Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan penguatan dan sempat menembus level US$75.000 pada perdagangan awal pekan. Kenaikan ini memperpanjang tren pemulihan yang telah berlangsung selama beberapa minggu terakhir, sekaligus kembali memicu optimisme di pasar aset kripto global.
Data CoinMarketCap pada Selasa (17/3/2026) menunjukkan harga Bitcoin bergerak naik dari kisaran US$72.000 hingga mencapai level tertinggi harian di US$75.959. Pergerakan tersebut mencerminkan kenaikan lebih dari 4 persen dalam 24 jam terakhir.

Penguatan ini juga didorong oleh lonjakan volume perdagangan harian yang meningkat hingga 98 persen menjadi sekitar US$58,9 miliar. Peningkatan aktivitas transaksi tersebut turut mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin naik hingga mencapai sekitar US$1,51 triliun.
Reli Bitcoin juga berdampak pada pergerakan pasar kripto secara keseluruhan. Ethereum (ETH) tercatat naik sekitar 8 persen ke level US$2.300. Sementara itu, BNB (BNB) dan Solana (SOL) masing-masing mencatat kenaikan moderat sekitar 1 persen hingga 3 persen. XRP (XRP) bahkan mengalami lonjakan sekitar 8 persen dalam periode yang sama.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar aset kripto global saat ini meningkat sekitar 4 persen dan mencapai US$2,58 triliun.
Baca juga: Harga Bitcoin Bertahan di US$72.000, Didukung Arus Dana ETF
Arus Masuk Institusi Kembali Meningkat
Salah satu pendorong utama kenaikan harga Bitcoin saat ini adalah meningkatnya kembali minat investor institusi. Data pasar menunjukkan bahwa arus dana ke produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat kembali mencatat inflow selama tiga minggu berturut-turut.
Secara keseluruhan, 12 ETF Bitcoin spot yang terdaftar di AS mencatat arus masuk bersih lebih dari US$767 juta dalam satu minggu terakhir. Kondisi ini menandakan bahwa kepercayaan investor institusi terhadap Bitcoin mulai pulih setelah volatilitas pasar yang terjadi pada awal tahun.

Selain ETF, permintaan dari perusahaan publik juga terus meningkat. Strategy, perusahaan yang dipimpin oleh Michael Saylor, baru saja membeli sekitar 22.337 BTC senilai US$1,57 miliar. Dengan pembelian tersebut, total kepemilikan Bitcoin perusahaan itu kini mencapai lebih dari 761.000 BTC.
Di Asia, perusahaan investasi asal Jepang Metaplanet juga mengumumkan penggalangan dana sekitar US$255 juta untuk memperkuat strategi akumulasi Bitcoin mereka.
Baca juga: Bitcoin Pulih ke US$71.000, Didorong Data Ekonomi AS yang Stabil
Ketegangan Geopolitik Mendorong Ketidakpastian Global
Kenaikan harga Bitcoin juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Situasi ini memicu ketidakpastian ekonomi global, termasuk lonjakan harga minyak yang sempat mendekati US$100 per barel. Dalam kondisi seperti ini, sebagian investor mulai mencari aset alternatif yang bersifat global dan tidak bergantung pada sistem keuangan tradisional.
Beberapa analis menilai bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai aset alternatif yang dapat digunakan untuk melindungi nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Baca juga: Bitcoin Pulih ke US$71.000, Didorong Data Ekonomi AS yang Stabil
Tekanan Jual dari Trader Jangka Pendek Mulai Habis
Analis juga melihat bahwa tekanan jual dari trader jangka pendek mulai menurun setelah periode koreksi yang terjadi sebelumnya. Banyak spekulan yang sebelumnya menjual Bitcoin telah keluar dari pasar sehingga tekanan jual berkurang.
Kondisi ini membuat struktur pasar menjadi lebih stabil. Ketika tekanan jual menurun dan permintaan mulai meningkat, harga Bitcoin cenderung lebih mudah mengalami kenaikan.
Baca juga: Strategis Bloomberg Prediksi Bitcoin Bisa Jatuh ke US$10.000
Investor Jangka Panjang Tetap Menahan Bitcoin
Data on-chain juga menunjukkan bahwa investor jangka panjang tetap mempertahankan kepemilikan Bitcoin mereka.
Mengutip Decrypt, indikator Bitcoin Days Destroyed, yang mengukur pergerakan Bitcoin lama yang sebelumnya tidak aktif, tercatat turun ke level terendah dalam hampir tiga tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pemegang Bitcoin lama memilih untuk tidak menjual aset mereka meskipun harga mulai naik.
Ketika pasokan Bitcoin yang beredar di pasar semakin terbatas, kenaikan permintaan dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap harga.
Baca juga: Negara Ini Terus Pindahkan Bitcoin, Total Outflow Rp718 Miliar di 2026
Faktor Teknikal di Area US$75.000
Selain faktor fundamental, pergerakan harga Bitcoin juga dipengaruhi oleh faktor teknikal di pasar derivatif dan opsi.
Data pasar menunjukkan adanya konsentrasi besar kontrak call di sekitar level US$75.000. Jika harga Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas area tersebut, tekanan beli berpotensi meningkat karena pelaku pasar yang menjual opsi kemungkinan harus membeli Bitcoin untuk menutup posisi mereka.
Jika momentum ini berlanjut, sejumlah analis menilai harga Bitcoin berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area US$80.000 yang sebelumnya menjadi salah satu level penting sebelum koreksi pasar kripto pada awal 2026.
Baca juga: Bitcoin Bisa Diuntungkan Jika Konflik AS–Iran Berlanjut, Ini Penjelasannya
