bitcoin

Reli Bitcoin Angkat Inflow ETF BTC Spot ke Rekor Tertinggi Tiga Bulan, Tembus Rp12 Triliun

Lonjakan harga Bitcoin (BTC) ke kisaran US$95.000 memicu arus dana masuk terbesar dalam satu hari ke produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat dalam tiga bulan terakhir. Total dana yang mengalir ke ETF Bitcoin spot pada 13 Januari 2026 tercatat mencapai US$753,7 juta atau lebih dari Rp12 triliun.

Berdasarkan data SoSoValue, ETF milik Fidelity dengan ticker FBTC menjadi kontributor terbesar dalam arus masuk tersebut, dengan dana bersih mencapai US$351 juta atau sekitar Rp5,62 triliun. Produk ETF lain seperti Bitwise BITB dan BlackRock IBIT juga mencatat arus masuk signifikan, masing-masing sebesar US$159,42 juta (sekitar Rp2,55 triliun) dan US$126,27 juta (sekitar Rp2,02 triliun).

Arus dana ETF Bitcoin spot harian di AS. Sumber: SoSoValue

Tekanan beli yang berkelanjutan mendorong total aset bersih seluruh ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mendekati US$123 miliar atau sekitar Rp1.968 triliun. Angka ini setara dengan sekitar 6,5% dari total kapitalisasi pasar Bitcoin yang berada di kisaran US$1,89 triliun.

Baca juga: JPMorgan Prediksi Arus Dana Kripto Kembali Naik di 2026, Didorong Investor Institusi

Arus Dana ETF Jadi Penopang Pemulihan Harga Bitcoin

Penguatan arus dana tersebut terjadi seiring reli harga Bitcoin yang kembali bergerak di atas US$95.000 dan bahkan sempat mendekati level US$97.000. Sejak awal tahun, harga Bitcoin tercatat telah menguat sekitar 10%, menandai fase pemulihan setelah tekanan pasar pada kuartal terakhir 2025.

Analis Bloomberg Intelligence, Eric Balchunas, menilai arus dana ETF berpotensi menjadi penopang harga apabila tren ini berlanjut. Menurutnya, aliran dana yang konsisten ke ETF Bitcoin dapat memberikan dukungan struktural bagi pergerakan harga di tengah volatilitas pasar kripto.

“Jika arus dana ke ETF terus masuk seperti hari sebelumnya, kondisi ini akan sangat membantu pergerakan harga Bitcoin,” ujar Balchunas.

Reli terbaru ini juga mencerminkan perubahan sentimen pasar setelah periode tekanan pada akhir 2025. Produk ETF Bitcoin sempat mencatat arus keluar menyusul koreksi pasar kripto pada Oktober lalu, yang menyeret Bitcoin, Ethereum, dan sejumlah aset kripto lain. Tekanan tersebut membuat Bitcoin membukukan penurunan lebih dari 6% sepanjang 2025, menjadi penurunan tahunan pertama sejak 2022.

Reli harga yang membawa Bitcoin ke level tertinggi dalam dua bulan terakhir dinilai kembali membangkitkan minat investor institusional. Hingga artikel ini ditulis, Bitcoin tercatat stagnan sekitar 1% dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di atas US$96.000, berdasarkan data CoinMarketCap. Dalam sepekan, aset kripto terbesar di dunia ini telah mencatat kenaikan hingga 6%.

Grafik harian BTC/USD. Sumber: CoinMarketCap

Pemulihan harga di awal 2026 ini turut menghidupkan kembali minat investor, baik institusional maupun ritel, terhadap produk ETF yang menawarkan eksposur langsung ke pasar aset digital tanpa perlu menyimpan aset secara langsung.

Sentimen positif tersebut juga merembet ke pasar aset kripto yang lebih luas. Total kapitalisasi pasar kripto global tercatat naik sekitar 3,3% menjadi US$3,26 triliun atau setara Rp53.100 triliun. Sejumlah aset kripto utama seperti Ethereum, XRP, Solana, dan Dogecoin mencatatkan kenaikan di kisaran 2% hingga 6%.

Ethereum, sebagai aset kripto terbesar kedua, bahkan sempat menguat hingga 6% dalam satu hari dan telah naik sekitar 13% sejak awal tahun. Produk ETF Ethereum juga mencatat arus dana masuk sekitar US$130 juta atau setara Rp2 triliun dalam sesi perdagangan terbaru, menunjukkan bahwa minat investor tidak hanya terfokus pada Bitcoin.

Penguatan pasar turut didukung oleh optimisme terhadap draf rancangan undang-undang struktur pasar aset kripto di Amerika Serikat yang berpotensi memberikan kejelasan status regulasi bagi sejumlah altcoin.

Presiden ProChain Capital, David Tawil, menilai reli yang meluas ini mencerminkan perbaikan sentimen pasar secara keseluruhan. Meski demikian, ia menambahkan bahwa dalam jangka panjang Bitcoin berpotensi kembali bergerak lebih independen dibandingkan aset kripto lain maupun kelas aset tradisional, seiring penguatan posisinya sebagai aset digital utama.

Baca juga: Dana Kripto Global Catat Total Inflow Rp790 Triliun Sepanjang 2025