps.

Baca juga: Do Kwon Divonis 15 Tahun Penjara di AS atas Runtuhnya Terra Bernilai Rp665 Triliun

Diduga Gunakan Informasi Rahasia

Dalam dokumen gugatan, Jane Street disebut memperoleh informasi internal dari pihak-pihak yang memiliki hubungan dengan Terraform Labs. Informasi tersebut diduga digunakan untuk membuka posisi transaksi sebelum pasar bergerak besar.

Sebagai gambaran sederhana, front-running adalah praktik membeli atau menjual aset lebih dulu karena sudah mengetahui informasi penting yang belum diketahui publik. Ketika informasi itu akhirnya tersebar dan harga bergerak, pihak yang lebih dulu masuk bisa meraih keuntungan.

Snyder menyatakan Jane Street “menyalahgunakan hubungan pasar untuk memanipulasi pasar demi keuntungannya selama salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah kripto.” Ia menegaskan akan menempuh jalur hukum untuk memulihkan kerugian para kreditor Terraform Labs.

Gugatan tersebut tidak hanya menyasar Jane Street sebagai perusahaan, tetapi juga salah satu pendirinya, Robert Granieri, serta dua karyawannya, Bryce Pratt dan Michael Huang.

Baca juga: CEO Terra Do Kwon Akhirnya Ditangkap di Montenegro!

Penarikan UST yang Dipersoalkan

Salah satu peristiwa kunci terjadi pada 7 Mei 2022, beberapa hari sebelum UST kehilangan patokan 1:1 terhadap dolar AS.

Pada hari itu, Terraform Labs secara diam-diam menarik 150 juta UST dari Curve3pool, yaitu kolam likuiditas stablecoin terdesentralisasi. Menurut gugatan, sekitar 10 menit setelah penarikan tersebut dan sebelum ada pengumuman ke publik, sebuah wallet yang dikaitkan dengan Jane Street juga menarik 85 juta UST dari pool yang sama.

Administrator likuidasi menilai jarak waktu yang sangat singkat itu memperparah tekanan likuiditas dan mempercepat hilangnya kepercayaan pasar terhadap UST.

Sehari setelahnya, Do Kwon menjelaskan bahwa penarikan 150 juta UST itu bertujuan memindahkan likuiditas ke pool baru. Namun, gejolak pasar sudah terlanjur terjadi.

Pada 9 Mei 2022, saat UST mulai kehilangan patokannya, salah satu karyawan Jane Street disebut menghubungi Kwon melalui pesan grup dan menyatakan minat untuk membeli Bitcoin atau Luna. Dalam percakapan tersebut, Kwon menyinggung bahwa salah satu pendiri Jump Trading seharusnya sudah lebih dulu menghubungi mereka terkait rencana penggalangan dana Terraform.

Nama Jump Trading juga kembali muncul dalam gugatan terbaru ini. Sebelumnya, Snyder telah menggugat Jump dan sejumlah eksekutifnya, dengan tuduhan mengeksploitasi ekosistem Terra melalui kesepakatan tertutup untuk menopang nilai UST sebelum akhirnya runtuh. Dalam dokumen terbaru, sebagian informasi nonpublik diduga mengalir ke Jane Street melalui Jump. Namun, tuduhan ini masih dalam proses hukum dan belum terbukti di pengadilan.

Baca juga: Do Kwon Akui Bersalah dalam Kasus Penipuan Terraform Labs di AS

Bantahan Jane Street

Jane Street membantah seluruh tuduhan tersebut. Perusahaan menyebut gugatan ini sebagai klaim “putus asa” dan “tanpa dasar” yang bertujuan menarik uang dari mereka.

Menurut Jane Street, keruntuhan Terra-Luna bukan disebabkan oleh praktik perdagangan pihak luar, melainkan akibat “penipuan bernilai miliaran dolar” yang dilakukan oleh manajemen Terraform Labs sendiri. Mereka menyatakan akan membela diri secara tegas di pengadilan.

Hingga saat ini, belum ada putusan final. Proses hukum masih berjalan.

Dampak Runtuhnya Terra

Keruntuhan Terra pada Mei 2022 menjadi salah satu krisis terbesar dalam sejarah industri aset kripto. UST kehilangan patokan terhadap dolar AS, sementara Luna anjlok hingga mendekati nol hanya dalam hitungan hari.

Dalam waktu kurang dari satu minggu, kapitalisasi pasar lebih dari US$40 miliar atau sekitar Rp673,5 triliun (dengan asumsi kurs US$1 = Rp16.839) menguap. Dampaknya meluas ke berbagai perusahaan kripto yang memiliki eksposur terhadap Terra dan memicu gelombang kebangkrutan di sektor pinjaman kripto global.

Terraform Labs akhirnya mengajukan kebangkrutan pada 2024 dan setuju membayar penalti sebesar US$4,47 miliar kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC). Do Kwon sendiri dijatuhi hukuman 15 tahun penjara di Amerika Serikat setelah mengaku bersalah atas dua tuduhan pidana pada Agustus lalu.

Baca juga: Founder Terra Do Kwon Bakal Ubah Pembelaan dalam Kasus Penipuan AS