Pasar aset kripto kembali berada dalam tekanan pada awal pekan, dengan mayoritas harga bergerak di zona merah setelah Bitcoin turun mendekati level US$68.000. Pelemahan ini terjadi menjelang pekan yang padat agenda ekonomi Amerika Serikat, termasuk rilis notulen rapat Federal Reserve (The Fed) dan data inflasi inti personal consumption expenditures (PCE).
Menurut data CoinMarketCap pada Senin (16/2/2026), harga Bitcoin sempat turun lebih dari 2 persen dari level US$70.600 menuju kisaran US$68.000, sebelum bergerak stabil di sekitar US$68.700. Koreksi ini turut menekan kapitalisasi pasar Bitcoin menjadi sekitar US$1,37 triliun, dengan volume perdagangan harian yang melemah 16 persen.

Dengan posisi harga saat ini, Bitcoin masih terpaut sekitar 45 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa di US$126.000 yang tercatat pada Oktober 2025.
Baca juga: Bitcoin Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa di Atas US$125.000
Pasar Kripto Kembali Memerah
Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga menjalar ke sejumlah aset kripto utama seperti Ethereum (ETH) yang turun hingga 6 persen ke kisaran US$1.980. BNB dan Solana masing-masing turun 2–4 persen, sementara XRP mencatat penurunan terdalam sebesar 9 persen. Dari 100 aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, sebanyak 85 di antaranya mengalami koreksi harga.
Aset kripto berbasis privasi seperti Monero dan Zcash bahkan turun masing-masing sekitar 10 persen dan 8 persen. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan tercatat melemah 3 persen ke kisaran US$2,3 triliun.
Tekanan juga terlihat di pasar derivatif kripto. Data Coinglass menunjukkan total likuidasi harian mencapai sekitar US$265 juta. Posisi long menjadi yang paling terdampak dengan kerugian sekitar US$221 juta, melibatkan lebih dari 101 ribu trader. Ethereum dan Bitcoin mencatatkan nilai likuidasi terbesar dalam periode tersebut.

Indeks Fear and Greed kripto yang mengukur sentimen pasar terus berada di fase ketakutan ekstrem, yang membuat para trader enggan untuk masuk ke aset berisiko seperti kripto.

Baca juga: Indeks Kripto Terjun Bebas, Sentuh Titik Terendah Sejak 2019
Menanti Sinyal dari The Fed
Pelemahan ini terbilang mengecewakan mengingat data inflasi Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menunjukkan perlambatan. Indeks harga konsumen (CPI) AS tercatat tumbuh 2,4 persen secara tahunan pada Januari, turun dari 2,7 persen pada Desember. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed berpotensi memangkas suku bunga setidaknya dua kali tahun ini, masing-masing sebesar 25 basis poin.
Harapan pemangkasan suku bunga sempat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,05 persen, level terendah sejak awal Desember. Bitcoin bahkan sempat menguat dari sekitar US$66.800 pada Jumat menjadi di atas US$70.000 selama akhir pekan. Namun, penguatan tersebut gagal bertahan.
Pelaku pasar kini menantikan rilis notulen rapat The Fed bulan Januari serta data inflasi inti PCE yang menjadi acuan utama bank sentral AS dalam menentukan kebijakan suku bunga. Berbeda dengan CPI, PCE dinilai lebih mencerminkan pola konsumsi masyarakat secara luas sehingga menjadi indikator penting dalam membaca arah kebijakan moneter.
Selain itu, dinamika pasar tradisional juga turut memengaruhi sentimen kripto. Penguatan yen Jepang menjadi salah satu faktor yang diperhatikan, terutama karena dalam beberapa bulan terakhir Bitcoin menunjukkan korelasi positif yang kuat dengan mata uang tersebut. Jika yen terus menguat, kondisi ini berpotensi menjadi katalis tambahan bagi pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.
Baca juga: Sejauh Mana Bitcoin Bisa Turun? Analis Sebut Bottom Berada di US$55.000
