prediksi bitcoin

Harga Bitcoin Bertahan di US$72.000, Didukung Arus Dana ETF

Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat dan diperdagangkan di sekitar US$72.000 pada Senin (16/3/2026), setelah naik sekitar 2 persen dalam 24 jam terakhir. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya arus dana masuk ke produk ETF Bitcoin serta kondisi pasar global yang masih dipengaruhi ketegangan geopolitik.

Menurut data CoinMarketCap, Bitcoin sempat rebound dari level US$71.000 dan bertahan di kisaran US$72.700. Aset kripto terbesar di dunia ini bahkan sempat mencatat harga tertinggi harian di US$73.173 dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1,45 triliun.

Grafik BTC/USD harian. Sumber: CoinMarketCap

Penguatan ini tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama lainnya juga mencatat kenaikan harga. Ethereum (ETH) naik sekitar 4 persen ke level US$2.188. XRP (XRP) menguat sekitar 3 persen ke US$1,45, sementara Solana (SOL) naik sekitar 4 persen ke kisaran US$92.

Secara luas, kapitalisasi pasar kripto kini mencatat kenaikan 2 persen di US$2,47 triliun.

Baca juga: Bitcoin Pulih ke US$71.000, Didorong Data Ekonomi AS yang Stabil

Didorong Arus Dana ETF Kripto

Analis menilai kenaikan harga terbaru ini sebagian besar dipicu oleh kembalinya arus dana masuk ke produk exchange-traded fund (ETF) kripto pada pekan lalu.

Mengutip laporan The Block, Andri Fauzan Adziima, Research Lead di Bitrue, mengatakan bahwa penguatan Bitcoin didorong oleh beberapa faktor sekaligus. Di antaranya arus dana ETF spot, likuidasi posisi short yang memicu short squeeze, serta akumulasi dari investor besar ketika pasokan Bitcoin semakin terbatas setelah peristiwa halving.

“Bitcoin melonjak menuju US$73.000 didukung oleh arus masuk ETF spot yang kuat, likuidasi posisi short, serta akumulasi institusi dan whale ketika pasokan Bitcoin menjadi lebih ketat setelah halving,” ujarnya.

Sepanjang pekan lalu, ETF Bitcoin spot mencatat arus dana bersih positif selama lima hari perdagangan berturut-turut dengan total mencapai sekitar US$767,3 juta atau sekitar Rp13 triliun.

Arus dana ETF Bitcoin spot harian di AS. Sumber: SoSoValue

Sementara itu, ETF Ethereum spot juga mencatat arus dana bersih mingguan sekitar US$160,8 juta atau sekitar Rp2,7 triliun.

Baca juga: Strategis Bloomberg Prediksi Bitcoin Bisa Jatuh ke US$10.000

Narasi Emas Digital Kembali Menguat

Kenaikan harga Bitcoin terjadi di tengah ketidakpastian global yang masih dipicu konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan di kawasan Timur Tengah tersebut turut memicu volatilitas di pasar energi global.

Harga minyak mentah tercatat bergerak di sekitar US$98 per barel atau sekitar Rp1,66 juta. Kenaikan volatilitas ini dipicu kekhawatiran terhadap potensi penutupan Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.

Dalam situasi seperti ini, Bitcoin kembali menunjukkan narasi sebagai “emas digital” atau digital gold yang sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian makroekonomi.

Menurut Adziima, kenaikan harga saat ini lebih mencerminkan relief bounce dari level terendah di kisaran US$60.000, bukan konfirmasi dimulainya reli bullish jangka panjang.

“Kenaikan ini terlihat seperti relief bounce yang solid dari posisi terendah di pertengahan US$60.000. Namun, untuk mengonfirmasi reli bullish yang lebih panjang, pasar masih membutuhkan momentum lanjutan,” jelasnya.

Baca juga: Negara Ini Terus Pindahkan Bitcoin, Total Outflow Rp718 Miliar di 2026

Level Kunci Menuju Potensi Reli

Pandangan serupa juga disampaikan oleh analis Zeus Research, Dominick John. Ia menilai bahwa penembusan yang jelas di atas US$75.000 berpotensi membuka jalan bagi kelanjutan tren bullish yang lebih kuat.

Selain faktor teknikal, pasar juga mulai memperhatikan aktivitas akumulasi dari investor besar. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pembelian Bitcoin dalam jumlah besar oleh perusahaan Strategy yang baru saja menambah kepemilikan sekitar 17.994 BTC.

Min Jung, Associate Researcher di Presto Research, mengatakan bahwa aktivitas pembelian besar seperti ini dapat menjadi salah satu indikator penting bagi sentimen pasar.

Ke depan, para trader diperkirakan akan memantau perkembangan kondisi makro global, situasi geopolitik, serta apakah investor institusi akan terus menambah akumulasi Bitcoin dalam beberapa waktu mendatang.

Baca juga: Bitcoin Bisa Diuntungkan Jika Konflik AS–Iran Berlanjut, Ini Penjelasannya