bitcoin

Bitcoin Jebol ke US$71.000, Tekanan Global Seret Pasar Kripto

Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, kembali berada di bawah tekanan setelah turun ke level US$71.000, terendah sejak November 2024. Pelemahan ini menandai lanjutan koreksi tajam sepanjang pekan ini, di tengah kombinasi tekanan geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter, serta arus keluar dana institusional.

Menurut data CoinMarketCap pada Kamis (5/2/2026), harga Bitcoin terus merosot dari kisaran US$76.000 ke level terendah harian di sekitar US$71.800, mencatat penurunan hingga 5 persen dalam 24 jam terakhir. Kondisi tersebut mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin menyusut hingga sekitar US$1,44 triliun.

Grafik harian BTC/USD. Sumber: CoinMarketCap

Tekanan berlanjut setelah Bitcoin menembus level psikologis US$73.000 pada Selasa lalu, sekaligus mencatat harga terendah dalam sekitar 16 bulan dan mendekati level sebelum pemilu presiden Amerika Serikat. Dalam catatan yang dirilis Citi, analis menilai area US$70.000 sebagai level krusial yang perlu dicermati seiring semakin dalamnya tren pelemahan harga.

Koreksi Bitcoin turut menyeret aset kripto utama lainnya. Ethereum (ETH) tercatat anjlok sekitar 6 persen ke kisaran US$2.100, sementara BNB dan XRP masing-masing turun sekitar 8–9 persen. Di sisi lain, Solana (SOL) melemah sekitar 7 persen. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar aset kripto global turun sekitar 5 persen ke level US$2,44 triliun.

Tekanan di pasar juga tercermin pada sektor derivatif. Data CoinGlass menunjukkan lebih dari US$700 juta posisi kripto, baik long maupun short, terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Bitcoin dan Ethereum masing-masing mencatat likuidasi kripto terbesar dalam sehari.

Total likuidasi kripto harian. Sumber: CoinGlass

Baca juga: Analis Sebut Bitcoin Berisiko Uji Level US$56.000 di Tengah Lemahnya Sentimen

Sentimen Global dan Arus Keluar Institusional Tekan Bitcoin

Tekanan terhadap Bitcoin terjadi di tengah memburuknya sentimen global. Investor tercatat mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa menyusul langkah kontroversial Presiden AS Donald Trump terkait Greenland. Situasi tersebut diperparah oleh berakhirnya sebagian penutupan pemerintahan AS yang sempat menunda rilis sejumlah data ekonomi penting.

Pelemahan Bitcoin di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kembali memunculkan perdebatan terkait narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai atau digital gold. Dalam periode ketidakpastian global yang juga diwarnai volatilitas harga emas dan perak, Bitcoin justru gagal menarik minat sebagai aset aman.

Di sisi lain, pasar turut merespons ekspektasi perubahan arah kebijakan moneter AS setelah Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve pada akhir Januari. Selain itu, perlambatan pembentukan kerangka regulasi yang lebih ramah terhadap industri kripto di AS dinilai ikut membebani sentimen pasar.

Arus keluar dana institusional menjadi faktor tambahan yang menekan harga. Dalam laporan terpisah, analis Deutsche Bank mencatat bahwa ekspektasi koreksi lanjutan mendorong institusi besar menarik dana, sehingga likuiditas Bitcoin semakin menipis. Kondisi ini memperbesar tekanan jual di pasar spot maupun derivatif.

Tekanan tersebut juga tercermin pada produk investasi berbasis Bitcoin. Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar signifikan sejak gelombang likuidasi besar posisi leverage pada Oktober 2025. Sepanjang Januari 2026, total arus keluar ETF Bitcoin tercatat melampaui US$3 miliar atau sekitar Rp48 triliun. Sebelumnya, arus keluar mencapai sekitar US$2 miliar pada Desember dan sekitar US$7 miliar pada November.

Dampak koreksi Bitcoin turut menjalar ke pasar saham terkait kripto. Strategy, perusahaan yang dikenal sebagai treasury Bitcoin, tercatat melemah sekitar 5 persen. Sementara itu, saham perusahaan penambangan Bitcoin seperti Riot Platforms dan MARA Holdings anjlok hampir 11 persen dalam satu sesi perdagangan.

Baca juga: Bitcoin Jatuh ke US$75.000, Hapus Total Kenaikan Pasca Kemenangan Trump