Protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi) Aave mengumumkan akan meluncurkan fitur perlindungan baru bernama Aave Shield setelah insiden transaksi yang menyebabkan seorang pengguna kehilangan lebih dari US$50 juta atau sekitar Rp845 miliar. Kerugian tersebut terjadi saat pengguna menukar stablecoin USDT dengan token AAVE melalui antarmuka Aave.
Insiden yang terjadi pada Kamis (12/3/2026) itu memicu evaluasi terhadap sistem swap di platform DeFi, khususnya terkait risiko likuiditas rendah dan dampak pergerakan harga yang ekstrem.
Baca juga: Trader Kripto Rugi Rp845 Miliar dalam Transaksi Swap di Aave
Fitur Aave Shield Untuk Mencegah Transaksi Berisiko
Dalam post mortem yang dirilis pada Sabtu (14/3/2026), tim Aave menjelaskan bahwa mereka akan segera menerapkan fitur keamanan baru bernama Aave Shield. Fitur ini dirancang untuk mencegah transaksi swap yang berpotensi menimbulkan dampak harga lebih dari 25 persen.
Melalui fitur tersebut, sistem akan secara otomatis memblokir transaksi yang dianggap terlalu berisiko. Pengguna tetap dapat melanjutkan transaksi, namun harus menonaktifkan perlindungan tersebut secara manual terlebih dahulu.
Aave menyatakan bahwa tujuan utama fitur ini adalah meningkatkan perlindungan bagi pengguna yang memanfaatkan layanan swap langsung dari antarmuka Aave.
Baca juga: Trust Wallet Tambah Fitur Baru untuk Cegah Pengguna Kirim Kripto ke Address Penipu
Kerugian Terjadi Akibat Likuiditas Rendah
Insiden bermula ketika seorang pengguna mencoba menukar USDT senilai US$50,4 juta atau sekitar Rp852 miliar menjadi token AAVE melalui decentralized exchange CoW Swap.
Namun, transaksi tersebut hanya menghasilkan sekitar US$36.500 atau sekitar Rp617 juta dalam bentuk token AAVE. Selisih yang sangat besar tersebut membuat pengguna kehilangan lebih dari US$50 juta.
Menurut penjelasan Aave, penyebab utama kerugian tersebut bukanlah slippage seperti yang sempat diperkirakan sebelumnya. Masalah utamanya adalah rendahnya likuiditas pasar yang menyebabkan dampak harga menjadi sangat ekstrem saat transaksi dieksekusi.
Selain itu, sebagian kerugian juga dipicu oleh aktivitas bot Maximal Extractable Value (MEV) yang melakukan sandwich attack terhadap transaksi tersebut. Bot tersebut dilaporkan memperoleh keuntungan hampir US$10 juta atau sekitar Rp169 miliar dari proses tersebut.
Tim Aave juga menegaskan bahwa sistem sebenarnya telah menampilkan beberapa peringatan sebelum transaksi dilakukan. Antarmuka platform memberikan notifikasi terkait “high price impact” serta peringatan bahwa transaksi dapat menghasilkan nilai lebih rendah akibat likuiditas yang terbatas.
Selain itu, pengguna juga diminta menyetujui pernyataan konfirmasi yang menyebutkan bahwa transaksi berpotensi menyebabkan kehilangan nilai hingga 100 persen.
Meski demikian, transaksi tetap dilanjutkan setelah pengguna menandatangani persetujuan tersebut.
Baca juga: Investor Gugat JPMorgan atas Dugaan Peran dalam Skema Ponzi Kripto
Masalah Infrastruktur Ikut Memperburuk Situasi
Tim pengembang CoW DAO, organisasi yang mengelola CoW Swap, juga memberikan penjelasan terkait penyebab teknis dari insiden tersebut.
Menurut mereka, selain masalah likuiditas, beberapa gangguan infrastruktur turut memperburuk kondisi transaksi. Salah satunya adalah layanan solver, yaitu sistem pihak ketiga yang bertugas mencari rute perdagangan terbaik.
Salah satu solver diketahui menggunakan batas gas yang sudah usang sehingga gagal mengirimkan penawaran harga yang lebih baik. Akibatnya, sistem hanya menampilkan opsi transaksi dengan harga yang jauh lebih buruk.
Selain itu, solver lain yang sebenarnya memiliki penawaran harga lebih murah juga tidak berhasil mengirimkan transaksi ke jaringan blockchain pada saat yang tepat.
CoW DAO juga mengungkapkan kemungkinan adanya kebocoran data transaksi di mempool yang turut memicu manipulasi oleh bot MEV.
Baca juga: Apa Itu Aave (LEND)? Panduan untuk Pemula dalam 3 Menit
