bitcoin

Bitcoin Dekati US$70.000 di Tengah Tekanan Global, Ini Pendorongnya

Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, kembali mencatat penguatan signifikan pada awal pekan ini. Harga Bitcoin melonjak hampir 4 persen dan sempat mendekati level US$70.000 setelah sebelumnya tertekan akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (3/3/2026) pagi, harga Bitcoin naik dari kisaran US$66.000 ke level tertinggi harian di US$70.044. Setelah itu, harga mengalami koreksi tipis ke US$69.011 saat artikel ini ditulis.

Grafik BTC/USD harian. Sumber: CoinMarketCap

Kenaikan ini diiringi lonjakan volume perdagangan sekitar 35 persen. Kapitalisasi pasar Bitcoin pun kembali pulih ke kisaran US$1,37 triliun.

Tidak hanya Bitcoin, sejumlah aset kripto lain juga ikut menguat. Ethereum (ETH) naik sekitar 3 persen ke level US$2.044. BNB dan Solana masing-masing menguat 2 persen, sementara XRP naik sekitar 1 persen. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global meningkat sekitar 2 persen ke level US$2,36 triliun.

Baca juga: Bitcoin Bergerak Naik Usai Kabar Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran

Data PMI AS Jadi Katalis Positif

Mengutip Cointelegraph, penguatan harga Bitcoin juga terjadi bersamaan dengan rilis data Manufacturing Purchasing Managers Index atau PMI dari Institute for Supply Management (ISM) di Amerika Serikat.

PMI manufaktur tercatat berada di atas level 50, yang menandakan sektor industri kembali memasuki fase ekspansi setelah hampir tiga tahun mengalami kontraksi. Secara historis, data PMI yang membaik sering berkorelasi positif dengan pergerakan harga Bitcoin karena mencerminkan perbaikan aktivitas ekonomi dan meningkatnya sentimen terhadap aset berisiko.

Menariknya, ketika pasar saham Amerika Serikat tertekan akibat ketidakpastian geopolitik dan kondisi makroekonomi, Bitcoin justru menunjukkan pergerakan berbeda dengan mendekati level US$70.000. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar mulai kembali melihat Bitcoin sebagai alternatif eksposur risiko di tengah ketidakpastian pasar tradisional.

Baca juga: Konflik AS-Iran Memanas, Begini Dampaknya ke Harga Bitcoin

Reli Dipicu Short Squeeze?

Adapun berdasarkan laporan CoinDesk, Chief Investment Officer Risk Dimensions, Mark Connors, menilai bahwa kenaikan ini lebih dipicu oleh pembersihan posisi short atau short squeeze di tengah gejolak makro global.

Menurut Connors, serangan terhadap Iran memicu penyesuaian portofolio secara besar-besaran di berbagai kelas aset. Dalam situasi tersebut, sebagian investor melakukan reposisi, termasuk kembali masuk ke aset berisiko seperti Bitcoin. Selain itu, arus keluar dari ETF spot Bitcoin yang sebelumnya terjadi dalam beberapa pekan terakhir mulai melambat dan bahkan berbalik arah.

Secara sederhana, short squeeze terjadi ketika trader yang sebelumnya bertaruh harga akan turun terpaksa menutup posisi mereka karena harga justru naik. Untuk menutup posisi tersebut, mereka harus membeli kembali Bitcoin, sehingga tekanan beli meningkat dan harga terdorong naik lebih cepat.

Meski demikian, Connors menegaskan bahwa reli ini belum bisa dianggap sebagai sinyal kuat kembalinya tren menuju US$100.000, maupun penembusan level resistance penting di US$75.000. Tanpa dukungan permintaan spot yang kuat dan berkelanjutan, kenaikan ini berpotensi kehilangan momentum.

Baca juga: Indeks Kripto Kembali Anjlok, Bitcoin Terseret ke US$64.000 di Tengah Tekanan Global

Apakah Ini Awal Pemulihan Harga Bitcoin?

Walaupun Bitcoin berhasil kembali ke atas level US$69.000, sejumlah analis menilai area tersebut baru menjadi rintangan awal. Untuk memastikan pemulihan yang lebih solid, harga Bitcoin perlu bertahan di atas level tersebut dan menunjukkan peningkatan permintaan nyata di pasar spot.

Beberapa pengamat juga melihat kemiripan pola pergerakan saat ini dengan fase pasar bearish tahun 2022. Artinya, meskipun ada sinyal kenaikan jangka pendek, risiko dari ketegangan geopolitik, ketidakpastian tarif perdagangan, serta dinamika politik global masih dapat menjadi tekanan tambahan bagi pasar kripto.

Dengan kata lain, kenaikan harga Bitcoin kali ini memang memberi sentimen positif. Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati apakah reli ini didukung oleh fundamental yang kuat atau hanya dorongan sementara dari faktor teknikal dan likuidasi posisi derivatif.

Baca juga: Pasar Kripto Rebound, Bitcoin Kembali Tembus US$69.000