Michael Saylor

Michael Saylor Beri Sinyal Borong Bitcoin usai Harga Turun ke US$77.000

Chairman Strategy Michael Saylor kembali memberi sinyal akumulasi Bitcoin setelah harga aset kripto terbesar di dunia tersebut mengalami tekanan tajam sepanjang akhir pekan. Penurunan harga Bitcoin yang mencapai lebih dari 13 persen sempat membuat kepemilikan BTC Strategy berada di bawah harga rata-rata perolehan (cost basis), sebelum akhirnya kembali pulih.

“Lebih banyak Oranye,” tulis Saylor dalam unggahan di platform X pada Minggu (1/2/2026), disertai grafik akumulasi Bitcoin Strategy sejak 2020. Unggahan tersebut selama ini dikenal luas sebagai sinyal bahwa Strategy telah atau berencana kembali menambah kepemilikan Bitcoin.

Baca juga: Strategy Catat Kepemilikan 709.715 Bitcoin

Bitcoin Turun di Bawah Cost Basis Strategy

Bitcoin sempat merosot dari kisaran US$87.000 ke level terendah sejak April 2025 di area US$75.800. Tekanan harga ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pencalonan Kevin Warsh sebagai pengganti Jerome Powell di posisi Ketua Federal Reserve. Sentimen tersebut memicu aksi jual di pasar aset berisiko, termasuk kripto, saham, dan logam mulia.

Penurunan tersebut membuat harga Bitcoin sempat berada di bawah cost basis Strategy yang berada di kisaran US$76.040 atau sekitar Rp1,24 miliar. Namun, harga BTC kemudian rebound ke area US$76.700–78.000 atau sekitar Rp1,25–1,27 miliar.

Meski hanya berlangsung singkat, koreksi ini cukup signifikan mengingat Strategy saat ini mengelola lebih dari 712.647 BTC, menjadikannya perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia. Total nilai akumulasi Bitcoin Strategy diperkirakan mencapai lebih dari US$55 miliar atau setara Rp896 triliun.

Jika akumulasi ini dikonfirmasi, pembelian tersebut akan menjadi akuisisi Bitcoin kelima Strategy sepanjang 2026. Sebelumnya, Strategy mencatatkan pembelian terbesar tahun ini pada 20 Januari dengan total akumulasi mencapai 22.305 BTC.

Namun, kemampuan Strategy untuk melakukan pembelian besar dalam waktu dekat dinilai mulai terbatas. Sepanjang pekan lalu, saham Strategy (MSTR) tercatat turun sekitar 6 persen dan ditutup di bawah level US$150 per saham. Kondisi ini membatasi ruang perusahaan untuk menghimpun dana melalui skema at-the-market (ATM).

Selain itu, saham preferen perpetual Strategy, STRC, juga diperdagangkan di bawah nilai pari US$100 sepanjang pekan. Situasi tersebut membuat Strategy tidak dapat menerbitkan saham baru melalui ATM yang terhubung dengan instrumen tersebut, meskipun perusahaan telah menaikkan tingkat dividen untuk menopang harga saham preferen.

Baca juga: Strategy Michael Saylor Borong 2.932 Bitcoin Bernilai Rp4,4 Triliun