harga bitcoin anjlok karena konflik timur tengah

Konflik AS–Iran Memanas Berpotensi Perang Dunia III, Bitcoin Akan Terbang atau Tumbang?

Menurut laporan Axios pada 18 Februari 2026, ada indikasi kuat bahwa perang antara AS–Iran bisa segera terjadi, dan Israel disebut sedang menyiapkan skenario perang dalam beberapa hari ke depan:

  1. Perang besar kemungkinan terjadi dan jika dilancarkan diperkirakan akan berlangsung berminggu-minggu, bukan aksi kecil seperti di Venezuela.
  2. AS dan Israel diperkirakan akan bekerjasama dalam kampanye militer yang lebih luas daripada perang sebelumnya selama 12 hari pada Juni 2025.
  3. Militer AS sudah dikerahkan besar-besaran, termasuk dua kapal induk, 12 kapal perang, ratusan jet tempur, dan sistem pertahanan udara di Timur Tengah.
  4. Lebih dari 150 penerbangan kargo militer AS membawa senjata dan amunisi ke kawasan dalam waktu dekat.
  5. Dalam 24 jam terakhir, sekitar 50 jet tempur tambahan (termasuk F-35, F-22, F-16) juga dikirim.

Harga minyak melonjak 5% ke kisaran $65/barel setelah berita ini.

Gambar: Harga minyak menunjukkan kenaikan. Sumber: TradingView

Baca juga: Bitcoin Ambruk ke US$100.000 Imbas Serangan AS ke Iran

Kenapa Harga Minyak Bisa Melonjak?

Iran merupakan salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia, juga berada di kawasan selat hormuz yang merupakan rute pengiriman utama minyak dunia. Jika selat hormuz ditutup karena tensi perang meningkat, pasokan minyak global bisa terhambat dan minyak bisa menjadi langka.

Sesuai dengan hukum supply-demand (penawaran-permintaan):

  • Jika supply turun & demand tetap, maka harga naik
  • Jika supply naik & demand tetap maka harga turun

Baca juga: Inflasi dan Harga Minyak Naik Bitcoin Malah Turun, Apa Hubungannya?

Hubungannya Dengan Bitcoin?

Umumnya, minyak dan Bitcoin memiliki korelasi tidak langsung melalui Dolar AS.

  • Dolar AS kuat -> BTC tertekan
  • Dolar AS lemah -> BTC menguat

Ketika harga minyak naik akibat gangguan supply minyak, ketidakpastian global biasanya meningkat. Kondisi ini mendorong investor masuk ke mode risk-off dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti Dolar AS, sehingga Bitcoin berpotensi mengalami tekanan jangka pendek.

Reaksi Bitcoin Saat Konflik Memanas

Secara historis, Bitcoin cenderung mengalami tekanan ketika ketegangan geopolitik meningkat dan pasar masuk ke mode risk-off. Investor biasanya berpindah ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas.

Kondisi serupa pernah terjadi pada Juni 2025, ketika militer AS menyerang Iran dan Iran mengancam menutup Selat Hormuz. Saat itu, Bitcoin turun sekitar 6%, sementara Ethereum anjlok hingga 16% akibat kepanikan pasar global.


Tensi geopolitik bisa berubah sangat cepat. Hari ini terlihat memanas, besok bisa saja mereda. Pasar bisa bereaksi agresif di awal, lalu berbalik arah ketika situasi mereda.

Bitcoin juga dipengaruhi oleh banyak variabel selain konflik, termasuk data ekonomi dan likuiditas global.

Baca juga: Hacker Kembalikan Bitcoin Bernilai Rp360 Miliar yang Dicuri dari Pemerintah Korea Selatan