bitcoin

Harga Bitcoin Berpotensi Tertahan di US$75.000–US$85.000, Ini Alasannya

Harga Bitcoin (BTC) berpotensi menghadapi tekanan di kisaran US$75.000 hingga US$85.000 jika tren kenaikan berlanjut. Hal ini diungkapkan oleh firma analitik on-chain CryptoQuant dalam laporan terbarunya menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Di sisi lain, sentimen pasar mulai menunjukkan pergeseran ke arah positif, terutama di pasar derivatif. Para trader dinilai semakin optimistis terhadap pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek, seiring meningkatnya aktivitas beli di pasar futures.

Baca juga: Bitcoin Melonjak ke US$75.000, Didorong Faktor Ini

Sentimen Bullish Menguat di Pasar Futures

Mengutip laporan The Block, CryptoQuant mencatat bahwa trader mulai meningkatkan posisi long di pasar perpetual futures, yang menunjukkan ekspektasi kenaikan harga dalam waktu dekat. Kondisi ini juga diperkuat oleh meningkatnya funding rate yang kini kembali berada di zona positif.

Sebelumnya, funding rate sempat berada di level sangat negatif hingga 13 Maret, namun berbalik menjadi positif sejak 15 Maret. Hal ini menunjukkan bahwa trader kini bersedia membayar biaya tambahan untuk mempertahankan posisi long, yang mencerminkan kepercayaan terhadap potensi kenaikan harga.

Selain itu, rasio buy dan sell di pasar futures juga menunjukkan dominasi pembeli. Volume pembelian tercatat lebih tinggi dibandingkan volume penjualan, menandakan bahwa pelaku pasar saat ini lebih banyak berspekulasi terhadap kenaikan harga Bitcoin, setidaknya dalam jangka pendek.

CryptoQuant juga mencatat bahwa likuidasi terhadap posisi short meningkat setelah harga Bitcoin menembus level US$70.000. Pada saat yang sama, banyak posisi long baru dibuka di atas US$73.000, memperkuat dominasi sentimen bullish di pasar.

Baca juga: Harga Bitcoin Bertahan di US$72.000, Didukung Arus Dana ETF

Level Resistance Penting Bitcoin

Meski tren kenaikan masih berlangsung, CryptoQuant memperingatkan bahwa Bitcoin berpotensi menghadapi resistance di beberapa level kunci.

“Jika Bitcoin terus mengalami kenaikan, maka kemungkinan akan menghadapi resistance pertama di level US$75.000. Level ini merupakan batas bawah dari indikator Traders’ On-chain Realized Price, yang secara historis sering menjadi area resistance dalam kondisi pasar bearish,” ujar Head of Research CryptoQuant, Julio Moreno.

Sementara itu, resistance berikutnya berada di kisaran US$85.000. Level ini sebelumnya juga sempat menjadi penghalang pergerakan harga pada pertengahan Januari 2026, saat Bitcoin mengalami reli dari US$80.000 hingga mendekati US$98.000.

Baca juga: Metaplanet Raih Dana Rp4,3 Triliun untuk Akumulasi Bitcoin

Lonjakan Arus Masuk ke Exchange Picu Tekanan Jual

Di sisi lain, terdapat sinyal yang perlu diwaspadai oleh pelaku pasar. Kenaikan harga Bitcoin justru diikuti oleh lonjakan arus masuk BTC ke exchange, yang sering kali menjadi indikasi potensi tekanan jual.

Pada 16 Maret, arus masuk Bitcoin ke exchange tercatat mencapai 6.100 BTC dalam satu jam, level tertinggi sejak 20 Februari. Sekitar 63 persen dari total inflow tersebut berasal dari transaksi besar, yang umumnya dilakukan oleh investor institusional atau pemegang aset dalam jumlah signifikan.

Lonjakan transfer dalam jumlah besar ini berpotensi meningkatkan tekanan jual di pasar, terutama jika investor mulai melakukan aksi ambil untung setelah reli harga.

Hingga artikel ini ditulis, Bitcoin stagnan diperdagangkan di kisaran US$74.000 dengan kapitalisasi pasar berkisar di US$1,48 triliun, menurut data CoinMarketCap.

Baca juga: Rutin Borong, Strategy Kini Punya 761.068 Bitcoin