bitcoin turun

Indeks Kripto Terjun Bebas, Sentuh Titik Terendah Sejak 2019

Sentimen pasar aset kripto saat ini berada dalam fase yang sangat tertekan. Indeks Crypto Fear & Greed, yang digunakan untuk mengukur tingkat optimisme atau ketakutan investor, turun ke angka 5 dari skala 0 hingga 100. Angka ini menjadi yang terendah dalam lebih dari enam tahun terakhir dan menunjukkan bahwa pasar sedang diliputi kepanikan ekstrem.

Berdasarkan data Alternative.me pada Kamis (12/2/2026), skor 5 menempatkan pasar jauh di dalam kategori Extreme Fear, menjadi yang terendah sejak Agustus 2019. Artinya, sebagian besar investor sedang merasa takut dan cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar kripto.

Indeks Fear and Greed kripto. Sumber: Alternative.me

Penurunannya terjadi sangat cepat. Pada 4 Februari, indeks masih berada di angka 11. Sehari kemudian turun ke 9, lalu anjlok ke 5. Dalam hitungan hari, kepercayaan pasar menyusut drastis seiring harga aset kripto yang terus melemah.

Indeks Crypto Fear & Greed dihitung dari berbagai faktor, seperti volatilitas harga, momentum pasar, dominasi Bitcoin, tren pencarian Google, aktivitas media sosial, hingga survei sentimen investor. Semua indikator tersebut saat ini menunjukkan satu hal yang sama: pasar sedang dilanda ketakutan.

Untuk memahami skala ini, nilai 0–24 masuk kategori Extreme Fear, 25–49 Fear, 50 Netral, 51–74 Greed, dan 75–100 Extreme Greed. Dengan posisi di angka 5, kondisi pasar saat ini termasuk salah satu yang paling negatif dalam sejarah indeks tersebut.

Secara historis, level ketakutan ekstrem sering muncul di sekitar fase terendah pasar. Pada saat runtuhnya Terra/Luna dan krisis FTX pada Juni 2022, indeks sempat menyentuh angka 6. Pada 2019, angka serupa juga terjadi saat pasar berada dalam tren turun panjang.

Baca juga: Michael Saylor Tegaskan Strategy Akan Terus Beli Bitcoin Selamanya

Tekanan Makro dan Likuidasi Besar-besaran

Beberapa faktor global ikut memperparah kondisi ini. Ketidakpastian kebijakan moneter, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Dalam satu hari saja, likuidasi posisi leverage di pasar kripto mencapai lebih dari US$2,5 miliar atau sekitar Rp41,9 triliun.

Tekanan juga datang dari melambatnya arus dana ETF Bitcoin dan berkurangnya partisipasi investor ritel. Selain itu, Bitcoin kini semakin bergerak sejalan dengan pasar saham dan diperlakukan sebagai risk asset, bukan lagi dianggap sebagai “emas digital” yang relatif aman.

Harga Bitcoin mencerminkan tekanan tersebut. Setelah sempat mencapai sekitar US$126.000 pada Oktober 2025, harga Bitcoin turun hingga US$60.000 pada 6 Februari 2026. Ini berarti terjadi koreksi sekitar 52% dari puncaknya.

Grafik mingguan BTC/USD. Sumber: CoinMarketCap

Pada 5 Februari, harga bahkan sempat turun di bawah US$61.000 di tengah aksi jual besar-besaran. Saat itu, lebih dari US$1,26 miliar atau sekitar Rp21 triliun posisi perdagangan terlikuidasi. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan juga sempat menyusut sekitar US$2 triliun.

Walaupun dalam 24 jam terakhir Bitcoin kembali naik ke atas US$67.000, sentimen pasar belum benar-benar pulih.

Tekanan juga terasa di pasar altcoin. Sepanjang 2026, total kapitalisasi pasar kripto turun lebih dari 22%. Di luar penurunan Bitcoin, nilai pasar altcoin sendiri tetap merosot sekitar 21%.

Ethereum menjadi salah satu aset yang paling tertekan. Secara year to date, harga Ethereum turun lebih dari 33% dan saat ini diperdagangkan di bawah US$1.900. Pelaku pasar kini menunggu apakah harga akan menemukan titik terendahnya atau justru melanjutkan penurunan.

Baca juga: Bitcoin Anjlok Lagi, Turun di Bawah US$67.000