Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, kembali berada di bawah tekanan kuat dan memperpanjang tren koreksi tajam yang telah berlangsung sejak Oktober 2025. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi di kisaran US$126.000, Bitcoin kini diperdagangkan di rentang US$61.000–US$65.000, mencerminkan penurunan lebih dari 50 persen dari puncaknya.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Jumat (6/2/2026), harga Bitcoin sempat jatuh dari level US$72.000 ke titik terendah harian di sekitar US$60.000, dengan penurunan mencapai 10 persen dalam 24 jam terakhir. Hingga artikel ini ditulis, BTC terlihat mencoba pulih dan bergerak kembali di kisaran US$65.000.

Penurunan Bitcoin turut diikuti oleh tekanan besar di pasar altcoin. Ethereum (ETH) sebagai aset kripto terbesar kedua sempat anjlok hingga US$1.700 sebelum rebound ke area US$1.898, atau turun sekitar 10 persen secara harian. BNB (BNB) juga melemah sekitar 10 persen, sementara XRP (XRP) dan Solana (SOL) mencatat penurunan lebih dalam di kisaran 14–15 persen dalam periode yang sama.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global turut tergerus dan turun ke sekitar US$2,25 triliun, mencatatkan penurunan sekitar 8 persen dalam satu hari.
Baca juga: Analis Sebut Bitcoin Berisiko Uji Level US$56.000 di Tengah Lemahnya Sentimen
Likuidasi Besar-Besaran Menekan Pasar Kripto
Tekanan harga yang tajam ini berdampak signifikan pada pasar derivatif kripto. Total likuidasi harian tercatat mencapai US$2,71 miliar. Mayoritas kerugian berasal dari posisi long, yakni taruhan pada kenaikan harga, dengan nilai likuidasi mencapai US$2,28 miliar.

Bitcoin dan Ethereum menjadi kontributor utama likuidasi tersebut. Posisi long pada Bitcoin tercatat terlikuidasi hingga sekitar US$1,20 miliar, sementara Ethereum menyusul dengan likuidasi sebesar US$456 juta.
Dalam 24 jam terakhir, lebih dari 591.000 trader tercatat mengalami likuidasi. Likuidasi tunggal terbesar terjadi di exchange Binance pada pasangan BTC/USDT dengan nilai mencapai US$12,02 juta.
Tekanan ekstrem ini juga tercermin dari Indeks Fear and Greed kripto yang anjlok ke skor 9 dari 100, menandakan kondisi ketakutan ekstrem. Level ini menjadi yang terendah sejak keruntuhan exchange FTX pada November 2022.

Baca juga: Bhutan Jual Bitcoin di Tengah Tekanan Harga BTC
Mengapa Harga Bitcoin Terus Turun?
Banyak analis menilai koreksi Bitcoin kali ini tidak bisa dilepaskan dari kombinasi faktor makroekonomi dan perubahan struktur pasar. Mengutip laporan Decrypt, analis dari Stifel menyebut kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat masih menjadi pemicu utama tekanan harga.
Meskipun Federal Reserve telah memangkas suku bunga pada Desember lalu, sikap kebijakan yang tetap ketat dan sangat bergantung pada data dinilai mengecewakan pasar. Pendekatan ini mengindikasikan bahwa bank sentral belum siap mendorong pertumbuhan ekonomi secara agresif, mengingat risiko lonjakan inflasi yang masih membayangi.
Situasi tersebut diperparah oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, termasuk kembali menguatnya tensi perang dagang dan kebijakan tarif. Kondisi ini mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Selain faktor makro, perubahan perilaku pergerakan harga Bitcoin juga menjadi sorotan. Dalam setahun terakhir, Bitcoin tidak lagi bergerak sejalan dengan pelemahan dolar AS maupun peningkatan likuiditas global berbasis dolar, pola yang sebelumnya sering terjadi. Perubahan ini memunculkan persepsi bahwa Bitcoin mulai kehilangan daya tariknya sebagai lindung nilai terhadap pelemahan mata uang fiat.
Tekanan Tambahan dari Saham Teknologi
Tekanan terhadap Bitcoin juga datang dari pelemahan saham teknologi global. Analis mencatat bahwa meningkatnya ekspektasi inflasi, ditambah tanda-tanda tekanan kredit akibat investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan, telah membebani kinerja saham teknologi.
Bitcoin, yang dalam beberapa tahun terakhir cenderung bergerak searah dengan indeks saham teknologi seperti Nasdaq, ikut terseret dalam pelemahan tersebut. Stifel bahkan menyoroti jarak pergerakan antara Bitcoin dan indeks Nasdaq 100 yang terus melebar sejak Oktober sebagai sinyal yang mengkhawatirkan, baik bagi pasar kripto maupun pasar saham teknologi.
Penurunan harga Bitcoin di tengah saham teknologi yang masih relatif dekat dengan level tertingginya dinilai sebagai indikasi bahwa tekanan di pasar ekuitas berpotensi menyusul.
Baca juga: Bitcoin Jatuh ke US$75.000, Hapus Total Kenaikan Pasca Kemenangan Trump
Zona Kritis Harga Bitcoin
Dari sisi teknikal dan data on-chain, analis melihat sejumlah area krusial yang kini menjadi perhatian pelaku pasar. Level US$69.000 atau sekitar Rp1,10 miliar, yang merupakan puncak siklus bullish 2021, sebelumnya dipandang sebagai area penopang penting. Namun, Bitcoin kini bergerak stabil di bawah level tersebut.
Data transaksi menunjukkan rentang harga US$58.000 hingga US$69.000 sebagai zona permintaan kuat, didukung oleh volume transaksi historis yang besar serta keberadaan rata-rata pergerakan 200 pekan di sekitar US$58.000.
Meski demikian, sejarah pergerakan siklus Bitcoin menunjukkan bahwa harga kerap menembus puncak siklus sebelumnya sebelum benar-benar membentuk dasar harga. Pola ini membuka ruang penurunan lanjutan, terutama jika sentimen negatif di pasar bertahan lebih lama.
Dalam skenario terburuknya, Stifel memproyeksikan Bitcoin berpotensi turun hingga US$38.000 dalam beberapa bulan ke depan. Proyeksi ini didasarkan pada pola penurunan ekstrem yang terjadi pada fase super-bear market sebelumnya, yakni pada 2011, 2014, 2018, dan 2022.
Pada periode-periode tersebut, Bitcoin tercatat mengalami koreksi antara 76 persen hingga 93 persen dari puncaknya. Dengan mempertimbangkan tren penurunan yang cenderung semakin moderat dari waktu ke waktu, Stifel memperkirakan koreksi sekitar 70 persen dari rekor Oktober lalu sebagai batas bawah pada siklus saat ini.
Meski begitu, analis menegaskan bahwa proyeksi tersebut bukan merupakan skenario dasar, melainkan gambaran terburuk apabila tekanan makroekonomi dan sentimen pasar tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu dekat.
Baca juga: Trader Ethereum Rugi Rp3,7 Triliun Pasca Likuidasi Kripto Besar-besaran
