bitcoin

Analis Sebut Bitcoin Berisiko Uji Level US$56.000 di Tengah Lemahnya Sentimen

Bitcoin berpotensi melanjutkan tren pelemahannya dalam beberapa pekan ke depan, seiring minimnya katalis yang mampu mendorong pemulihan harga. Hal ini disampaikan Head of Research Galaxy Digital, Alex Thorn, yang menilai bahwa faktor pendorong kenaikan Bitcoin saat ini masih sulit ditemukan.

Dalam catatan yang dirilis pada Senin (2/2/2026), Thorn menyebut terdapat peluang signifikan Bitcoin turun ke area US$70.000 untuk mengisi celah pasokan (supply gap) yang masih terbuka. Jika tekanan jual berlanjut, harga Bitcoin bahkan berpotensi menguji realized price di kisaran US$56.000 yakni harga rata-rata akumulasi seluruh Bitcoin yang beredar di pasar.

Menurut Thorn, tekanan tersebut diperparah oleh lemahnya narasi pasar yang mendukung Bitcoin. Ia menyoroti kegagalan Bitcoin untuk bergerak seiring dengan emas dan perak sebagai instrumen lindung nilai terhadap pelemahan nilai mata uang. Kondisi ini membuat sentimen pasar terhadap Bitcoin cenderung defensif.

Dari sisi pergerakan harga, Bitcoin sempat mencatatkan penurunan sekitar 3 persen dan diperdagangkan di bawah US$76.000 setelah bangkit dari level terendah sembilan bulan terakhir. Adapun, secara keseluruhan harga Bitcoin masih terkoreksi sekitar 39 persen dari rekor tertingginya di atas US$126.000 yang tercatat pada awal Oktober, berdasarkan data CoinMarketCap.

Grafik harga BTC/USD mingguan. Sumber: CoinMarketCap

Thorn menjelaskan bahwa secara historis, Bitcoin kerap diperdagangkan di bawah realized price pada fase akhir pasar bearish. Namun, level tersebut biasanya menjadi area penopang harga sebelum Bitcoin kembali bergerak naik.

Selain itu, Thorn menyoroti peran 200-week moving average sebagai level dukungan penting. Dalam tiga siklus bull market sebelumnya, Bitcoin tercatat menemukan dukungan kuat di sekitar rata-rata pergerakan 200 minggu setelah harga jatuh di bawah 50-week moving average. Saat ini, 200-week moving average Bitcoin berada di kisaran US$58.000 atau sekitar Rp928 juta.

“Level-level ini secara historis kerap menandai titik dasar siklus dan menjadi area masuk yang kuat bagi investor jangka panjang,” ujar Thorn.

Baca juga: 7 Prediksi Harga Bitcoin di 2026

Sinyal dari Perilaku Pemegang Jangka Panjang

Dari sisi perilaku investor, Thorn menilai belum terlihat adanya akumulasi signifikan dari pembeli besar maupun pemegang jangka panjang. Kondisi ini berpotensi menekan harga, karena mengindikasikan sebagian investor memilih menunggu level yang lebih rendah sebelum kembali masuk ke pasar.

Namun, di sisi lain, Thorn mencatat bahwa aksi ambil untung (profit taking) dari pemegang jangka panjang mulai melambat secara signifikan. Penurunan tekanan jual ini dinilai sebagai sinyal positif, meski masih ada kemungkinan sebagian pemegang jangka panjang menunggu harga lebih tinggi untuk menjual, yang berpotensi menciptakan resistansi tambahan.

“Meski demikian, penurunan realisasi keuntungan dari pemegang jangka panjang merupakan sinyal penting bahwa pasar mungkin sedang mendekati titik dasar,” jelasnya.

Sementara itu, perhatian pelaku industri kripto juga tertuju pada Senat Amerika Serikat, yang tengah membahas rancangan undang-undang struktur pasar kripto untuk memperjelas kerangka regulasi sektor ini. Meski berpotensi menjadi katalis eksternal jangka pendek, Thorn menilai peluang pengesahan regulasi tersebut semakin menipis dalam beberapa pekan terakhir.

Kurangnya dukungan bipartisan serta belum dijadwalkannya kembali pertemuan Komite Perbankan Senat menjadi faktor utama meredupnya momentum pembahasan regulasi tersebut. Bahkan jika regulasi berhasil disahkan, Thorn menilai dampak positifnya cenderung lebih besar bagi altcoin dibandingkan Bitcoin.

“Setiap sentimen positif dari pengesahan regulasi kemungkinan akan lebih menguntungkan altcoin ketimbang Bitcoin,” pungkasnya.

Baca juga: Harga Bitcoin Jatuh ke US$81.000, Ada Apa?