bitcoin

Bitcoin Anjlok Lagi, Turun di Bawah US$67.000

Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, kembali mengalami tekanan dan turun di bawah level psikologis US$67.000 pada perdagangan Rabu (11/2/2026). Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap prospek kebijakan moneter Amerika Serikat yang dinilai semakin hawkish.

Berdasarkan data CoinMarketCap, harga Bitcoin turun dari kisaran US$69.000 ke level terendah harian di US$66.500, dengan koreksi lebih dari 3 persen dalam 24 jam terakhir. Seiring pelemahan tersebut, kapitalisasi pasar Bitcoin ikut menyusut menjadi sekitar US$1,33 triliun.

Grafik harian BTC/USD. Sumber: CoinMarketCap

Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Ethereum (ETH) turun hampir 4 persen ke level US$1.939, sementara XRP (XRP) dan BNB (BNB) masing-masing terkoreksi sekitar 4 persen dan 6 persen. Solana (SOL) juga melemah sekitar 4 persen. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global turun lebih dari 3 persen menjadi sekitar US$2,28 triliun.

Secara historis, Februari cenderung menjadi bulan yang positif bagi Bitcoin. Namun hingga pertengahan Februari 2026, performa bulanan Bitcoin telah mencatat penurunan sekitar 14 persen, hampir menyamai kinerja negatif pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejak 2013, Februari hanya tiga kali ditutup di zona merah. Jika tren pelemahan berlanjut, bulan ini berpotensi menjadi salah satu Februari terburuk dalam sejarah Bitcoin.

Return Bitcoin secara historis. Sumber: CoinGlass

Baca juga: Bitcoin Ambruk hingga US$60.000, Analis Buka Risiko Turun ke US$38.000

Sentimen Hawkish The Fed Picu Tekanan

Sejumlah analis menilai pelemahan pasar kripto kali ini dipicu oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan makroekonomi Amerika Serikat. Penunjukan Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua Federal Reserve dinilai sebagai sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat atau hawkish.

Mengutip laporan Cointelegraph, Andri Fauzan Adziima, Research Lead di Bitrue, menyatakan bahwa pasar merespons perubahan ekspektasi tersebut sebagai indikasi likuiditas yang lebih ketat serta potensi pemangkasan suku bunga yang lebih terbatas ke depan.

“Trader kini mencermati area support di kisaran US$60.000–US$65.000 sebagai zona stabilisasi. Tanpa adanya pelonggaran makro atau katalis positif baru, potensi pemulihan harga masih terbatas,” ujarnya.

Sementara itu, menurut The Block, Vincent Liu, CIO Kronos Research, menambahkan bahwa data derivatif menunjukkan telah terjadi proses deleveraging signifikan di exchange kripto. Penurunan funding rate mengindikasikan sebagian besar posisi leverage berlebihan telah tersapu dari pasar.

Namun demikian, investor institusional dinilai masih menahan diri dan menunggu katalis yang lebih jelas sebelum kembali masuk dalam skala besar. Beberapa faktor yang dinantikan antara lain momentum berkelanjutan pada ETF spot Bitcoin dan Ethereum, rilis data makroekonomi AS terbaru, serta kejelasan arah kebijakan suku bunga.

Baca juga: Bitcoin Turun ke US$87.000, Tertekan Gejolak Pasar Global

Arus Masuk ETF Masih Positif

Di tengah tekanan harga, ETF spot Bitcoin justru mencatat arus masuk bersih sebesar US$166,5 juta pada Selasa, meningkat dibandingkan hari sebelumnya sebesar US$145 juta. ETF spot Ethereum juga mencatat arus masuk, meski lebih kecil, yakni US$13,8 juta.

Data tersebut menunjukkan minat institusional belum sepenuhnya surut, meskipun pasar secara keseluruhan masih bergerak dalam sentimen hati-hati.

Di sisi teknikal, analis memperingatkan bahwa level US$69.000 kembali menjadi zona krusial yang sulit ditembus. Bitcoin sempat menyentuh level terendah mingguan di kisaran US$66.500 setelah area US$70.000 gagal menjadi support kuat.

Sejumlah analis menilai tekanan beli saat ini belum cukup kuat untuk mendorong harga menembus resistance historis tersebut secara berkelanjutan. Bahkan, sebagian trader masih memperkirakan kemungkinan koreksi lebih dalam hingga ke level US$50.000 apabila sentimen makro global terus memburuk.

Baca juga: 7 Prediksi Harga Bitcoin di 2026