Indeks Fear and Greed kripto kembali menunjukkan tekanan sentimen yang semakin dalam. Indikator yang digunakan untuk mengukur psikologi pasar tersebut kini berada di level 7 dari 100, yang masuk dalam kategori extreme fear atau ketakutan ekstrem. Angka ini menjadi salah satu yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Alternative.me pada Jumat (20/2/2026), indeks tersebut bahkan sempat menyentuh angka 5 pada pekan sebelumnya. Level tersebut menyamai titik terendah yang terakhir kali tercatat pada 2019. Dalam metodologi indeks ini, skor yang rendah mencerminkan dominasi rasa takut di kalangan pelaku pasar, sedangkan skor tinggi biasanya identik dengan fase euforia atau keserakahan yang sering kali berkorelasi dengan kenaikan harga aset kripto.

Baca juga: Strategy Borong Bitcoin Rp2,8 Triliun, Total Kepemilikan Tembus 717.131 BTC
Eksodus Investor Ritel
Kondisi sentimen yang memburuk ini terjadi seiring dengan pelemahan harga Bitcoin (BTC) dalam beberapa bulan terakhir. Saat ini, aset kripto terbesar di dunia itu diperdagangkan di kisaran US$67.000 atau, turun sekitar 46 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa di US$126.000 yang tercatat pada awal Oktober 2025.
Penurunan indeks kripto beriringan dengan performa harga Bitcoin yang terus jatuh dalam beberapa bulan terakhir, dengan harga saat ini di kisaran US$67.000, terlampau jauh hingga 46% dari rekor tertinggi sepanjang masa di US$126.000 yang tercatat pada awal Oktober 2025.

Ethereum (ETH) juga mengalami tekanan serupa. Aset kripto terbesar kedua tersebut kini berada di kisaran US$1.900, terkoreksi sekitar 60 persen dari rekor tertingginya di US$4.950 atau sekitar Rp83,6 juta pada Agustus 2025.
Analis on-chain CryptoQuant menilai bahwa pasar saat ini tengah mengalami eksodus besar-besaran investor ritel. Ketidakpastian ekonomi global, termasuk dinamika kebijakan perdagangan yang fluktuatif serta ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait Greenland, serta antara Amerika Serikat dan Iran, turut memperburuk sentimen.
Selain itu, Departemen Keuangan AS disebut mengalihkan likuiditas ke Treasury General Account (TGA), sehingga mengurangi aliran dana ke aset yang dianggap lebih spekulatif seperti Bitcoin.
Dampaknya, pasar menyaksikan likuidasi besar oleh investor institusional atau whale serta arus keluar dana dari produk ETF berbasis kripto. BlackRock tercatat mengalami arus keluar lebih dari US$350 juta atau sekitar Rp5,9 triliun dalam sebulan terakhir.
Sejumlah lembaga keuangan global bahkan memproyeksikan potensi penurunan lanjutan. Standard Chartered memperkirakan Bitcoin masih berpeluang turun hingga US$50.000 sebelum kembali menuju rekor tertinggi baru.
Sementara itu, analis CryptoQuant menyebut level US$55.000 sebagai bottom Bear Bitcoin, yakni titik terendah siklus bearish sebelum fase konsolidasi dan potensi pemulihan.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah pendukung Bitcoin tetap menunjukkan keyakinan jangka panjang. Salah satunya adalah Strategy, perusahaan yang dipimpin oleh Co-founder dan Executive Chairman Michael Saylor. Perusahaan itu terus menambah kepemilikan Bitcoin yang kini bernilai sekitar US$47 miliar. Saylor bahkan menegaskan bahwa Strategy berencana untuk terus membeli Bitcoin “setiap kuartal, selamanya”.
Baca juga: Michael Saylor Tegaskan Strategy Akan Terus Beli Bitcoin Selamanya
