Bitcoin

Niat Kirim Bonus Rp23 Ribu, Exchange Korsel Ini Malah Transfer Bitcoin Rp740 Triliun ke Pengguna

Sebuah kesalahan input internal di exchange kripto Korea Selatan, Bithumb, memicu kekacauan pasar setelah ratusan pengguna secara tidak sengaja menerima saldo Bitcoin dalam jumlah masif. Insiden ini bahkan sempat menekan harga Bitcoin di platform tersebut hingga jauh di bawah harga pasar global.

Dalam keterangan resminya, Bithumb mengonfirmasi bahwa kesalahan terjadi saat perusahaan berencana membagikan hadiah kecil senilai 2.000 won Korea atau sekitar Rp23 ribu kepada 695 pengguna pada Jumat (6/2/2026). Namun akibat kesalahan distribusi internal, sistem justru mengkreditkan masing-masing akun dengan 2.000 BTC.

Kesalahan tersebut membuat ratusan pengguna mendadak terlihat memiliki saldo Bitcoin bernilai fantastis. Secara total, Bithumb menyebut sekitar 620.000 BTC senilai kurang lebih Rp740 triliun sempat tercatat di ratusan akun pengguna. Meski demikian, perusahaan menegaskan bahwa seluruh saldo tersebut tidak pernah berpindah secara on-chain dan hanya muncul di dalam buku besar internal exchange.

Baca juga: Bitcoin Ambruk hingga US$60.000, Analis Buka Risiko Turun ke US$38.000

Harga Bitcoin Sempat Anjlok di Bithumb

Dampak dari kesalahan ini langsung terasa di pasar. Sejumlah pengguna yang melihat saldo besar tersebut segera mencoba menjualnya, memicu tekanan jual tajam pada pasangan BTC/KRW di Bithumb.

Akibatnya, harga Bitcoin di platform tersebut sempat turun hingga sekitar 15,8 persen dibandingkan harga di exchang global lainnya. Pada satu titik, Bitcoin diperdagangkan di kisaran 81 juta won setara sekitar Rp933 juta sementara harga di exchange lain relatif stabil.

Bithumb menyatakan bahwa transaksi abnormal tersebut terdeteksi melalui sistem pengendalian internal. Exchange kemudian membatasi aktivitas perdagangan dan penarikan dana pada 695 akun terdampak dalam waktu sekitar 35 menit sejak insiden terjadi. Harga Bitcoin di platform tersebut diklaim kembali normal dalam waktu singkat.

“Kami dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan akibat kebingungan yang terjadi selama proses pembayaran dalam insiden ini. Dalam pelaksanaan insiden hari ini, sejumlah pelanggan menerima pembayaran Bitcoin dalam jumlah yang tidak wajar. Harga Bitcoin sempat berfluktuasi tajam secara sementara karena beberapa akun yang menerima Bitcoin tersebut langsung melakukan penjualan,” jelas Bithumb.

Perusahaan juga menegaskan bahwa sistem pencegahan likuidasi berantai berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga tidak terjadi dampak lanjutan yang lebih luas terhadap pasar.

Baca juga: Analis Sebut Bitcoin Berisiko Uji Level US$56.000 di Tengah Lemahnya Sentimen

Klaim Tak Ada Peretasan

Bithumb menegaskan bahwa insiden ini tidak berkaitan dengan peretasan eksternal maupun pelanggaran keamanan sistem. Aset pengguna disebut tetap aman dan tidak ada Bitcoin yang benar-benar keluar dari cadangan perusahaan.

“Kami ingin menegaskan bahwa insiden ini tidak terkait dengan peretasan eksternal atau masalah keamanan sistem, serta tidak memengaruhi pengelolaan aset pelanggan,” ujar Bithumb.

Perusahaan menyebut telah berhasil memulihkan sekitar 99,7 persen atau sekitar 618.212 BTC dari total saldo Bitcoin yang salah dikirimkan. Sebagai bentuk tanggung jawab, Bithumb berencana memberikan kompensasi sebesar 20.000 won atau sekitar Rp230.400 kepada seluruh pengguna yang aktif di platform saat kejadian, serta membebaskan biaya transaksi untuk periode tertentu.

CEO Bithumb, Lee Jae-won, menyatakan bahwa insiden ini menjadi pelajaran penting bagi perusahaan. Ia menegaskan bahwa ke depan Bithumb akan memprioritaskan kepercayaan dan keamanan pengguna dibandingkan ekspansi agresif.

Di sisi lain, Otoritas Pengawas Keuangan Korea Selatan (FSS) menggelar rapat darurat untuk meninjau insiden tersebut. Regulator menyatakan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut apabila ditemukan indikasi pelanggaran hukum.

Sebagai langkah lanjutan, Bithumb berencana memperketat sistem verifikasi internal serta mengadopsi teknologi kecerdasan buatan untuk mendeteksi transaksi abnormal secara lebih cepat.

Baca juga: 7 Prediksi Harga Bitcoin di 2026